Catatan Perjalanan : GUNUNG TUJUH, DANAU DI PUNCAK TERTINGGI






Udara hari itu sangatlah dingin, usai berkelana menjelajah Pulau Jawa selama 100 hari akhirnya aku telah berada di tanah Kerinci, Jambi. Kali ini hari Minggu, 15/2 aku melakukan lanjutan perjalanan menuju destinasi wisata alam selanjutnya. Tempat itu bernama Gunung Tujuh. Bagi para pendaki dan menyuakai wisata alam  nama  Gunung Tujuh tidak terlalu asing untuk di dengar, sebaliknya pesona alam yang indah serta eksotis menjadikan gunung ini layak dikunjungi oleh para pendaki ataupun pencinta alam. Gunung Tujuh merupakan danau yang terletak di atas pegunungan yang tinggi, setidaknya membutuhkan waktu 3-4 jam perjalanan dari pos awal gerbang Gunung Tujuh.
Aku (Priondono), bersama Mirna, Erna, Eko, Ade, dan beberapa pemuda asli asal Kayu Aro bersama untuk melakukan perjalanan ini. Akses perjalanan menuju Gunung Tujuh tidak terlalu sulit. Kendaraan umum maupun pribadi bisa menjadi alternatif dibandingkan harus berjalan kaki dari jalan raya menuju pos gerbang Gunung Tujuh sekitar 3 km atau 20 menit perjalanan dengan kendaraan. Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan track berjalan kaki secaa menanjak kemudian menurun dengan tingkat kemiringan secara bervariasi. Secara pribadi, Perjalanan ini adalah kali pertama yang penulis lakukan setelah menunggu selama 25 tahun. Keinginan lama untuk mendaki Gunung Tujuh yang terdapat danau itu terwujud di tahun 2015.
***
Jam tangan ruggerku menunjuk waktu 10.00 WIB, udara Kayu Aro masih dingin untuk aku yang baru kembali dari tanah Jawa. Aku ada janji untuk melakukan petualangan di alam bebas lagi, dan kali ini tempat itu bernama  Gunung Tujuh. Miyrna dan beberapa teman-teman lainnya telah berada di stand by di Simpang Tugu Harimau, Kersik Tua sebagai lokasi berkumpul.
“Maaf agak telat..” begitu ucapanku karena memang seharusnya kami pergi sekitar jam 09.30 WIB.
Perjalanan dengan agak santai aku lakukan selama kurang lebih dari 1 jam perjalanan, jika lokasi berkumpul kami dalah Tugu Harimau, maka sebenarnya penulis memulai perjalanan ini dari  titik desa Sako Dua, Kayu Aro Barat. Mengendarai tunggangan lamaku sepeda motor merek astrea supra kami bersiap menaklukan perjalanan sekitar 5 km dari atau danau yang terletak di ketinggian 1950 Mdpl.

Aku tidak membawa peralatan yang banyak, sebuah tas yang memang biasa aku gunakan dalam perjalanan hacking tidak banyak membawa barang jadi telalu padat. Air minum secukupnya, nasi bungkus, cemilan makanan ringan, karung untuk pengganti sajadah, penutup kepala, kamera digital, dan bendera merah putih menjadi perlengkapan dasar yang aku bawa. Perjalanan sehari ini memang membutuhkan waktu seharian namun untuk pelengkapan cukup membawa peralatan yang sederhana.   Sedangkan Eko dan teman-teman lainnya hanya membawa bekal makanan yang dikira juga sudah cukup. Sesampai di lokasi terakhir pemberhentian sepeda motor kami membayar parkir 5000 rupiah dan membayar retribusi masuk Gunung Tujuh sebanyak 5.000 rupiah. Dan setelah itu kami pun bersiap untuk melangkah berjalan menanjak dan menuruni perbukitan menuju Gunung Tujuh.
Cuaca tidak terlalu panas walaupun matahari menyinari kami pada saat itu. Gumpalan awan-awan putih Nampak menggunung di atas kepala. Perjalanan yang dimulai sekitar jam 11.00 lewat. Treck pendakian atau hacking ini memiliki variasi. Pada awalnya pejalan akan melintasi jalan datar dan sedikit menanjak, dimana posisi sebelahnya adalah ladang-ladang petani yang ditanami dengan tanaman bulanan seperti kentang, cabe dan tanaman yang dipanen per bulanan tersebut. Karena jalan tidak terlalu rata dan harus menanjak maka suara nafas mulai terdengar tersengal-sengal. Tiap salah satu terasa lelah maka perjalanan kami berhenti sejenak. Sambil bercerita lepas aku pun mulai mengenal mereka satu per satu, cerita dalam pertemanan sehari.  
***


