Cerita perjalanan dari tanah Jogja: Sekeping keindahan dari Pantai Gunung Kidul



Bicara Yogyakarta identik dengan keramaian yang ada di sekitar Malioboro, kemegahan istana keraton yang menawan, maupun berbagai kuliner murah meriah di salah satu provinsi di Indonesia ini. Padahal, masih banyak rupanya keindahan dari Yogyakarta, khususnya dari sisi alam. Tulisan ini secara singkat mengupas keindahan pantai Yogyakarta yang penulis kunjungi beberapa saat yang lalu.
Seminggu setelah menginjakan kaki di bumi Yogyakarta ini penulis melakukan perjalanan alam, menengok sejenak indahnya pantai yang ada di kabupaten Gunung Kidul. Perjalanan mengunjungi pantai Gunung Kidul Ini dimulai dari titik pusat kota Yogyakarta. Bersama rekan backpaker ngapak bernama Imam, kami memulai perjalanan di tengah hari selepas zuhur pada hari Minggu (20/3).  Melewati jalan ring road utara kemudian melewati jembatan layang membuat perjalanan ini seolah bagiku lebih panjang dari yang aku perkirakan. 

Berbicara tentang pantai Gunung Kidul terdapat beberapa pantai yang menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan. Keragaman antar pantai satu dengan lainnya akan menambah rasa puas dengan jalan-jalan wisata di sepanjang pantai yang berada di wilayah kabupaten Gunung Kidul ini. Adapun pantai-pantai yang terdapat di sepanjang Gunung Kidul ini meliputi Pantai Baron, Kukup, Sepanjang, Drini, Sundak, dan pantai lainnya yang menarik. Oleh karena itu, bagi pembaca yang akan menghabiskan waktu yang lama ketika berada di provinsi istimewah ini tidak ada salahnya untuk singgah di pantai-pantai di Gunung Kidul ini.
***
Denyit motor vixion kami terhenti di pos gerbang pintu masuk wisata pantai Kidul. Usai membayar harga tiket senilai dua puluh ribu kami memasuki jalanan Baron. Nama Baron merupakan nama wilayah dengan destinasi wisatanya yakni pantai. Imam menuturkan bahwa retribusi masuk itu tidak hanya berlaku untuk satu pantai saja, melainkan beberapa pantai sepanjang pantai baron. Dimana jarak antar pantai ini tidak kurang dari 1 KM.
“Dengan tiket tadi bisa kita memasuki pantai sekitar 4 tempat bro” ujarnya sembari memelankan laju motor karena jalanan pantai yang ramai.


Jam tangan ruggerku menunjukan waktu 14.35 wib ketika aku menginjakan kaki ke pantai Kukup, pantai pertama yang kami kunjungi pada sore minggu yang terasa panas. Adapun lokasi pantai Kukup ini berada di desa Kemadang, kecamatan Tanjung Sari, kabupaten Gunung Kidul. Usai menjejerkan motor di tempat parkir dan membayar jasa parkir tiga ribu rupiah kami mulai berjalan mendekati bibir pantai yang saat itu ramai pengunjung.
Sembari berjalan menuju ke lokasi pantai pasir putih Imam masih menjelaskan bahwa wisata pantai Kukup tidak hanya menawarkan keindahan dari pasir pantainya yang berwarna putih. Namun juga dengan pernak-pernik yang dijual bebas di wisata tersebut. Pedagang kuliner yang menjajakan barang dagangannya bisa jadi penarik minat wisatawan di kawasan selatan Daerah Istimewa Yogyakarta ini. Mulai dari udang goreng, aneka makanan  rumput laut, ikan laut, bahkan juga menjual aneka ikan hias. Selain kuliner, jasa foto juga banyak sekali ditemui di lokasi ini. Dengan bermodalkan kamera DSLR para jasa pencari foto ini menawarkan jasa fotonya kepada para pengunjung. Adapun kisaran harga kuliner dan foto ini sekitar 10.000-30.000 rupiah.
***
Pantai Kukup masih terasa  menyengat padahal hari telah beranjak sore. Sesampai kami berada di tepian pantai kami terus berjalan dan memilih berteduh di pinggiran pantai yang berlubang. Sore yang menurutku tidak enak jika menikmati suasana angin pantai di bawah guyuran panas matahari. Bongkahan tanah menjadi pelindung yang gratis buat kami daripada menyewa jasa tikar dan payung. Harga yang terlalu mahal untuk kocek kami berdua yang biasa pas-pas an.  


