Resensi Buku : Kisah Merantaunya Di Wanita Jawa
Judul : Merantau Ke Deli
Penulis : HAMKA
Penerbit : Pustaka Bintang
Tebal : 200 Halaman
Tahun terbit : 1930
Karya ini merupakan buah tangan dari ulama minang yang memang berfikir tidak lagi dalam konsep lokal. Selama merantau ke deli dan menjadi bagian dari pers pembela, hamka rajin menulis dalam bentuk sastra. Salah satunya merantau ke deli. Secara diagronik memang novel ini berbau dengan nilai-nilai sejarah dan realitanya kemudian hamka balut dengan imajinasinya. Tentu hamka menulis dengan sebuah pesan dalam cerita ini. Menurut penulis sendiri hamka menggali dua konsep besar yang saling mempengaruhi yakni masalah prilaku individu atau membahas mengenai mentalitas masyarakat. Maka semua tergantung dengan pembaca, kemanakah ia akan berpendapat.
Merantau ke deli adalah sebuah realitas zaman pada masa colonial. Sebuah tempat di daerah sumatera utara yang memiliki lahan luas sebagai tempat utama perkebunan tembakau. Tentu dalam fakta sejarah dituliskan para pekerja yang terdapat dalam perkebunan tersebut adalah para perantau dari luar sumatra, yakni orang-orang jawa dan cina. Sekelumit hamka menuliskan bagaimana kehidupan yang dirasakan oleh orang-orang perkebunan sungguh miris dengan kondisi yang serba kritis. Hanya sedikit orang-orang perkebunan yang bernasib mujur dapat menjadi mandor, assistant, bahkan nyai.
Poniem adalah salah satu pekerja yang beruntung tersebut. Wajahnya yang sedikit cantik membuat ia dipelihara oleh belanda dengan menjadi nyai. Sebuah istilah untuk mengatakan simpanan belanda. Poniem yang memang sebatang kara dan bodoh kala tiba di deli hanya pasrah dengan nasib. Kehidupan sebagai seorang nyai hanya melayani sang tuan saja. Nyai yang melayani tuannya tidak harus dijadikan sebagai istri. Ibarat pepatah ia hanya madu bunga yang cuma dihisap saja manisnya.
Kepasrahan poniem lantas mempertemukan dia dengan leman. Pedagang minang yang jatuh hati dengan poniem. Walau ia telah menjadi nyai namun leman tetap bertekad untuk menjadikan poniem sebagai istri yang sah. Dialektika ini terus terjadi kala poniem yang malu dengan status nyai menolak ajakan leman untuk menikah. Sebaliknya leman yang memang telah jatuh hati nekad untuk menanti jawaban poniem. Singkat cerita poniem menerima cinta leman dan keluar dari perkebunan deli untuk menikah.
Realitas seorang nyai dan deli kini tuntas dalam benak keduanya. Seusai menikah keduanya mencoba memulai kehidupan dengan menjadi pedagang. Jalan terjal dalam membangun bahtera rumah tangga ditengah himpitan ekonomi kadang membuat leman putus asa. Poniemlah yang mampu membawa suasana dalam bahtera tersebut menjadi hidup. Poniem dengan budaya jawanya memiliki kesetian sedarah dengan sang suami. Keduanya saling membahu hingga ahirnya ekonomi mereka membaik bahkan maju. Dibantu dengan teman sejawat poniem yang melarikan diri dari deli lantas menjadikan usaha mereka maju pesat.
kemajuan pesat ini lah yang lantas mengundang secara tiba-tiba sanak kerabat leman yang tiba-tiba datang. tentu hal ini menjadi kebanggaan keduanya ketika kemasyuhran mereka telah terdengar hingga kampung asal leman di minangkabau. tak ada gading yang tak retak, mungkin inilah yang dicba dicari oelh sanak kerabat leman kala melihat leman yang telah sukses dengan perdagangannya menikah dengan orang non minang. apalagi keduanya belum mendapat seorang anak di tahun ke lima pernikahanya.
“Belum dianggap menikah orang tersebut, jika tidak dengan orang minang” latar belakang poniem sebagai orang jawa dianggap asing di mata keluarga leman. Apalgi poniem adalah buruh kebun yang tak jelas asal usul keluarganya. Hal ini lah yang menjadi pisau untuk membuat celah dalam keluarga leman. Pada awalnya sang kelaurga menyayangkan pernikahan leman yang tidak berjodoh dengan orang jawa. Lantas dialnjutkan dengan asal usul keluarga yang tak jelas. Ahirnya pihak keluarga menyuruh leman untuk menikah lagi dengan wanita minang pilihan keluarganya. Leman yang awalnya menolak kemudian meragu kemudian menerima usulan tersebut. Lain halnay dengan poniem yang sebenarnya menolak pernikahan kedua sang suami hanya bisa mengelus dada karna memang tak punya kuasa.