“Dari mana?” tanyaku kepada sekelompok pemuda yang kebetulan sedang beristiahat di sebuah pepohonan di depan kami.
“Dari dhamasraya bang..”
Begitulah jawaban singkat ketika kami mulai berkenalan antar satu dengan yang lainnya. Pendakian yang dilakukan oleh sekelompok pemuda yang berlabel mahasiswa ini rupanya tidak hanya sekedar hacking di pegunungan dingin ini namun juga hendak bermalam di sekitaran Gunung Tujuh. Sebuah tas carel besar dengan dipadu peralatan sewa lain berupa matras terlihat di sela-sela tas yang mereka bawa. Kami tidak berkenalan lebih lanjut karena harus segera samapi di Gunung Tujuh dan menikmati alam indah tersebut sebelum hari beranjak sore.
Perlahan langkah kaki yang tadinya semangat kini mulai agak melemah. Entah berapa kali perjalanan ini agak tiap sebentar berhenti sejenak. Haus, lelah, dan lapar terdengar hingar binger. Tidak jarang barisan ini mengucapkan. “wolon..wolon” begitu ujar mereka dalam bahasa jawa yang artinya saatnya berhenti sejenak dan makan perbekalan. Perbekalan yang hanya cukup untuk hacking dirasa cukup membuat kami tidak terlalu khawatir dengan perbekalan akan habis. Walaupun akhirnya kami berhenti toh kami masih bisa menahan diri untuk tidak memakan nasi kecuali perbekalan air minum dan makanan ringan saja.
*** 

Bendera merah putih akhirnya aku bisa menegakan kamu di tanah tertinggi di Gunung Tujuh.
Angin yang bertiup mengibarkan bendera ini dengan penuh gagahnya. Alam bangsa Indonesia adalah bagian dari kesejatian nasionalisme. Terima kasih Indonesiaku.
Aku bersorak kecil ketika menuruni perbukitan menuju ke pinggiran danau. Suasana  dingin amat kurasakan ketika berada di tepian danau tersebut. Segera aku kenakan kembali jaket hijauku lengkap dengan penutup kepala. Rasa dingin semakin terasa ketika hembusan angin sampai di wajah. Walaupun aku tidak menemukan feel sesungguhnya danau ini ketika matahari terbit namun aku merasakan rasa dingin dan alam yang senyap di sekitaran danau yang menambah rasa eksotis alam danau Gunung Tujuh.



Suasana danau yang kian sepi karena ditinggalkan paa pengunjung hanya menyisakan kami bertujuh di sekitar danau. Walau sebenarnya dai kejauahan Nampak sebuah tenda merah masih berdiri.  Usai mengambil foto berupa pemandangan alam sekitar dan foto bersama bendera Indonesia akhirnya telah sampai di batas normal. Santapan siang yang kini menjadi dingin seketika tandas di makan bersama. Sayangnya perjalanan ku ini berlabel hacking padahal ingin rasanya perjalanan ini adalah nginap. Seperti saat aku mendaki merapi. Dengan waktu yang sedikit ini lekas aku mengabadikan moment dengan hasil foto melalui kamera digital ini.