nang kene bae yak....” ujar Imam mengajakku duduk dengan logat ngapaknya yang kental.
Sambil menikmati keseruan duduk di bawah lekukan tanah yang keras, Imam kembali bercerita tentang keindahan alam yang ada di Gunung Kidul ini. Kali ini ia menuturkan bahwa ada beberapa kawasan pantai yang indah dan bisa untuk nge-camp (kemping). Wah menurutku keren, karena selama ini menurut anggapanku bahwa ngecamp hanya ada di gunung namun  ada juga di pantai.
“ok lha Mam, next time yo mangkat negcamp nang pantai”
“sipp” ujar imam sembari mengacungkan jempolnya ke arahku.
***
Setengah jam aku menghabiskan snack sembari menikmati keindahan pantai Kukup ini. Perhatian pemerintah DIY terjadap wisata alam di sepanjang Gunung Kidul berhasil agaknya menambah keindahan dari pantai ini. Keberadaan tangga penghubung antara satu tebing rendah ke bongkahan batu karang membuat pengunjung bebas menikmati desiran angin dan hentakan ombak. Selain itu keberadaan pedagang serta tempat sampah menambah nilai jual bahwa kawasan pantai ini tertata dengan baik dan tertib.
Masih berada di bawah lekukan tanah yang keras aku memperhatikan garis pantai yang panjang. Walau hentakan ombak besar berkali-kali menerjang namun pinggiran pantai tetap kering. Karang-karang yang terletak di pinggiran berhasil menahan laju ombak yang keras. Maka tidak jarang banyak penunjung bermain-main di sekitar pantai dan menangkap ikan-ikan kecil dengan jaring kecil yang dijual bebas dan murah sepertinya.
Pantai Kukup menjadi pilihan wisata keluarga pada saat penulis datang. Pinggiran pantai yang berlatar karang terlihat bening. Ikan-ikan kecil dengan warna-warna yang tidak senada terlihat di sisi karang yang dangkal. Maka tidak jarang sebuah jaring kecil laku di jual bebas di sini. Mereka menggunakan jaring tersebut untuk menangkap hewan laut yang terlihat apik di sekitar mereka. Penulis sendiri yang mencoba berjalan di sisi pantai yang dangkal dengan mudah menemui ikan-ikan tersebut sembari mencari bintang laut, namun sayang bintang laut tidak mudah ditemui di pantai ini.
Selain menikmati pinggiran pantai sembari bermain menangkap ikan, selfi atau berfoto di tengah pantai juga jadi pilihan banyak pengunjung di sini. Tips bagi pengunjung yang hendak menikmati alam pantai ini bisa membawa topi untuk menahan panas pantai yang menyengat.
***
Ada pulau dengan jembatannya


Matahari semakin menunjukan warna senjanya. Sebelum aku meninggalkan pantai ini , terlebih dahulu aku ingin menyebrang ke sebuah pulau kecil yang tak jauh dengan pantai Kukup. Melalui jembatan penyebrangan aku sampai di sebuah pulau kecil yang tertulis nama Pulau Jumino. Pulau ini oleh pemerintah setempat diperbaiki hingga sepadan. Keberadaan Pulau Jumino ini sangat strategis sehingga bisa melihat sesuatu dengan lebih puas, pemandangan pantai lepas, matahari tenggelam, maupun desiran ombak.
Menyebrang menuju ke pulau ini tidak terlalu jauh. Menapaki jembatan sepanjang delapan puluh meter pengunjung telah tiba di pulau tersebut. Sembari menikmati hembusan angin dari arah pantai dan gemuruh ombaknya biasanya pengunjung menikmati berbagai jajanan kuliner yang dibeli sebelumnya. Sangat pas kiranya jika pantai ini dijadikan tempat refreshing untuk melepas penat setelah beraktivitas.
Di pulau ini para pengunjung dapat menikmati fasilitas yang disediakan pemerintah berupa bangunan untuk sekedar berteduh dari cuaca hujan maupun panas dan deretan bangku seadanya. Walau seperti itu, bagi yang berada di pulau ini hendaknya waspada jika ingin berada di sisi tepi (luar bangunan) walau sisi ini terlihat indah namun hendaknya tetap hati-hati jika terjatuh dan terseret oleh ombak pantai Kukup yang keras.