Pernikahan tersebut berlangsung, leman membawanya ke medan tinggal serumah dengan poniem. Maka sejak saat itu timbulah konflik antar dua wanita beda suku tersebut. Poniem yang dipandang sebelah mata oleh istri muda memang tak juga mendapat perhatian dari leman. Konflik memuncak kala poniem bersitegang dengan istri muda dan ahirnya leman memilih istri mudanya dan menceraikan poniem.
Hidup sebatang kara dan terusir dari rumah yang dibangun bersama dengan leman membuat poniem semakin duka dengan nasibnya. Bersama teman sejawatnya paijo poniem memilih menjauh ke medan dan membuka usaha untuk menyambung hidup. Berbekal pengalaman dan keuletan bersama usaha mereka pun maju pesat, sebaliknya leman yang ditinggal sang istri pertama mulai merasakan pailit akibat tidak mampu mengatur manajemen perdagangannya, leman pun bangkrut.
Ahir cerita poniem menikah dengan paijo.
Resensi Buku : Dialektika Harimau ! Dan manusia
Judul : Harimau ! Harimau !
Penulis : Mochtar Lubis
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Tebal : 200 Halaman
Tahun terbit : 1985
“ Tidak ada manusia yang tidak berdosa” mungkin ini lah salah satu pesan yang hendak disampaikan oleh penulis dalam karangannya kali ini. Seperti pada umumnya penulis yang memang merupakan sastrawan kritis, dalam menghasilkan karya fiksinya dalam bentuk realita hidup. Kali ini dengan menggunakan dua tokoh general yakni harimau dan manusia mochtar lubis berdialektika didalamnya. Sebuah perjalanan rutinitas tiba-tiba menjadi perjalanan panjang yang seolah tiada ahir. Perburuan dan memburu menjadi ambisi untuk saling membunuh dan dibunuh.
Novel karangan mochtar lubis berjudul harimau-harimau memang memberikan sebuah kesan yang hidup dalam realitas sehari-hari. Bermula dari perjalanan sekelompok pencari dammar di sebuah hutan sumatera. Dimana sekelompok ini merupakan manusia yang memiliki karakter seperti, wak atok, pak haji, pak balam, talib, sutan, sanip, dan buyung. mereka adalah orang baik, seperti itulah kesan yang hidup dalam mindset mereka karena memang mereka berusaha menampilkan diri sebagai orang baik. Selayaknya wak katok yang menjadi pemimpin rombongan, dimana memang dia adalah seseorang yang selalu dianggap pemimpin karena kesaktiannya.
Perjalanan yang mereka lakukan semua baik-baik saja. Bahkan ketika mereka singgah di rumah orang tua tersakti di kampungnya yakni wak hitam mereka masih dalam keadaan normal. Namun sejak singgah ini lah yang menjadi bala besar bagi mereka. Munculnya gadis lugu yang menjadi istri wak hitam menjadi bahan lamunan para pencari dammar. Tak ayal wak katok sebagai murid wak hitam dan buyung pemuda tanggung berbuat nista kepada wanita yang telah memiliki suami itu. Siti rubiyah yang sangat tersiksa dengan prilaku suaminya menjadi pintu pembuka yang dimamfaatkan oleh kedua orang tersebut.
Selanjutnya, dari perjalanan balik ini lah petaka konflik di munculkan. Munculnya harimau tua yang sangat kelaparan tiba-tiba menyerang pak balam. Tubuhnya terkoyak, daging betis dan punggung nampak berwarna, bekas cakaran seolah menjadi peringat atas kedatangan inyiak dalam mencari korban. Semua terkejut, namun tidak paham dengan kedatangan si harimau tersebut. Wak katok sebagai dukun palsu memamfaatkan diri dengan ritual syirik yang dilakukannya. Ia mengatakan bahwa harimau tersebut adalah harimau biasa, padahal dalam ritual tersebut ia tak paham hakikat tentang harimau itu.
Konflik meruncing ketika pak balam yang sekarat mengatakan kepada mereka untuk segera mengakui dosa. Keterkejutan ini beralasan sejak mereka melihat sepasang gagak hitam yang terbang tinggi, ramalan nasib, bahkan mimpi pak balam. ”akui dosa kalian” dipenghujung nafas pak balam masih mencoba mengatakan hal tersebut secara berulang.
Wak katok adalah penyamun yang keji dengan memamfaatkan kesempatan untuk memperkosa istri demang, membunuh teman sejawat kala perang kamang melawan belanda, bahkan membodohi masyarakat dengan keberanian dirinya. Dial ah wak katok yang dibuka kartu dosanya oleh pak balam teman yang selalu mendampinginya sebelum mati. Lain halnya dengan pak haji yang tak ubahnya seperti manusia bertopeng, ia tak percaya tuhan dalam hidupnya. Baginya pengalaman hidup telah menjadikan dirinya untuk membenci manusia yang penuh dengan ego dan ambisi. Kematian anak dan istrinya kala ia masih di india telah menjadikan ia buta agama. Hanya masalah nasib lah yang memberikan kesempatan kepada sosok fasik ini dapat pergi ke mekkah dalam menjadi haji.