Danau Gunung Tujuh nan eksotis
Secara geografis letak, Danau Gunung Tujuh terletak di Kabupaten Kerinci, Jambi. Atau tepatnya di Desa Pelompek, Kecamatan Gunung Tujuh. Luas area Danau Gunung Tujuh ini sekitar 9,6 km², dengan  Ketinggian laut yakni 1.950 M. sedangkan  panjang yang dimiliki oleh danau ini 4,5 km dan lebar 3 km. penamaan Danau Gunung Tujuh menurut banyak orang atau penduduk sekitar dikarenakan letak danau ini diapit oleh pegunungan yang berjumlah tujuh buah. Sayang sekali penulis tidak mempunyai waktu yang cukup untuk melakukan dokumentasi keindahan alam danau ini yang diapit tujuh pegunungan, kecuali beberapa pegunungan saja yang tampak.
Pemilihan danau ini sebenarnya menjadi rute lanjutan juga pendaki Gunung Kerinci usai menaklukan puncak tertinggi di Indonesia tersebut. Jarak antara pos gunung kerinci tidak terlalu jauh jika ditempuh dengan kendaraan umum dalam bentuk sewa. Maka setelah Gunung Kerinci perjalanan dilanjutkan menuju Danau Gunung Tujuh seolah menjadi hal yang harus dilakukan bagi pencinta alam. Jadi biasanya bagi telah mencoba bermalam di Gunung Kerinci maka ia pun harus juga bermalam di tepian Danau Gunung Tujuh.
Dalam perjalanan ini tidak ada hal atau masalah yang dilalui kecuali fisik yang memang terkuras ketika melakukan hacking ini. Jika waktu normal membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam hal ini bisa terasa lebih lama hingga lima jam. Oleh karena itu tidak ada salahnya bagi penikmat alam hendaknya melakukan olaraga terlebih dahulu agar terbiasa melewati treck jalan yang memang tidak ramah bagi pejalan kaki.  
                                                      jepret gambar 
 jepret gambar II 


Catatan Perjalanan : Nangaba is wonderful





 “Nangaba is wonderful…” begitulah kalimat yang terungkap ketika penulis melakukan hacking di air terjun ini. Air terjun setinggi sekitar 25 meter ini mer upakan wisata alam yang terletak di pedalaman yang jauh dari Kota Ende. Jarak yang jauh serta track jalan yang agak berat toh tidak membuat semua personil guru-guru muda SM-3T yang mengikuti hacking ini merasa menyesal. Sebaliknya rona-rona kepuasan akan perjalanan ini terpancar. Entah berapa jepretan dari berbagai kamera berhasil mendokumentasikan perjalanan serta air terjun ini. Daya tarik dari Nangaba ini memang bukan sekedar isapan jempol saja. Beruntung rasanya bisa sampai di wisata alam yang terletak di flores ini.


Perjalanan ini merupakan perjalanan liburan yang dilakukan oleh penulis bersama guru muda SM-3T asal Jogjakarta UNY. Pemilihan Nangaba merupakan pemilihan yang berawal dari penuturan rekan guru muda SM-3T lainnya yang pernah berkunjung ke air terjun tersebut. Nangaba yang merupakan air terjun alami dan baru dikenal juga penulis dengar dari warga sekitar. Menurutnya air terjun ini dulunya tidak pernah ada yang tahu, bahkan hanya segelintir orang desa saja yang kebetulan mencari kayu atau berburu sampai di air terjun ini. Namun sekarang air terjun ini menjadi daya tarik wisatawan baik dalam negeri maupun luar negeri. 


Untuk mencapai air terjun Nangaba dimulai dari basecamp UNY di jalan Ujung Aspal. Ketika matahari menunjukan waktu 07.00 WITA, rombongan yang berjumlah belasan guru muda SM-3T ini bersiap untuk segera berangkat. Melewati pasar Kota Ende terlebih dahulu beberapa diantaranya sarapan dan menyiapkan bekal. Perjalanan menuju ke air terjun Nangaba ini disepakati melalui jalan lintas alam. Artinya wisata alam ini akan dilakukan dengan track ala hacking. Oleh karena itu stamina menjadi kebutuhan utama agar mampu menjalani track hacking yang lumayan berat. Usai sarapan rombongan ini mencari angkutan umum arah kecamatan nangapanda. Dengan modal ongkos sekitar 5000 rupiah akhirnya perjalanan ke air terjun Nangaba siap dimulai. 