Catatan Perjalanan Koe : Setapak, Menembus Kabut Kelam Menuju Puncak Kerinci



Bukan gunung yang kita taklukkan, tetapi diri sendiri- Edmund Hillary 

Pagi hari suasana kampungku, Kayu Aro masihlah sangat  dingin udaranya, namun aku tak bisa bertahan lama didekapan selimut hangat ini. Perjalanan besar dan panjang menanti di depan mata. Beberapa anak muda yang terpanggil untuk menaklukan puncak Kerinci mulai terjaga dari lelap malam yang melelahkan. Mereka mulai melakukan persiapan ulang sebelum pendakian ini dimulai. Para pemuda yang datang dari nusantara ini mendadak mengubah rumahku menjadi ramai dengan kesibukan mereka. Pendakian menuju Gunung Kerinci ini membawa tujuh pendaki yakni Duni dan Iko dari Palembang, Rahmat dan Khadijah dari Pariaman, Afni dari Aceh, Devi dari Bandung, dan aku sebagai tuan rumah. Bagi mereka ini adalah perjalanan pertama namun bagiku ini adalah pendakian kali kedua. Euphoria pendakian membawa rasa seolah aku bisa merasakan puncak Kerinci yang seolah memanggil.
***
ngaret juga ne bro….” ujarku kepada Duni yang mengangguk pelan sembari sibuk memeriksa kembali perlengkapannya sesaaat setelah tiba di pos lapor R10, Senin (28/12).
Pendakian ini sesuai dengan breafing harusnya jalan jam 08.00 namun akibat kekurangan sana sini pendakian ini dimulai sekitar jam 10. Adapun perjalanan ini dimulai dari kediamanku desa Sako Dua menuju R10 yang berjarak sekitar 10 Km jararknya. Usai membayar retribusi per malam sebesar 7500 per orang dan biaya parkir 7500 per malam kami memulai perjalanan.
“Semangat teman-teman” sorak Duni usai ritual berdoa yang aku pimpin selesai.
Sepanjang awal perjalanan semua terasa hening. Kami melaju dengan langkah yang pelan dan  beban bawaan yang telah diatur bersama. Keheningan ini pecah dengan sesekali terdengar percakapan, Cakap untuk menguatkan suasana hari itu yang agak kelam dan tanpa sinar matahari yang masih terlihat malu-malu menampakan wujudnya. Perjalanan hari ini harus akan beakhir di cadas, apa pun dan bagaimana pun kecuali ada yang cidera, begitu tekad kami.
***
Pendakian tujuh orang ini bukan pendakian yang sepi rupanya. Barisan pendaki-pendaki lainnya juga terlihat melintas tak jauh di hadapan kami. Bahkan beberapa pendaki asal tanah jawa sempat berkenalan dengan kami. Seolah teman lama percakapan singkat hari itu membuat ada rasa keakraban dan senasib. Puncak kerinci akan menjadi tujuan bersama bagi 1300 pendaki hari itu. Puncak aku merasa seolah telah dekat saja.
Bagi banyak orang saat itu pendakian kerinci di akhir tahun adalah impian dan moment. Banyak wajah pendaki usang dengan segudang pengalaman sengaja datang dari jauh untuk melihat “ada apa di puncak kerinci itu?” Atau sengaja datang menziarahi makam rekan perjuangan mereka yang hanya memiliki nafas sampai mendaki saja. Tapi ya seperti itu, pendakian tetaplah sebuah bongkahan misteri yang berselimut kabut tebal. Tak tahu apakah perjalanan panjang ini akan membawa mereka menuju puncak, atau hanya akan singgah saja di cadas. Semua kembali kepada pilihan dan kondisi. 