Dosa-dosa ini lah oleh mochtar lubis dipaparkan dalam suasana tertekan akibat perburuan harimau. Talib, sutan, sanip adalah mantan pemuda yang telah menjadi penyamun. Melakukan pencurian besar yakni pencurian beberapa ekor sapi. Kemudian dosa buyung yang tidak bisa menjaga kesucian dirinya dan terjerumus dalam lingkaran perzinaan bersama siti rubiyah.
Harimau mulai memakan satu per satu para pencari dammar, sang inyiak hanya meninggalkan buyung, sanip, dan wak katok yang telah mengubah ambisi untuk gentian memburu harimau tersebut. Maka di ahir cerita penulis tidak membeberkan dosa-dosa tersebut dalam dialog melainkan memaparkan sebuah tekad untuk tidak mengulang dosa tersebut dan memilih berserah diri kepada sang khalik.
Artikel Ku : Refleksi sumpah pemuda
Sejarah bangsa ini terbentuk
dari sebuah kekuatan yang menekankan
pada perubahan untuk lebih baik. Lahirnya sumpah pemuda bisa di samakan
gaungnya seperti ucapan Mahapati Gaja Mada, panglima tertinggi Majapahit
yang bersumpah atas nama palapa hendak
menyatukan wilayah nusantara dalam satu panji yakni bendera kerajaan Majapahit.
Sumpah palapa itu kembali terdengar di awal abad 20 setelah ratusan tahun
bangsa barat menginjakan kakinya di tanah nusantara. sumpah yang
bernama sumpah pemuda ini merupakan sebuah apresiasi yang dilakukan oleh pemuda Indonesia saat
itu.
Atas nama bangsa Indonesia mereka
bersumpah, bukan lagi atas nama kerajaan. Atas nama persatuan mereka juga bersumpah
bukan atas nama kekuasaan. Sebuah kecerdasan yang dibangun oleh para pemuda nusantara dalam
merefleksikan pendidikan modern yang
ahirnya bisa menyatukan nusantara dalam bentuk modern. Dimana kebebasan
serta persatuan menjadi sumpah tertinggi dalam mewujudan kedaulatan kelak 1945
oleh founding
father kita, Soekarno-Hatta. Sebuah pondasi
baru bangsa ini pun diakui baru terbentuk pada masa pendidikan modern masuk ke Indonesia. Tidak
hanya perbedaan yang akan disatukan
olehnya namun lebih dari itu, Munculnya perasaan senasib yang memang menjadi sebuah penciptaan baru dalam
tatanan peradaban baru bangsa. Perjuangan fisik oleh para pendahulu adalah
sebuah cerminan bahwa bangsa ini tidak hanya melalui fisik untuk memperjuangkan
kemerdekaan. Perjuangan fisik hanya melahirkan ksatria lokal tanpa ada satu
antara satu dengan lainnya.
Jong
ambon, jong java, jong sumatera, jong sunda, jong batak dan
berbagai elemen pemuda berkumpul dalam kesatuan PPPI (Persatuan Pelajar Pemuda Indonesia ) dalam
sidang kedua 1928. Kali ini mereka hendak menujuh sebuah kesepakatan, bahwa
bangsa ini sudah saatnya bangkit. Kesepakatan dalam menghilangkan perbedaan
Ras, etnik, agama, bahkan latar belakang sosial, ekonomi dan pendidikan menjadi
sebab kelahiran sumpah pemuda. Mensahkan secara massal bahwa penggunaan bahasa
melayu sebagai bahasa pengantar, Cikal bakal bahasa Indonesia, juga bahasa yang
akan digunakan bangsa ini sebagai bahasa nasional indonesia. Lewat
kaum intelektual ini jugalah patut diberikan sebuah ungkapan terima kasih.
perjuangan dalam menekan ego etnosentrisme telah melahirkan sebuah satu kata
sepakat dalam poin sumpah pemuda.
Sumpah pemuda yang lahir pada tanggal 28 oktober 1928 adalah jawaban terhadap konsep liberal
yang diperdebatkan oleh penjajah kolonial.
Pengerukan kekayaan alam hingga ahir abad 19 menjadi legitimasi dasar bahwa
bangsa ini harus merdeka dalam tatanan yang
sesungguhnya. Perkenalan pendidikan juga merupakan sebuah balas budi
yang telah dilakukan oleh kaum belanda,
seperti yang telah diserukan oleh Van Deventer atau dikenal
Multatuli. Lewat tulisan yang
menggambarkan kengerian kala melihat bangsa Indonesia yang merasakan
kemiskinan dalam keterpurukan
feodalisme serta kolonialisme.