Rute untuk mencapai air terjun Nangaba ini dapat dilalui dengan dua jalan, pertama melalui jalan pedesaan yang bisa dilalui dengan motor maupun mobil. Perjalanan ini nantinya akan berhenti di dusun Woloora, desa Tonggopapa, kecamatan Ende. Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju ke bawah dengan berjalan kaki. Untuk waktu yang dihabiskan jika dimulai dari Kota Ende hingga di air terjun Nangaba ini sekitar 1,5 jam atau 2 jam. Jalan kedua untuk mencapai air terjun Nangaba ini dapat juga dilakukan dengan jalan kaki. Sama halnya yang penulis bersama guru muda SM-3T lakukan ini. Usai menaiki angkutan umum ini penulis bersama rombongan berhenti di simpang masuk di jalan raya. 


Perjalanan yang dicapai dengan jalan kaki ini setidaknya melewati perumahan warga desa. Ketika melewati batas akhir perkampungan entah kenapa ada jasa seorang pemuda yang menawarkan diri untuk mengantar ke air terjun tersebut. Pada awalnya kami menolak namun agaknya memang si pemuda tadi hendak memberikan jasa bantuan tersebut tanpa bayaran. Walaupun pada akhirnya kami sekedar memberikannya beberapa cemilan serta uang beberapa ribu rupiah. Perjalanan usai melewati batas akhir perkampungan dilalui dengan jalan mengikuti alur sungai yang terkadang menanjak serta semak belukar. Jika jalan pertama menghabiskan waktu sekitar dua jam maka perjalanan dengan cara hacking ini membutuhkan waktu yang lebih lama yakni hampir empat jam perjalanan. Air terjun yang terletak di alam ini juga saat itu belum memiliki retribusi yang ditentukan oleh pemerintah setempat. Maka dari itu perjalanan ini memang tetap membutuhkan biaya namun biaya untuk pribadi. Jika dilihat perjalanan ini memang penulis agaknya memberikan saran bahwa Nangaba yang merupakan wisata alami ini perlu mendapat perhatian pemerintah dengan perbaikan jalan atau peningkatan lokasi seba gai lokasi hacking yang nyaman serta menarik pengunjung

 
. *** 



Wisata alam ala hacking ini tidak hanya melalui jalan yang lebih panjang dan berliku namun juga pemandangan alam yang tersaji ketika hendak menuju ke air terjun tersebut. Lintasan-lintasan alam berupa batu-batuan yang besar serta genangan air yang tenang menjadi view yang menarik bagi penulis pribadi dan rombongan lainnya. beberapa kali kami juga harus menyebrang melalui jembatan berupa polongan air maupun batu yang sulit untuk di seberangi. Tips memang untuk melakukan hacking ini adalah sebaiknya mengenakan pakaian yang simple serta makanan yang cukup sebagai bekal karena ketika berada di air terjun tersebut tidak ada toko makanan maupun minuman secara bebas dan legal. 
Sekitar pukul 11.00 WITA akhirnya perjalanan ini sampai di puncak keindahan yakni air terjun Nangaba . Ketinggian serta lebar air terjun ini memang menjadikan air terjun ini berbeda dengan lainnnya. Bahkan dalam bahasan artikel yang pernah penulis baca bahwa debit air ini tidak menurun walaupun kondisi alam sekitar ende sedang mengalami musim kemarau. Curah air inilah yang mungkin dimamfaatkan oleh warga sekitar untuk membangun polongan besi yang berisi air guna mencukupi kebutuhan air di sekitar. Ketika musim kemarau memang kebutuhan akan air menjadi hal utama untuk didapatkan. 