Seperti kenalan baruku namanya Alex pendaki tulen asal Kerinci harus merelakan tiga kali pendakiannya sebelumnya yang tak pernah sampai ke puncak tertinggi. Tetangga tendaku di cadas ini tidak bisa mencapai puncak akibat kondisi alam yang labil. Pendakiannya hanya sampai di tugu yuda itu pun dengan kondisi cuaca yang sedikit lembab serta berkabut.
“Sayang sekali memang, namun inilah pendakian kita harus paham dengan batas resiko” ujarnya pelan
   Gunung Kerinci memang menjadi daya tarik dan pesona. Kegagahannya sebagai gunung besar memang membuat banyak orang takjub. Keindahan gunung ini bahkan bisa dinikmati dari sisi simetris puncak talang jika cuaca cerah. Namun sekali lagi gunung memang sebuah bongkahan misteri. Gunung tinggi ini terkenal dengan kontur kelembaban yang tinggi. Berbeda dengan gunung tinggi yang tersebar di pulau Jawa maupun tempat lain,  Gunung Kerinci menawarkan tingkat kesulitan yang berbeda-beda untuk menuju pos maupun pemberhentian.
Walau seperti itu, tantangan inilah yang membuat nilai tersendiri. Ada  rasa senasib yang akan membuat suara dan langkah sesama pendaki menjadi padu. Jalanan nan miring dan setapak ini memperkenalkan aku dengan pendaki nusatara. Ada yang berasal dari Jakarta, Bandung, Bekasi Surabaya, Medan, Padang, dan pendaki sekitar Kerinci. Rasa peduli dan saling bantu menjadi dentuman emosional sebagai manusia untuk saling memperhatikan. Membagi makanan dan minum selama perjalanan bersama orang asing bukan hal tabu, sebaliknya hal ini merekatkan jiwa sosial sesama manusia tanpa ada membedakan dasar apapun. Salam sesama pendaki.
***
Perjalanan ku yang sempat molor ini memang berakibat panjang. Pendakian yang semula berakhir di cadas kini harus rela dilakukan di shelter 2. Pertimbangan waktu yang kini sudah menunjukan pukul 19.00 WIB, hujan gerimis yang mulai turun, udara dingin yang tidak terobati, hingga kelelahan akut yang mendera sebagian besar anggota, khususnya aku dan Duni yang membawa sepasang carel berbeda ukuran.
“kita nge-camp di sini ya..” ujarku kepada rekan lain yang terlihat layu akibat dinginya udara shelter hingga kelelahan.
Jadi malam pertama pendakian kami lewati di area shelter dua sembari mengumpulkan tenaga untuk esok dan mencapai puncak. 
 Bagiku pendakian menuju ke puncak kerinci ini adalah pendakian terpanjang yang aku lalui selama ini. Perjalanan yang  melewati jalan setapak dengan pijakan lembab dan  terus menukik praktis membuat langkah kaki para pendaki terseok-seok. Beban bawaan menjadi kian berat ketika pendakian melewati rute perjalanan yang tidak sedap (terus naik dan licin). Bahkan rute perjalanan setelah melewati pos 3 menuju antar shelter tidak lagi terlihat ramah. Udara yang semakin dingin membuat semangat terkunci. Kerinci sepanjang 3085 telah menguji nyali kami dan memberikan pilihan kami ingin lanjut atau berhenti.
Setapak demi setapak langah kaki kami masih terus mengayuh hingga melewati pepohonan hutan yang tak bertuan. Sesekali nafas-nafas kelelahan tak lagi bersuara elok kecuali lelah. Entah berapa kali carel 55 liter milikku terus menerus aku tarik talinya untuk memperingan. Beruntung persediaan logistik matang masih mencukupi perjalanan sehari ini. Sedangkan untuk keperluan air minum masih dapat dijumpai di setiap pos maupun shelternya.
“Tuhan berikan aku kekuatan untuk menyelesaikan pendakian ini bersama rekan-rekanku” ini adalah ucapann doa yang terus aku baitkan dalam perjalanan ini.
Baju pendek dengan lapisan manset telah basah dengan peluh keringat yang menggigil. Duni yang bersama denganku berjalan semakin pelan. Sesekali ia tak lagi mendengar gurauan ku, mungkin ia telah lelah menurutku. Suasana yang dingin menjadi semakin kelabu dengan langit mendung yang bertabrakan dengan kabut. Jarak antar pendaki semakin menjauh, seperti aku dan Duni yang tertinggal jauh dengan anggota lain.
Dari perjalanan lembab inilah aku belajar tentang “kekuatan dalam diri sendiri untuk percaya bahwa kita bisa”  begitu sugesti yang aku tuliskan dalam semangat perjalanan hari ini.
***

Puncak akhirnya aku gapai. Pijakan kaki di gunung tertinggi Indonesia akhirnya mampu ditaklukan di hari ke empat. Bukan perjalanan mudah, bukan perjalanan piknik, dan bukan perjalanan diatas kertas untuk ke sana. Ada rasa haru rasanya ketika puncak itu kami taklukan. Bersama pendaki lainnya kami merasakan haru ketika pijakan kaki ini berada di puncak tertinggi kerinci. Bukan omong kosong bahwa ada rasa puas dan takjub dengan ciptaan Tuhan. Kali kedua aku berada di puncak tak henti-hentinya aku mengucapkan syukur.
Aku melangkah kan kaki di tepi kawah yang terhalang kabut. Lelah memandang ke bawah aku beranjak meninggalkan tepian itu, kaki ini berdiri menuju ke tepian jauh pijakan puncak yang hanya panjang 150 meter dan lebar sekitar 6-8 meter ini. Barisan hutan yang biru, perumahan penduduk, dan hamparan the hijau menjadi penawar lelah pendakian.
“Trims teman-teman akhirnya kita berada di puncak bersama”