Kini 84 tahun sejak pristiwa
besar itu berlalu. sumpah pemuda tetap langgeng sebagai legitimai kebangsaan
yang menekankan persatuan serta kesatuan
bangsa dan bahasa. Bahkan sepanjang zaman ini jua lah persatuan mahasiswa tetap
terjalin hingga saat ini. Munculnya aktivis yang hidup di masa masing-masing mencoba menggali
idealisme kebangsaan sebagai bagian dari nasionalisme. Namun pascareformasi mahasiswa
tidak lagi menjadi agen persatuan mahasiswa yang menekankan pada kepeduliaan kerakyatan serta
peka terhadap keadaan sosial. Malah permasalahan timbul sebaliknya mahasiswa
kehilangan fungsi menjadi bagian internal dalam perubahan. Mahasiswa kini lebih menyukai hidup yang lebih dikenal dengan mahasiswa kupu-kupu
(kuliah pulang-kuliah pulang). Anggapan umum bahwa beratnya menjadi mahasiswa
yang memiliki jiwa aktivis tersisih
dalam seleksi alam. Dominasi etos
lingkunagan kampus serta mindset
setidaknya menjadi indikasi bahwa mnejadi mahasiswa lebih kepada diamnya saja.
Dunia kampus kekinian mengajarkan sebuah
prestasi individual yang menjauhkan
mahasiswa dengan nilai pengabdian masyarakat.
Padahal persatuan yang ingin
diwujudkan dengan sumpah pemuda adalah sebuah refleksi yang mengangkatkan sebuah kebersamaan serta
memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Mahasiswa
beralih fungsi dengan hanya menjadi
penonton. mindest dalam pemikiran
bahwa lapangan pekerjaan yang hendak dicari
secara instan.
Banyak hal yang akan menjawab, kenapa etos mahasiswa di
setiap zamannya memiliki perbedaan. Seolah tidak ingin terjadi anakronistik
terhadap penempatan waktu maka kita akan melihat bahwa mahasiswa dan perubahan
dipengaruhi dengan kondisi yang terjadi.
Namun satu hal yang tidak bisa
dipungkiri bahwa mahasiswa adalah individu yang
bebas yang memiliki cara dan
karakter masing-masing dalam menjadi mahasiswa independen dalam bertindak,
berbuat, serta bersuara. Maka jika hal itu saja tidak ada, bisa jadi etos
mahasiswa telah luntur dan hilang. Mahasiswa yang memang berada di garis individu yang bebas namun juga tidak memiliki bagaimana
menggerakan individu yang bebas
tersebut.
Negara-negara yang berada
dibelahan manapun banyak menempatkan pemuda di garda terdepan dalam membangun
sebuah perubahan. Negara yang pro pemuda
pun akan sedianya memberikan fasilitas tanpa batas dalam membangun pendidikan
generasi muda. Kini indonesia berada di negara yang maan serta makmur namun miskin dalam
menempatkan fasilitas sehingga pencapaian minimal menjadi tolak ukur yang dipertanyakan dalam membangun sdm generasi
muda.
Sebuah krtitikan bagai semua
orang, bahwa apa yang telah dilakukan
oleh kita dalam membangun bangsa ini?sebuah pertanyaan yang patut dijawab tidak dengan buntalan teori
yang minus dengan tindakan. Bangsa ini
akan besar dilihat bagaimana bangsa ini memperlakukan masa depannya, yakni pada
pemuda.
Artikel Ku : Perlawanan Mahasiswa
Perlawanan Gie adalah wakil dari zaman, dimana
angkatan mahasiswa 66 menjadi barisan pelopor sebagai mahasiswa pembaharu.
Idealism mahasiswa tidak bisa ditawar untuk menjadi sosok pembaharu,s etidaknya
itu lah simpulan untuk mengenal Gie. Bahwa mahasiswa adalah sebuah penjelmaan
dalam intelektulitas yang dekat dengan
masyarakat sebagai objeknya. Kritis mahasiswa adalah dampak dari kondisi
yang merupakan bagian dari refleksi.
Namun itu sudah sangat lama, Gie telah wafat dalam
pendakian terahir di Semeru. Namun catatan ia tetap dingat sebagai bagian
intelektual yang ingin terus diingat. Seolah
hendak mengingatkan, bahwa Gie memang
telah lama wafat namun pikiran serta perbuatan hidupnya masih diingat oleh
semua orang, khususnya oleh mahasiswa. Namun sampai kapankah?. Dalam ulasan Kompaskampus edisi Selasa, 3 Juli 2012
memuat kondisi mahasiswa kekinian yang
pragmatis serta apatis. Dari semua komentar mahasiswa yang memang cenderung mengakui bahwa mahasiswa
kini telah jauh berbeda dengan mahasiswa di zaman perubahan.