Geliat air terjun yang deras dengan airnya serta peluh keringat yang hinggap membuat rasa ingin segera merasakan kesejukan air tersebut. Tidak butuh lama dan aba-aba ketika masing-masing dari rombongan mulai mencoba dingin dan sejuknya air terjun tersebut. Pada awalnya berenang yang dilakukan dengan cara melewati batas tepi, namun melihat tebing datar dan menanjak di sekitar air terjun mereka mencoba dengan gaya lainnya yakni melompati dari batas normal ketinggian. Hasilnya wah hasil jepretan maupun rasa bagi yang mencoba cukup seru.
Waktu terus beranjak menunjukan hari yang semakin siang. Kami hanya berenang sejenak sebelum akhirnya menunaikan Salat Zuhur dan makan siang. Setelah itu aktivitas berenang dilanjutkan. Ibarat kesempatan mungkin ini adalah kesempatan yang didapatkan sekali, khususnya penulis yang terbiasa dengan wilayah pesisir pantai kampung aewora ini. Oleh karena itu tanpa ba-bi-bu kami mulai menikmati keindahan alam Nangaba dengan berenang di terjun ini. Airnya memang sangat dingin, sesuai dengan kondisi alam yang epkat dengan hutan, letak ketinggian yang tidak terlalu dalam jadi memudahkan bagi pengunjung untuk berenang ke tempat ini. Dalam perjalanan ini penulis dan rombongan tidak hanya ditemani oleh rombongan itu sendiri namun juga rombongan lain yakni sebuah keluarga yang sengaja singgah ke air terjun ini. Rupanya sedari dulu mereka hendak ke sini namun ketika masa libur lebaran akhirnya mereka sampai di sini. Sedikit salam kenal dan foto-foto akhirnya. Perkenalan yang singkat ini juga membawa kami pada kesimpulan yang sama yakni tertarik datang karena adanya cerita berupa pengalaman sebelumnya.
*** 

Rombongan kembali berkemas usai berenang dan makan siang. Bersiap untuk kembali ke Kota Ende melanjutkan aktivitas yang akan segera dilakukan. Jika pada awal pergi datang dengan jalan hacking ini maka lain halnya dengan pulang rombongan hacking ini pulang dengan jalan kedua. Jalan ini tidak terlalu sulit hanya sedikit menanjak dan tiba di perkampungan warga. Tidak butuh waktu lama sebuah mobil proyek melintas di depan kami. Dengan kebaikan dari si pemilik mobil kami pun beranjak meninggalkan titik tempat air terjun itu. Kepuasan terlihat di wajah kami. Penulis pun berharap ada waktu lain yang bisa membawa penulis kembali ke tempat ini. Semoga, 

Jepretan kamera




Jepretan kamera


Jepretan kamera


Jepretan kamera




Jepretan kamera



Catatan Perjalanan : Kali terakhir: Berkunjung ke kota religius



Jalanan ini begitu panas menyengat, entah berapa kali aku harus menyeka keringat yang bercucuran sambil mencari tukang tambal ban….”



Langkah pertamaku tidak mulus ketika memulai perjalanan menuju ke Flores Timur yakni Larantuka. Ketika baru beberapa Km keluar dari Kota Maumere perjalanan panjang ini harus terhambat dengan pecahnya benen ban motor yang kendarai. Alhasil selama sejam kurang masih harus mencari tukang tambal ban dan mengganti benen ban yang pecah tersebut. Memang sangat resiko jika harus menambal benen dengan rute perjalanan yang masih panjang.  
Larantuka aku tidak mengenal dekat dengan daerah tersebut. Namun yang jelas daerah ini  merupakan kabupaten yang terletak di pulau flores di bagian timur. Untuk mencapai Larantuka setidaknya membutuhkan waktu normal sekitar empat hingga lima jam perjalanan. Jika melihat rute perjalanan kali ini terlihat ada perbedaan, dimana perjalanan menuju ke Larantuka lebih nyaman dibanding dengan track jalan di daerah flores lainnya. Track jalan menuju ke Larantuka ini tidak terlalu berbelok maupun menanjak. Sebalikya jalanan aspal yang melebar serta lurus menjadikan perjalanan ini bisa dilalui dengan nyaman.