Pendaki dan Mendaki
Ungkapan pendaki adalah ungkapan untuk menyebutkan seseorang yang melakukan aktivitas perjalanan menuju ke puncak gunung. Sedangkan mendaki adalah proses aktivitas yang dilakukan seseorang ketika ia hendak mencapai puncak. Dua ungkapan  memiliki tali hubungan yang erat dan tidak terpisahkan. Maka untuk menjadi pendaki dan mendaki membutuhkan persiapan matang.       
Mendaki gunung saat ini menjadi trend yang terkadang telah menjadi gaya hidup anak muda. Namun gaya hidup dengan berpetualang ke alam bebas terkadang tidak mengindahkan dengan prinsip-prinsip alam tersebut. Kerusakan masal akibat aksi vandalis serta sampah gunung telah menjadi bagian rusak dari gaya hidup berpetualang ini. Masa bodoh, ego, serta hanya menjadikan gaya-gaya an seolah menjadikan nama pendaki menjadi terlihat labil.
Tidak ada prinsip ketat bagaimana menjadi pendaki dan menjadi yang baik.  Namun kemauan menjaga alam serta diri sendiri adalah ukuran penting untuk terlihat baik sebagai pendaki. Entah apakah ungkapan ini akan diamini oleh pendaki senior yang telah diakui seperti Gie, Edmund Hillary, atau Norman Edwin. Indonesia yang berada di jalur khatulistiwa menjadi gudang berdirinya gunung-gunung sepanjang pulau-pulau di nusantara. Maka ada baiknya memahami kembali sikap baik menjadi pendaki maupun keinginan mendaki. 

Perjalanan selama empat hari di Kerinci memperlihatkan kepada penulis selain kerusakan alam akibat vandalis serta sampah, penulis menjumpai berbagai dampak akibat dari kesiapan kurang para pendaki menyebabkan cidera anggotanya. Tidak jarang beberapa diantara mereka harus ditandu menuju ke pos dasar yakni R10, tempat pelaporan pendaki untuk mendapat pertologan. Salut untuk kesigapan petugas sukarelawan yang siaga di setiap pos pendakian memudahkan pertolongan bagi pendaki yang cidera.
Oleh karena itu, guna menghindari hal diatas ada baiknya seorang pendaki sebelum mendaki melakukan persiapan yang cukup dan berulang guna menghindari dampak cidera maupun dampak negativ yang tidak diinginkan.
Priondono

Catatan Perjalanan Koe: Seuntai keindahan di Puncak Lawang





“ Satu kata untuk Puncak Lawang yakni indah “
Sabtu, 21 November 2015
Suasana dingin mulai merambat ke seluruh tubuhku. Aku kembali memulai perjalanan yang dekat dengan alam, Puncak Lawang nama tempat itu. Benar juga rasanya ketika seorang traveler urang awak mengatakan bahwa Sumatera Barat memiliki nilai jual yang tinggi dalam hal wisata. Namun kurangnya motivasi dalam melakukan promosi serta ketersediaan sarana yang kurang lengkap ditambah minimnya dukungan lingkungan sosial membuat ikon-ikon wisata yang ada di ranah minang ini meredup. Oleh karena itu butuh tanggapan serta respon posotif dari semua pihak terkait untuk mewujudkan nilai jual wisata ranah minang dikenal khalayak ramai.
Sumatera Barat adalah bentangan wilayah nagari-nagari yang  kaya akan wisata mulai dari bagian pesisir pantai, wisata kuliner hingga wisata alam pegunungan. Salah satu wisata alam pegunungan  adalah  keindahan alam dari Puncak Lawang yang berada di Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Puncak Lawang, dari namanya bisa ditebak bahwa wisata ini berkaitan dengan alam pegunungan. Suhu udara yang terus dingin sepanjang hari membuat udara di Puncak Lawang cukup lembab. Puncak Lawang yang berada di ketinggian 1210 Mdpl ini bisa menjadi pilihan wajib bagi penyuka wisata alam untuk singgah ke Sumatera Barat.
***

