Perjuangan
seperti apa yang bisa dilakukan
Dalam
keadaan terkucil seperti ini.
Sulit
rasanya menemukan lawan bicara di sini (Ende)
Dialog
Baim Wong kala memerankan tokoh Soekarno dalam film Ketika Bung di
Ende

Akhir
Desember 2013 menjelang pergantian tahun aku bersama rekan-rekan guru
SM-3T (Sarjana Mendidik Terluar, Teringgal dan Terdepan) menyambangi
situs rumah pengasingan Bung Karno di Kota Ende. Lokasi ini tidak
terlalu jauh dari pusat kota, situs ini tepatnya berada di jalan
perwira, Kelurahan Kota Raja, Kecamatan Ende Utara. Dari pusat kota
Ende menuju ke Rumah Bung Karno dapat ditempuh dengan berjalan kaki
atau menggunakan jasa antar ojek maupun angkutan umum.
Sebenarnya
keinginanku menyambangi rumah pengasingan ini didorong oleh rasa
ingin tahu bagaimana kehidupan Soekarno yang diasingkan di tempat
terasing. Di rumah yang sebenarnya dimiliki oleh Haji Abdullah
Abuwaru disewa oleh Soekarno yang membutuhkan tempat tinggal selama
pengasingan bersama Inggit (istri), Ratna Juami (anak angkat), dan
Amsih (Mertua Soekarno).
Sampai saat ini rumah ini masih berdiri kokoh dengan khas
arsitekturnya yang tidak mengubah bentuk aslinya.
Kami
mengijakan kaki di depan pagar seusai turun dari angkutan kota dari
pasar ende. Tampak dari luar, rumah ini tidak terlalu besar untuk
dikatakan sebagai sebagai sebuah istana yang bertingkat,
kesederhanaan rumah dengan cat putih di dinging dan halamannya yang
hijau menampakan keasrian di sekitarnya. Mantap dengan keindahan
rumah di luar pagar kami hendak memasuki rumah tersebut. Namun muncul
guratan kekecewaan ketika mendapati pintu pagar rumah Bung Karno yang
terkunci. Kami tidak menemukan penjaga khusus layaknya museum.
Seolah
tidak ingin putus asa kami pun menanyakan perihal rumah Bung Karno ke
sebuah toko yang berada di samping situs rumah Bung Karno.
“oh…sebentar
e petugasnya segera datang…”
ujar seorang ibu paruh baya yang biasa di panggil mama’e
berteriak lantang memanggil seseorang.
“kunci…kunci
ada orang mau masuk…”
teriaknya
Tampak
seorang lelaki dengan langkah setengah berlari mendekati kami. Ia
tersenyum ramah sembari menyilahkan kami untuk masuk ke Rumah Bung
Karno, tentunya dengan pintu pagar yang telah ia buka.
Usai
melakukan registrasi seadanya, salah satunya menulis buku tamu di
pintu masuk kami dipersilahkan masuk dan berkeliling melihat isi dari
bekas rumah di Bung Karno ini. Ruangan yang besar ini tampak rapi
dengan segala benda yang mengingatkan tentang masa-masa saat Soekarno
berada di Ende. Dan kami memiliki banyak waktu berkeliling memuaskan
dahaga rasa penasaran terhadap apa yang di dalam rumah Bung Karno.
***

Seperti
pada awal tulisan, aku menyambangi situs rumah Bung Karno untuk
melihat titik awal dimana ia menemukan gagasan tentang Indonesia yang
luas. Sebuah rumah yang sederhana untuk orang besar seperti
Soekarno. Rumah seluas 742,6 m2
yang memiliki dua bangunan utama dengan ukuran yang berbeda yakni 11
x 9 m2
dan 12 x 3 m2
dan
beberapa ruangan. Ketika memasuki bangunan rumah yang telah dipugar
ulang tahun 2009 ini kami menikmati berbagai dokumentasi baik berupa
foto, tulisan bahkan benda tertata baik tersedia untuk dinikmati oleh
pencinta nostalgia.
Pandanganku
tiba-tiba tertarik untuk memandang sebuah foto yang dibingkai cukup
besar yang tergantung di dinding. Lelaki dewasa yang mengenakan
sebuah peci berwarna hitam, memakai jas putih dengan ditambah dasi
berwarna hitam, ia tampak gagah. Tidak jauh dari bingkai foto ini aku
melihat sebuah kotak kaca yang berbentuk persegi yang berisi sebuah
benda panjang yang melengkung. Sebuah tongkat yang dulunya menemani
Soekarno guna berjalan-jalan menyapa orang, mengumpulkan massa, dan
menyerukan kemerdekaan.
“Merdeka
bung” ujarku dalam hati.
Sembari
melihat foto-foto dokumentasi tentang kehidupan Founding
Father
selama di Ende aku mencoba untuk menyelami sebuah jiwa zaman
(zeitgeist)
dari kepahitan Soekarno. Merasakan kesepian ketika berada di tanah
Flores. Suasana sangat berbeda antara Jawa dan Flores pada masa awal
pergerakan nasional, awal abad 20. Di Jawa Soekarno berperan sebagai
pemimpin dan singa podium, ia terbiasa berhadapan dan berinteraksi
dengan banyak orang. Berbeda besar dengan Ende, statusnya sebagai
tahanan politik semakin menjauhkannya dari massa. Perbedaan itu juga
terlihat dari segi jumlah penduduk tahun 1934 dimana Ende saat itu
berjumlah penduduk 5000 jiwa, jauh berbeda dengan penduduk Batavia di
tahun yang sama telah mencapai lebih dari 30.000 jiwa. Kesulitan ini
semakin besar ketika ia dikucilkan dari masyarakat sekitar hanya
karena dianggap sebagai orang yang berbahaya (interniran).
Namun
Soekarno tetaplah seorang Soekarno, empat tahun selama di Ende telah
membentuk sang singa podium yang tak ingin kehilangan podiumnya. Jika
memang tidak harus dia berada di garis terdepan sebagai orator maka
ia pun siap memerankan diri sebagai otak dari sebuah perubahan itu.
Massa tidak akan datang kepadanya, namun ia yang memperkenalkan
dirinya. Ia abai dengan statusnya sebagai tahanan politik. Bersama
rakyat jelata yang terdiri dari pedagang, petani, nelayan ia berhasil
memperkenalkan makna kemerdekaan dalam bentuk kebebasan. Soekarno
memperkenalkan sebuah grup drama. Grup drama yang diberi nama
kalimutu ini setidaknya mementaskan naskah
karya tangan dingin Soekarno. Adapun naskah tersebut antara lain
yakni Rahasia
Kelimutu 2, Rendo Rate Rua, Nggera Ende, Amuk, Dokter Syaitan,
Kut-Kutbi, Aero Dinamit, Djula Gubi, Maha Iblis, Anak Haram Jadah,
Sang Hai Roemba, dan
1945.
Beberapa
naskah tersebut masih terpajang di etalase lemari rumah pengasingan
Bung Karno.
***

Kebanggaan
Soekarno ini juga menjadi kebanggaan orang Ende, bahkan Flores. Bapak
bangsa yang sadar Indonesia ini kaya dengan keanekaragaman kala
dirinya terbiasa merenung duduk di bawah pohon sukun, pohon yang
tidak jauh dari rumahnya. Pancasila adalah pemersatu dari perbedaan
itu. Mengijakan kaki di rumah ini membawa semangat nasionalisme
bagiku dan bagi mereka yang cinta Indonesia.