 Adapun perjalanan kali ini penulis lakukan bersama beberapa orang yakni aku, Intari, Romi, serta Risa. Larantuka merupakan ikon wisata agama di flores ini. Untuk satu waktu yakni bulan April Larantuka menjadi ikon wisata rohani yang bertaraf international. Perayaan samanta santa adalah perayaan tahunan yang diadakan di wilayah timur flores ini. Ribuan orang datang berduyun-duyun ke tempat ini untuk menyaksikan secara langsung ritual keagamaan Katholik.




Lain halnya jika berkunjung di luar hari tersebut penulis bersama rekan-rekan melihat bahwa kota Larantuka ini   sepi dengan ikon wisata layaknya di wilayah flores lainnya. namun ini hanya sebatas Larantuka saja, ketika ada kesempatan untuk melewati atau menyebrang dari Larantuka ke Lembata atau Alor dan pulau-pulau lainnya kita akan melihat ikon wisata dunia yang hanya ada di Flores Timur. Namun penulis tidak sempat menyinggahi pulau-pulau tersebut karena keterbatasan akan waktu serta dana. Maka tema yang penulis ambil ketika melakukan perjalanan ke Larantuka adalah last touring. Bagi penulis perjalanan Larantuka adalah bagian dari obsesi  menjelajahi daratan flores yang terbayar ketika berada di kabupaten tersebut pada awal Agustus 2014.

***
Perjalanan ini dimulai dari Kampung Aewora yang indah (bisa dilihat di http://priedn.blogspot.com/2014/07/catatan-perjalanan-kampungaewora.html.) Perjalanan ditempuh dengan menggunakan sepeda motor. Rute yang dilalui adalah Kampung Aewora-Kota Baru-Maumere-Larantuka. Perjalanan ini membutuhkan waktu normal sekitar 5 jam perjalanan dengan kecepatan normal. Saya yang menggunakan motor mio sewaan berangkat sekitar jam 09.00 WITA. Perjalanan ini penulis lakukan juga dengan rekan lain yang melakukan touring Larantuka dengan rute jalan yang berbeda yakni Kota Ende-Moni-Wolowaru-Maumere-Larantuka.
Dalam perjalanan ini sedikit terhambat ketika penulis harus melakukan servis motor terlebih dahulu dan peristiwa ban pecah. Servis motor ini sebenarnya dilakukan untuk menjaga kestabilan motor yang dipakai. Persiapan seperti ini memang sangat kecil dan kadang dilupakan namun jika melihat dampak positifnya tentu hal ini akan sangat berguna. Perjalanan panjang ke Larantuka tentu tidak hanya mengandalkan fisik yang kuat namun juga kondisi motor yang fit.
***


Ka foto dima lai ko kawan (mau foto dimana lagi kawan?)”
Perjalanan ke Larantuka berakhir jam 16.00 WITA. Perjalanan ini disambut oleh Romi yang telah terlebih dahulu sampai di Larantuka. Udara yang menghangat kurasakan menjadi sambutan atas kedatangan kami. Sejak kedatangan ini entah berapa kali jepretan demi jepretan kami lakukan untuk mengabadikan moment di Larantuka ini.



Larantuka yang terhampar dengan keindahan alam yang menawan. Sebagai wilayah yang terletak di ujung pulau timur ini,  penulis melihat hamparan pulau-pulau yang terpisah dengan Larantuka. Entah apa nama pulau tersebut, namun aku ingin ke sana, mungkin suatu ketika nanti. Barisan bukit yang kokoh menandai keindahan akan larantuka ini, tidak ketinggalan Gunung Ayah Ibu, Lewotobi menambah destinasi keindahan alam yang terlihat dari jauh. Ketika menelusuri jalanan masuk kota ini, ungkapan bahwa kota Larantuka adalah kota religius memang bukan sekedar nama saja. Dimana setiap sudut kota terlihat simbol agama yang berdiri dengan kokohnya. Walau seperti itu keberadaan masjid masih dapat ditemukan di tengah kota ini. Dimana masjid  tersebut terletak di perumahan muslim.  Selain itu, tatanan kota ini juga menarik dengan jalanan serta pertokoan yang rapi. Namun sekali lagi udara memang terlihat panas di kota ini layaknya kota lainnya yang ada di pulau flores ini.
Kota kecil yang merapat dengan banyaknya bangunan menjadikan jalanan ini dibuat dengan sistem satu arah. Tidak perlu khawatir karena sistem jalan di kota ini tidak terlalu rumit. Kota yang padat namun tidak terlalu luas memudahkan untuk memahami jalanan di kota ini. 