Perjalanan dengan grup PPG-UNP cukup melelahkan dari titik kota Padang- Puncak Lawang berakhir sekitar jam 12.30 WIB. Sekitar tiga jam perjalanan melalui rute via kota Padang-Pariaman-Malalak-Puncak Lawang. Sembari menunggu jatah makan siang yang terbatas aku menikmati untuk kali pertama udara dingin dan panorama alam dari Puncak Lawang ini bersama belasan rombongan lain. Puncak  Lawang bisa dinikmati siapa pun dengan topografi yang minim curam layaknya cadas pegunungan. Selain itu  Puncak Lawang juga menawarkan keindahan arsitektur atau tata bangunan yang menarik. Keberadaan kantin, penginapan, serta bangunan lain ada di Puncak Lawang. Beberapa bangku serta meja tersusun elok menghadap Danau Maninjau dan bukit-bukit yang hijau. Sebuah keindahan yang sempurna.
Keindahan alam Puncak Lawang ini konon juga telah digunakan oleh pembesar kolonial Belanda untuk beristirahat sembari melihat pemandangan Danau Maninjau dari Puncak Lawang ini. Selain itu, ikon Puncak Lawang  pun menjadi destinasi untuk promo wisata international yang dilakukan oleh pemerintah Sumatera Barat beberapa waktu lalu melalui ajang Tds (tour de singkarak).  Jadi bukan isapan jempol kiranya menjadikan Puncak Lawang sebagai plihan di akhir pekan seperti Sabtu minggu untuk berwisata keluarga maupun pribadi.
***
Aku menyandarkan bahuku di sebuah bangku putih yang menghadap ke perbukitan yang merapat. Usai serangkaian aktivitas game outbond ala  PPG aku menghabiskan waktu di bangku tua yang masih kuat ini. Rintikan hujan semakin deras membuat Puncak Lawang terlihat kembali menyepi. Tenda dan penginapan di sesaki dengan hawa manusia yang memilih menghangatkan tubuh ketimbang berhujan ria di luar. Memang menurut Zaki selaku leader outbond mengatakan Puncak Lawang identik dengan hujan.
Aku bermalasan memandang hari sore yang semakin gelap. Gumpalan mendung menutup hari sore akan cerah. Padahal jika sore itu cerah matahari akan menawarkan keindahan dengan sunset diantara danau maninjau. Namun begitulah, akhirnya setelah obrol sana sini dengan rekan PPG aku bergerak menuju sebuah warung yang terawatt rapi tak jauh dari bangku tempat aku meneduhkan diri.
“Buk mie gelas ya…” pesanan mie gelas seharga delapan ribu menjadi penawar untuk kepalaku yang agak sakit, mungkin akibat air hujan. Hujan yang semakin riuh dengan derasnya air dari langit membuatku nyaman dengan hangatnya bangunan warung yang tertutup dari hembusan angin dan rintikan hujan. Sembari menikmati hidangan mie ditambah dengan gorengan yang masih panas aku menikmati sarana yang ada di Puncak Lawang. Jadi bagi yang hendak bermalam di Puncak Lawang dan mencari souvenir di sini tersedia cukup lengkap, sayang sekali penulis tak sempat  untuk bertanya perihal berapa harganya.
***
Minggu, 22 november 2015
Tring…tringggg
Mataku masih setengah terpejam ketika alarm dari HP Samsungku mulai berdering. Setelan alarm  jam 5 pagi memaksa aku untuk beranjak dari tenda no 1 ini. Usai salat aku masih menggerakan badan dan mata. Kegiatan serimonial malam hari dan penyerahan hadiah masih menyisakan lelah yang sangat di badan.
Terlihat siluet bayangan manusia yang berada di dataran Puncak Lawang. Rupanya kesamaan untuk mencari moment memang dimamfaatkan tidak hanya oleku namun juga belasa rekan lainnya bahkan puluhan nantinya. Dengan berbekal kameramilik hendar ivana  aku mengabadikan moment itu. Jepret sana sini menghasilkan gambar yang indah pagi itu. 

Usai aksi jepret sana sini aku kembali duduk di sekitar bibir Puncak Lawang. Sebuah bangku besi anti karat aku hadapkan kea rah danau maninjau. Danau yang menjadi salah satu pencarian utama penduduk maninjau. Udara pagi terlihat sopan menghembuskan oksiden pagiya. Aku menarik resletingku semabri menikmati udara pagi ini. Desiran angin terlihat tak membuat riak-riak kecil di pinggiran danau. Sungguh tenang.
Dataran luas yang ditumbuhi oleh rumput hijau ini mempunyai ukuran sama seperti lapangan bola. Deretan bangku besi tak berkarat juga sengaja disediakan sebagai penawar lelah ketika menikmati keindahan alam di Puncak Lawang.
***
Matahari pagi mulai menampakan cahaya indahnya. Pantulan hangat mentari pagi jatuh begitu saja ditanah hijau yang membutuhkan cahaya keindahan. Beberapa saat usai olahraga pagi sarapan pagi bersama kami berhamburan lagi ke tepian Puncak Lawang. Entah kenapa seolah tak pernah ada rasa puas untuk kami menikmati keindahan dari atas tertinggi ini. Mungkin  benar juga ungkapan orang bijak jika keindahan yang dilihat dari ketinggian tidak hanya indah yang akan dirasakan namun juga ada kedamaian.
Aku sendiri kerap berpindah antara satu bangku ke bangku lainnya. Seolah tak ingin melewatkan apa pun perubahan dari puncak ini. Danau Maninjau yang terlihat suram di pagi buta mulai menampakan warna tawarnya. Seiring waktu hembusan angin lantas membawa gumpalan-gumpalan awan ke sekitar danau. Panorama yang terlihat seperti magic selalu berubah. 