Jarang ditemui, bahkan tidak lagi ditemukan sosok
mahasiswa idealisme cerdas yang berani
menantang. Kalau pun itu ada. Ia adalah individu yang mencari jati diri dengan menampilkan sosok
idealism didalam hidupnya. Iklim kampus telah banyak merubah pondasi mahasiswa
dalam stigma berfikirnya. Mahasiswa hanya dituntut untuk cerdas tanpa kepekaan
pada kondisi lingkungan. Organisasi-organisasi ala mahasiswa hanya menjalankan kegiatan serimonial yang tidak memiliki visi kerakyatan. Akibatnya
kepekaan mahasiswa terhadap kondisi bangsa ini semakin minim. Kepedulian
mahasiswa cukup dalam sebuah momen-momen yang
hendak diabadikan dalam album periode kesuksesan saja.
Penulis ingat kala mengikuti acara peringatan
reformasi yang diadakan di kampus UNP
Mei 2012 silam. Muncul kesepakatan yang
jelas bahwa mahasiswa kini memang banyak mengalami perubahan dalam pola
pikirnya. Para panelis yang menjadi
narasumber utama menyadari mahasiswa kini memang menjadi apatis karena memiliki
ego dalam visinya masing-masing. Dimana organisasi dan individu mencari
kepuasan diri dengan cara masing-masing tanpa adanya idealisme yang ditanam. Akibatnya parktik birokrat tidak
lagi kawal oleh mahasiswa sebagai agen kontrol. jati diri sebagai seorang
mahasiswa hilang dalam konsep maknawi sebagai mahasiswa.
Perlu mahasiswa untuk kembali memahami jati dirinya
sebagai orang pelawan dengan kondisi zaman. Perlawanan yang dilakukan menjadi sebuah iktikad bahwa ia
memang kritis untuk mampu menjadi pembaharu. Modernisasi mahasiswa telah membuat
mahasiswa untuk lebih gampang dalam mengolah suasana kampus yang menjadi ladang ilmu. Bukan malah sebaliknya
mahasiswa semakin dimanjakan dengan teknologi dalam sikap apatisnya. Memilih
kesibukan yang tidak menyangkutkan diri
dengan orang lain atau diam dengan ketenangannya.
Padang,
25 Juli 2012
Artikel Ku : Mahasiswa dan dunia malam
Lekat,
sekiranya kesan yang pertama sampaikan
tentang dunia malam bagi mahasiswa. Hal ini mungkin mendasari dengan banyaknya
kasus menyimpang yang banyak menemukan
mahasiswa di setiap kasusnya, baik kasus dalam asusial, maupun dalam dunia criminal
lainnya. Hal ini berawal dari dunia malam, dimana penyesuaian antara aturan
baku dunia malam yang sedikit renggang
menjadi celah dalam memamfaatkan situasi ini. Contohkan saja dalam aturan lalu
lintas, dimana memasuki malam hari lebih leluasa dengan mengendarai motor tanpa
menggunakan peralatan keamanan sepeti helm atau surat kendaraan. Celah kecil
seperti iilah yang membuat mahasiswa
memamfaatkan dunia kala malam hari ini.
Identik
baik atau buruk dalam memandang dunia malam?. Maka menjawabnya adalah sebuah
pisau yang bisa diartikan dalam dua
perbuatan. Secara negative tentu celah seperti ini diammafaatkan mahasiswa
dalam melakukan aktivitas menyimpang yang
ahirnya merugikan diri sendiri. Bahkan tidak jarang adu tanding dalam
aksi balap motor jalan raya yang
dilakukan mahasiswa malah berujung dengan kecelakaan dan kematian. Namun
tidak menapikan bahwa celah ini juga dimamfaatkan sebagai hal yang positif. Dimana rutinitas kerja yang penuh dengan tugas serta hal lain membuat
kepenatan yang tak jarang menimbulkan
rasa bosan harus mendapat solusi.
Tidak
jarang dalam dunia mahassiwa memamfaatkan dunia di malam hari sebagai aktivitas
dalam memberikan rasa penat dengan kesenangan yang positif, salah satunya menikmati udara malam
bersama teman sejawat di satu kawasan seperti café atau alam bebas seperti
pantai. Sebuah kepenatan yang dilalui
dengan rasa jenuh akan hilang dengan menikmati malam yang penuh kesenagan bagi jiwa. Maka dari itu
perlu adanya pengawasan serta antisipasi dalam membawa diri dalam melakukan
aktivitas di malam hari. sebuah pilihan kala menjatuhkan pilihan untuk
menikmati malam karena aktivitas pada malam hari bukan aktivitas produktivitas
kerja sehingga tidak menjadi beban secara psikologi. disamping itu ada rasa
ketengangn dalam menikmati malam dengan penuh keleluasaan.
Kota
padang, Sumatera Barat mungkin bisa dijadikan sebagai conroh bagaimana dunia
malam di sini. Setidaknya kota yang
tidak begitu besar ini menjadi penuh dengan penduduk yang berstatus mahasiswa. Dimana kota padang
memiliki banyak kampus serta sekolah yang
menjadi daya tarik bagi orang lain untuk mengecap pendidikan di kota
padang. Banyaknya mahasiswa yang menempuh pendidikan di kota bengkoang ini
juga menjadi daya tarik dalam membuat fasilitas yang disediakan, khususnya bagi mahasiswa
yang ehndak melepaskan penat kala malam
hari. Maka tidak heran jika pada malam hari masih di sentral-sentral mahasiswa
yang berada di kos-kosan menjadi tempat
yang terus hidup baik siang maupun
malam. Hal ini dikarenakan kebutuhan mahasiswa itu sendiri dalam melaknjutkan
aktivitasnya.