Adapun dalam mengambil gambar yang hendak di jadikan objek dapat dilalukan di berbagai sudut kota yang merupakan kota pesisir pantai. Objek tersebut diantaranya, Pertama pembatas jalan sebelum memasuki kota Larantuka. View yang dapat dilihat dari pembatas jalan ini adalah pulau-pulau kecil yang terdapat di sekitar Larantuka. Pemandangan laut yang membiru menjadi nilai tambah dalam melihat keindahan yang terdapat di pembatas jalan ini. Kedua, taman rohani Katholik yang terletak di pinggiran kota Larantuka. Adapun objek yang terlihat di taman ini adalah sebuah simbol agama Katholik yang dibuat dengan gaya artsitektur yang menarik.
***



Touring selesai ketika puas berada di kota Larantuka ini walau hanya sejenak. Dalam perjalanan kembali ke Aewora penulis singgah di sebuah jalanan yang terletak di pesisir wilayah Kabupaten Maumere. Dalam perjalanan singgah ini penulis bersama Intari menghabiskan waktu untuk memamfaatkan moment dengan mengambil beberapa gambar. Hasilnya menajubkan.  

 JEPRET 1




JEPRET 2



 JEPRET 3





JEPRET 4


JEPRET 5   
 

Catatan Perjalanan : Setapak menujuh Kampung adat Wae Rebo

“Selamat siang..” sapaan hangat dari masyarakat asli Wae Rebo ketika penulis bertemu mereka di jalan setapak ini.
 “Selamat siang juga bapa, mama, “ujarku membalas sapaan mereka sembari ikut mengulurkan tangan ketika mereka hendak menjabat tanganku ini.
Hal diatas adalah peristiwa yang lumrah namun mengesankan ketika penulis bersama Intari melakukan perjalanan dengan jalan kaki menuju Kampung adat Wae Rebo. Melalui batas awal dari kampung denge sebagai kampung terakhir yang bisa menggunakan motor maka rute selanjutnya adalah berjalan kaki. Pendakian yang tidak terlalu menanjak namun terus menerus ini menjadi pengalaman yang baru bagi penulis dan Intari berada di sini. Jalanan yang dilewati ini setidaknya menjadi uji nyali bagi penikmat alam yang jauh dari hingar-bingar keramaian kota.
Tulisan ini menuliskan rute pendakian yang penulis lakukan untuk mencapai Kampung adat Wae Rebo. Sebuah kampung yang menjadi magnet karena karakteristik kampung tersebut mampu bertahan hingga saat ini. Penghargaan yang didapatkan sebagai bagian dari warisan budaya dunia oleh UNESCO tahun 2012 menjadi bukti bahwa Kampung adat Wae Rebo merupakan bagian dari budaya bangsa yang mendunia. Tidak hanya wisatawan lokal yang sengaja untuk melihat Kampung adat Wae Rebo namun juga turis-turis asing dari berbagai belahan dunia datang dan singgah menikmati kekayaan alam dari Kampung adat Wae Rebo ini. Maka wajar kiranya Kampung adat Wae Rebo yang terletak di Manggarai Barat menjadi destinasi wisata yang terus menarik minat wisatawan, dan salah satu ikon yang patut dipilih selama di Flores ini.
Pendakian menuju Kampung adat Wae Rebo ini setidaknya akan melewati sungai serta perbukitan yang memiliki alur sebagai jalan setapak utama. Alur inilah yang digunakan oleh masyarakat sekitar untuk mengangkut bahan ke desa Denge untuk dijual maupun masyarakat yang membawa bahan makanan untuk dibawa ke Kampung adat Wae Rebo. Jalannan ini juga yang digunakan oleh wisatawan untuk berkunjung ke Kampung adat Wae Rebo. Maka wajar kiranya daam perjalanan wisatawan dan masyarakat bertemu untuk sekedar tegur sapa.