“1…..2……3…..” aba-aba foto terlihat akur didengarkan oleh mereka yang  ingin mengabadikan moment ini dan nanti berakhir di media sosial. Berbagai foto dengan aksi senyum, tertawa, bahkan dengan gaya meloncat terabadikan dalam bingkai kamera digital ini. Sungguh hari yang berbahagia. Sayang sekali waktu menikmati ala mini tak lah begitu lama.



 

catatan perjalanan : Menelusuri kota peradaban Sawalunto


“ Di sini pernah ada cerita, tentang sebuah kisah yang menjadi bagian sejarah “
Rasa penasaranku tentang kejayaan lama kota tua Sawalunto  akhirnya terbayar kala aku menyambanginya awal November lalu. Bacaan ku tentang keindahan, sejarah, potensi, serta kebudayaannya membuatku tergerak datang ke kota kecil ini. Sawalunto  adalah peradaban, kota yang di masa lalu menjadi daerah yang maju dengan segala fasilitas yang ada. Seperti timur tengah yang maju karena potensi minyak begitu juga dengan kota kecil ini. Batu bara adalah komoditi yang sampai saat ini masih digali dan dimamfaatkan di kota Sawalunto  ini.
Perjalanan tiga jam bersama rekan junior bernama Ryan dari kota Padang membuatku terkesima dengan kota ini. Sebuah kota yang megah dan tertata rapi berada di pedalaman yang jauh dari ibu kota provinsi maupun pesisir pantai. Kejayaan masa lalu masih dapat dilihat hingga saat ini, baik berupa bangunan lama seperti Hotel Ombilin, rumah sakit, balai kebudayaan, tempat-tempat ibadah, hingga pabrik batu bara ombilin. Destinasi panorama alam serta kota Sawalunto  dapat dinikmati dari sisi jalan kota yang menanjak ini.


Sawalunto  mulai dikenal dan mendapat perhatian dari pemerintah kolonial Belanda sejak ditemukannya mutiara hitam “batu bara” oleh Ir.De Greve pada pertengahan abad ke 19. Sawalunto  yang pada awalnya dikenal sebagai kenagarian kecil dan pedalalaman disulap dalam beberapa tahun ke depan menjadi kota peradaban yang megah. Sampai saat ini bukti kemegahan kota yang berada di bawah provinsi Sumatera Barat masih dapat ditemukan. Salah satu bukti kemegahan itu adalah jalur lintas kereta api yang pertama kali dibangun tahun 1894. Pembangunan jalur lintas ini menghubungkan antara kota Sawalunto  dengan pelabuhan teluk bayur yang dulu dikenal dengan pelabuhan Emmahaven. Sayang sekali keberadaan jalur lintas kereta api ini belum terurus dengan baik. Mungkin ada saatnya nanti.
Namun dibalik cerita kemegahan ini tetap ada cerita penindasan sebagai “tumbal” dalam kemajuan industri. Pembangunan dan penggalian yang dilakukan oleh kaum kapitalis penjajah memaksa banyak derita dari berbagai suku bangsa di Sawalunto  ini. Pekerja-pekerja paksa didatangkan dari luar sumatera barat untuk bekerja kotrak di sini. Kebutuhan terhadap tenaga kerja ini lantas mempertemukan manusia-manusia dari berbagai suku. Hingga saat ini keanekaragaman etnis masih dijumpai dengan mudah di kota Sawalunto . Butuh waktu yang panjang untuk menuliskan kembali cerita Sawalunto  yang menjadi titik pertemuan suku-suku antar bangsa dengan pembangunan megah kaum kapitalis.   