Walau
seperti itu antisipasi dalam menjaga pergaulan malam agar tidak menyimpang
tidak bisa dilepaskan dari peran diri sendiri. Dimana tindakan menyimpag
yang dilakukan kerap pelakunya merupakan
pelaku individu sendiri. Maka dari itu perlu adanya antisipasi serta aturan
dari dinas terkait dalam kegiatan pada siang hari maupun pada malam hari.
menjadikan dunia malam yang tidak
identik dengan dunia yang kelam adalah
dengan memberikan sebuah pencitraan dalam diri pribadi bahwa dunia malam akan
memberikan kesan positif. tidak diungkiri kerap menemukan geombolan mahasiswa
yang menjalankan aktivitas malam dalam
sebuah komunitas untuk melaksanakan kegiatanya. salah satu kegiatan dalam
bidang seni.
Padang, 16 April
2012
Artikel Ku : Modernisasi Adat
Siapapun
pasti akan mengenal negara kecil bernama Jepang. Sebuah negara yang terletak di ujung timur Asia, kondisi
geografis alam yang rentan dengan
bencana alam banyak mendewasakan negara tersebut menjadi negara yang siap. Namun kehebatan negara tersebut tidak
terletak satu hal saja, melainkan beragam. Sejak terjadinya pristiwa Restorasi Meiji tahun 1868 Jepang
mengalami perubahan pesat dalam segi sosial, politik, ekonomi, agama, hingga
budaya. Politik isolasi pada masa pra restorasi hanya membuat Jepang menjadi
negara taklukan Eropa yang menganut
paham imperialisme. Singkatnya restorasi yang
ia lakukan adalah pengembalian terhadap kearifan lokal yang mereka miliki namun tidak menolak perubahan
modernisasi. Sebuah kebijakan oleh kaisar melalui restorasi meiji yang siap
melakukan dinamisasi dengan kebudayaan asing. Alhasil hingga saat ini Jepang mampu
mendedikasikan diri sebagai negara modern dunia dengan budaya yang tetap terpelihara.
Bagaimana
dengan negara Indonesia?.Prof.Mursal Esten dalam buku Minangkabau Tradisi Dan Perubahan mengatakan bahwa selayaknya adat
dikembangkan demi sebuah kemajuan. Dimana dalam perumpaannya, keberadaan adat yang
mengekang kemajuan dan menyelaraskan kebudayaan nenek moyang hanya menimbulkan
konflik internal kebudayaan. Maka dari itu, perlu adanya dinamisasi adat dan
zaman yang kian berubah. Perubahan zaman
memang telah menyulitkan untuk memegang adat asal (asli_red), bahkan tidak
dipungkiri generasi adat yang dilahirkan
malah semakin terjerumus dalam lembah teknologi yang mengandalkan rasionalisasi berfikir logika.
Memang adat adalah lambang dalam identitas sebuah bangsa yang dipertahankan, namun agaknya perlu adanya
pembaharuan yang dilakukan dalam membuat
sebuah pola dinamisasi.
Secara
pasti, lambat laun pergerseran nilai adat dan budaya dengan zaman modern
semakin terasa. Salah satu contoh dalam hal gender, pergeseran status wanita
dalam lapangan perkerjaan era lampau dikecam sebagai sebuah aib yang tidak sepantasnya. Namun sekarang dalam era
modern wanita memanuhi berbagai sektor pekerjaan produktif tanpa ada paksaan. Wanita tidak
lagi dipandang sebagai kaum minoritas yang
bergelut dengan rumah tangga saja. Apakah adat akan melarang lagi? Tentu
tidak. Pergerseran yang tampak dalam
masyarakat dalam berbagai bidang, baik pendidikan, kesehatan, agama, bahkan
dalam proses pertumbuhan anak.
Dalam sebuah kriris kebudayaan bangsa ini
adalah semakin punah penggunaan serta pemahaman adat daerah masing-masing.
Bahkan dalam sebuah ulasan di media harian nasional menuliskan, adanya
sekelompok peneliti kebudayaan melakukan kunjungan ke wilayah Indonesia bagian timur. Dimana
dalam perjalanannya bertujuan untuk membuat sebuah catatan tentang eksistensi
adat lokal yang masih bertahan. Proyek
diatas menyiratkan adanya ketakutan jika terdapat kebudaayaan asli hilang
akibat para pewaris tidak mempelajari adat karena zaman yang tidak relevan memakai adat tersebut.
Akibatnya, muncul konflik serumpun melayu kala sebuah ikon budaya dedikasikan
dan diambil alih sebagai budaya khas negara lain.