Jika ingin menengok bagaimana masa lalu dari peradaban kota Sawalunto  maka singgahlah ke tiga tempat yakni Museum Goedang Ransoem, Lubang Mbah Sueroe dan Museum Kereta Api. Ketiga tempat ini menyajikan data dan gambar peninggalan sejarah. Sedangkan, untuk mengunjungi ketiga tempat ini  tidak terlalu sulit dicapai baik dengan kendaraan maupun dengan berjalan kaki. Berkunjung ke tiga tempat ini juga tidak menguras isi kantong. Harga  tiket yang dikenakan bagi pengunjung berkisar sekitar delapan ribu rupiah.
***
Sawalunto  adalah kota yang menyenangkan. Kota yang tidak terlalu luas ini setidaknya menjadi pilihan favorit bagi yang hendak berlibur. Bahkan menurut Imel seorang teman yang merupakan penduduk asli Sawalunto  mengatakan keindahan Sawalunto  tidak hanya ada pada siang hari namun juga pada saat malam hari. Dorongan pemerintah kota yang kembali menghidupkan suasana kota yang ramai membuat kota ini pun masih berdenyut di malam hari.
“Ada seni tarian musik dari minang bahkan dari Jawa” tutur Imel singkat kepadaku.
Rupanya dorongan pemerintah kota ini memang menyesuaikan dengan percampuran kebudayaan yang ada di Sawalunto . Kota Sawalunto  yang awalnya berdiri sebagai kota tambang di masa lalu mampu menampilkan diri saat ini sebagai kota wisata yang modern. Istilah pekerja paksa maupun orang rantai telah lama berakhir. Saat ini  para keturunan dari pekerja kontrak itu telah menyesuaikan dengan alam kemerdekaan. Oleh karena itu wajar jika sekiranya ketika berjalan-jalan di Sawalunto  yang merupakan bagian dari kenagarian Minangkabau namun bisa ditemui kebudayaan jawa yang lestari.
Pelestarian kebudayaan inilah yang menjadi magnet penulis pribadi untuk datang ke kota ini. Kota yang ramah dengan akses jalan yang teratur. Sekolah-sekolah berdiri dengan baik seiring dengan perkantoran. Selain menyajikan wisata sejarah dan kebudayaan, Sawalunto  kini mulai mengembangkan lagi destinasi keindahan alam lainnya yang bisa ditemukan di sini. Wisata tersebut antara lain keanekaragaman buah-buahan yang ada di kebun buah kandi, kemudian keindahan danau tambang yang dikenal dengan nama danau kandi, kebun binatang dan menikmati keindahan dari puncak cemara. Semua lokasi ini tidak terlalu berjauhan rasanya namun harus menggunakan kendaraan karena lokasi ini saling berjauhan antara satu dengan lokasi lainnya.

Loebang mbah soero

Lubang Mbah Suro adalah kebanggaan wisata dari kota Sawalunto  ini. Para pengunjung yang datang ke kota Sawalunto  biasanya akan menyinggahi lubang sepanjang 350 meter ini. Lubang ini merupakan lokasi tambang yang dahulu masih digunakan namun saat ini lubang ini dialihfungsikan sebagai lokasi wisata. Adapun lokasi ini terletak tidak jauh dari sekitar pusat kota. Bisa dikatakan bahwa lokasi ini berdekatan dengan Museum Goedang Ransoem. Dengan membayar delapan ribu pengunjung akan diajak berkeliling sekitar lubang tersebut.
Untuk menelusuri lubang Mbah Suro ini pengunjung terlebih dahulu mengisi daftar pengunjung sekaligus membayar tarif masuk. Setelah itu pengunjung diminta untuk mengenakan perlengkapan berupa helm penutup kepala dan  sepatu boot. Dua perlengkapan ini dipinjamkan gratis selama menelusuri lubang Mbah Suro tersebut.
Sedangkan untuk menelusuri lubang Mbah Suro pengunung akan ditemani oleh seorang pemandu. Pemandu inilah yang akan memberikan penjelasan selama perjalanan berupa sejarah lubang Mbah Suro dan penjelasan tentang bahan tambang batu bara yang ada di sekelilingnya.
“Jadi setiap pengunjung yang masuk dilarang membawa korek api bahkan merokok karena bahan tambang ini masih aktif” ujar pemandu  tersebut.
Menelusuri lubang Mbah Suro ini membawa kami mulai dengan menuruni tangga kemudian berbelok naik. Menurut penjelasan pemandu mengatakan bahwa nantinya lubang Mbah Suro ini diperluas hingga beberapa ratus meter ke depan. Dimana pengunjung tidak lagi harus berjalan kaki namun cukup dengan kendaraan yang berjalan di atas rel.
“Seperti lori atau kereta kecil lha” ujarnya menutup perjalanan kami yang telah tiba kembali di permukaan usai 30 menit berada di dalam lubang Mbah Suro.    

      

Catatan perjalanan : Tempat Pengasinganku adalah Rumahku

( Catatan perjalanan : Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende-NTT ) Perjuangan seperti apa yang bisa dilakukan Dalam keadaan terkucil sep...