Saat
ini mindset dalam generasi muda bahwa
adat adalah sesuatu yang bersifat kuno
dan tidak penting dipelajari. Para pemimpin adat yang semakin dilema sosial dalam mengembangkan
nilai-nilai lokal malah semakin terkucilkan. Maka mengambil kutipan yang dikatakan oleh Mursal Esten bahwa selayaknya
adat memang tetap dilestarikan namun dengan cara berfikirnya yang maju (tidak mengekang). Hal ini menyesuaikan
diri dengan kondisi di negara Jepang bahkan negara Cina yang memang mengadopasi nilai-nilai lokal sebagai
identitas diri yang bisa dilihat dunia.
Ikon budaya lokal memang akan bertemu dengan modernisasi maka jalan tengah
yang diambil adalah menyesuaikan diri
antara nilai-nilai lokal dan modernisasi.
Dalam
dialog yang pernah diadakan di UNP April
2012 lalu membahas tentang kearifan lokal dalam Minangkabau. Dalam dialog
tersebut mengungkapkan bahwa nilai-nilai kearifan lokal yang ada di Minangkabau yang ditinggalkan malah mengadopsi nilai budaya
modern tanpa ada penyaringan. Kearifan lokal memang secara nyata banyak
ditinggalkan oleh banyak generasi muda bahkan oleh para birokrat selaku
motivator dalam mengembangkan kearifan lokal tersebut.
Membangun sebuah peradaban memang memiliki
akar dalam membuat perubahan sebagai pijakan dasar. Adat yang memang menjadi identitas bangsa seharusnya
memang dipelihara sebagai identitas wajib warga negara Indonesia. Namun
kemerosotan nilai moral serta ekonominya mengatarkan sebuah kebebasan semu.
Negara tidak lagi dipandang sebagi negara maju.
Maka
dari itu melalui kearifan lokal adalah sebuah pendekatan dalam memahami budaya
sebagai identitas diri. Indonesia yang
memiliki keragaman dalam hal budaya tentu menjadi sebuah acuan terhadap
budaya yang unik di mata dunia. Keunikan
yang tidak dimiliki oleh negara lain
atau bangsa lain menjadi karakter yang
perlu dilestarikan. Ketika melihat pada dua kebudayaan Jepang dan Cina ada
dua hal yang menarik, pertama budaya modernisasi
yang dilakukannya terus maju hingga saat
ini. Kedua, konsistensi culture atau
kearifan lokal sebagai budaya yang
dipegang teguh menjadi sebuah
identitas yang ingin dunia
melihatnya. Intinya ada keterkaiatan antara dua poin diatas dalam
kesehariannya. Modernisasi dan kearifan lokal bukan menjadi lawan yang saling menjatuhkan namun kawan yang saling menguatkan.
Indonesia
sebenarnya memiliki budaya yang bisa
dijual di mata dunia, salah satunya Bali. Namun toh tidak cukup jika hanya mengedapankan Bali sebaai ikon budaya
padahal seluruh wilayah Indonesia unik dengan budayanya. Kecintaan generasi muda dalam
penanaman kearfian lokal adalah tanggungjawab semua pihak. Layaknya Jepang dalam
membuat sebuah perubahan melalui Restorasi
Meiji. Sedangkan Indonesia sedang akan menunggu apakah ia akan konsisten
terhadap budaya kearifan lokal atau memilih modernisasi barat tanpa ada
penyaringan.
Padang,
30 April 2012
Munculkah Mahasiswa Angkatan 12?
Dalam catatan sejarah telah mencatat mahasiswa pada
periode masing-masing membuat sebuah gebrakan dengan menumbangkan sebuah rezim.
Dimana mahasiwa membuat sebuah kesepakatan terhadap kemajuan kesejahteraan
rakyat secara utuh. Mahasiswa angkatan 66, dimana dalam pergesekan zamannya,
mahasiswa ini ikut menumbangkan rezim orde baru era Seokarno. Kondisi
perpolitikan Indonesia masa perang dingin memang menyeret Indonesia dalam dua
kekuatan besar, Uni Soviet dengan aliran komunis dan AS dengan aliran demokrasi
liberalnya. Kemampuan serta kondisi zaman telah mengenang mahasiswa angkatan
1966 sebagai mahasiswa pendobrak sebuah tirani.
Lain halnya dengan mahasiswa angkatan 98 atau
dikenal sebagai mahasiswa reformasi. Dimana mahasiswa yang telah menumbangkan rezim sesudah orde lama,
yakni kekuasaan dari tangan soeharto. Lagi, kekuasaan melalui tangan mahasiswa
sebagai kekuataan people of power.
Kekuatan masyarakat yang menuntut sebuah
keadilan. Maka sejak reformasi bangsa ini dalam lingkup demokrasi yang menempatkan pemerintah dalam sebuah
konstitusi yang terbuka. Intinya kritik
dan pernyataan dilakukan secara terbuka tanpa ada intervensi dari pihak mana
pun. Namun sebuah guratan kekecewaan terhadap zaman pasca refromasi yang berjalan bagi bangsa ini, bahwa sebuah
perubahan hanya berada dalam perubahan yang
tidak tetap. KKN, kemiskinan, bahkan pengangguran tetap menjadi sebuah
penyakit pemerintah yang tidak kunjung
sudah.
Kini, memasuki periode abad millennium tahun 2012
sebuah bibit penolakan kebijakan pemerintah agaknya kian meluas. Dimana pelopornya
tetap dilakukan oleh sang aktor indenpenden, mahasiswa. Beberapa mahasiswa yang berada di berbagai perguruan tinggi secara de facto menolak dengan kebijakan
pemerintah yang tidak merakyat. Terahir
dengan isu kenaikan harga BBM, dimana isu tersebut kini bukanlah isapan jempol
belaka. Kondisi pro-kontra antara pemerintah dan masyarkat toh tetap menaikan harga minyak. Padahal secara umum dapat
diketahui bahwa kenaikan atas nama BBM hanya akan menambah sebuah beban baru
bagi rakyat kalangan menengah ke bawah. Bahkan tidak bisa dipungkiri lagi bahwa
akan memunculkan sebuah gerakan dalam membuat perubahan secara revolusi.
Solusi yang
tidak soluktif melalui pemberian BLT walau dengan menaikan tarifnya
tetap bukanlah jalan tengah terbaik. Kondisi di lapangan yang jelas nyata, dimana mereka orang-orang kaya
rela memasangkan muka miskin agar mendapat tunjangan beberapa ratus ribu
rupiah. Sementara si miskin yang asli
harus berjiba ku dengan adminstrasi birokrasi yang semakin tidak merakyat. Solusi melalui
BLT nyata telah ditolak sebagai jalan
yang diambil oleh pemerintah dalam
memberikan sebuah tawaran perbaikan.
Satu hal yang
perlu diantisipasi adalah menjaga sebuah kepercayaan antara rakyat dengan
pemerintah terpilih melalui demokrasi. Kondisi ketidakpercayaan akan membawa
masalah yang fatal bagi negeri ini.
Permasalahan negeraa yang tampak di
depan rakyat semakin membuat sebuah opini kepercayaan rakyat terhadap sang
pemerintah.
Istilah demokrasi yang merakyat kini hanya dijadikan sebagai bualan
belaka. Dimana hukun yang seharusnya
mengalami reformasi 14 tahun silam hanya sebagai isapan belaka. Bahwa
pemerintah yang mengatasnamakan rakyat
kian menyempit dan luntur seiring dominasi politik busuk yang
terjadi saat ini. Masih terasa ingat bagaimana sebuah pra kondisi
terhadap frustasi publik terjadi dalam sepanjang beberapa bulan terahir. Mulai
dari pembakaran diri mahasiswa dari kampus marhanisme Sondang, dimana ia
memilih mati dengan membakar diri sebagai bentuk muaknya terhadap negera ini
yang tidak selesai dalam menyelesaikan
pelanggaran HAM di Indonesia . Walau ahirnya kematiannya memang tidak menyulut
sebuah konflik setidaknya sebuah ungkapan secara serius menjadi sebuah pertanda.
Lain halnya dengan pristiwa terhadap goresan luka oleh terdakwa tersangakah
korupsi, Sutiyoso oleh salah seorang aktivis LSM dalam sebuah persidangan.
Menarik tentunya, kondisi pra kondisi yang kemungkinan
bisa memicu sebuah trigger . Dimana puncak konflik hanya diambang pintu. Maka perlu
adanya gerakan yang menenangkan dan
memberikan kemenangan bagi rakyat secara umum. Pemerintah yang tidak mampu memberikan sebuah pengembalian
kepercayaan hendaknya mundur dan membuat sebuah gerakan dalam melahirkan tokoh pro
rakyat. jika hal itu tidak dilakukan
maka boleh jadi, memang akana da gerakan dalam memunculkan gerakan mahasiswa di
tahun yang dianggap sacral, tahun 2012.
Padang, 20 Maret 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)
Catatan perjalanan : Tempat Pengasinganku adalah Rumahku
( Catatan perjalanan : Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende-NTT ) Perjuangan seperti apa yang bisa dilakukan Dalam keadaan terkucil sep...
-
“Ma bang pri jo dedi…(mana Bang Pri dan Dedi)?” Tanya nanda sambil mengatur nafasnya ketika melewati bebatuan besar yang menanjak. “Mas...
-
“Selamat siang..” sapaan hangat dari masyarakat asli Wae Rebo ketika penulis bertemu mereka di jalan setapak ini. “Selamat siang juga ba...
-
Judul : Kuli Kontrak Penulis : Mochtar Lubis Penerbit : Yayasan Obor Indonesia Tebal : 107 Halaman Tahun Terbit : 1985 Kuli k...