Pendakian untuk menuju Kampung adat Wae Rebo membutuhkan waktu normal sekitar 4-5 jam perjalanan. Namun bagi masyarakat asli waktu ini tentu akan terlalu lama karena mereka biasa mendaki dengan lebih cepat. Pada rute awal yakni dari desa denge usai menitipkan motor di rumah bapak blasius kami melakukan pendakian pada jam 06.30 WITA. Tidak hanya kami berdua, namun juga teradapat beberapa wisatawan asing dan domestik yang telah berjalan terlebih dahulu. Usai negosiasi tentang jalan pendakian dan porter kami akhirnya memilih untuk tidak menggunakan jasa porter yang dikenakan biaya 100.000 per hari ini. “biar hemat dikit” ujarku. Perjalanan panjang dari ende ke manggarai barat ini lumayan mengeluarkan ongkos yang besar untuk ukuran kantong Backpacker Sekalian seperti penulis ini.
Setidaknya dalam alur perjalanan ini dari batas kampung denge, perjalanan yang melalui jalan setapak belum terlalu mendaki,hingga batas sungai pertama. Kondisi jalan yang agak becek membuat kaki harus berhati-hati akan melangkah. Selain itu, binatang penghisap darah terkadang muncul walau tidak terlalu banyak. Maka dari itu pakaian yang hendak dipakai usahakan celana panjang dan baju panjang. Namun penulis tidak merekomendasikan kepada pengunjung ketika dalam perjalanan ini menggunakan baju yang berlapis atau tebal. Memang suhu udara dingin ketika berada di Denge maupun Kampung adat Wae Rebo namun dalam perjalanan kaki ini akan membuat badan terasa agak hangat bahkan berkeringat.
Titik pertama dari denge perjalanan setapak ini akan berhenti di waelembu, sebuah titik pemberhentian setelah melewati lintasan sungai yang kedua. Pada titik ini biasanya pengunjung beristirahat sembari melihat pemandangan alam hutan yang tertutup. Selain itu, tanda baca berupa pesan dari masyarakat Wea Rebo menjadi bahan bacaan selama pemberhetian ini. Salah satu pesan yang tertulis dari spanduk ini adalah permintaan kepada pengunjung untuk menjaga etika selama di alam liar seperti tidak membuang sampah sembarang tempat maupun berteriak-teriak tanpa alasan yang jelas. Sebuah pesan yang menjadi kearifan lokal di alam yang jauh dari keramaian. Penulis yang mengenakan baju hitam pendek serta celana training berbahan kain tipis seperti dasar payung sesekali menyeka keringat yang sudah mulai bercucuran. Sedangkan intari yang mengenakan kaos hitam ala jogja serta training juga merasakan hal yang sama. Usai beristirahat sejenak serta minum air seperlunya perjalanan dilakukan lagi. Kali ini rute waelembu menujuh ke Pocoroko agak terjal. Kondisi jalan yang terus naik ke atas serta babatuan bekas longsor membuat kami harus berhati-hati. Bahkan sesampai di jalanan ini kami bertemu dengan wisatawan yang mulai merasa kelelahan bersama porter yang sengaja mereka sewa untuk mengangkut beban tas yang cukup berat untuk dibawa ke Kampung adat Wae Rebo. Perjalanan yang ditemani dengan suara burung menjadi musik tersendiri yang nyaring terdengar. Hutan lebat yang membuat mata ini terbatas untuk memandang semakin terasa pekat ketika kabut putih mulai menyelimuti. Tidak ada hal yang mengusik keamanan selama perjalanan ini. Walaupun kondisi jalanan yang agak licin dan terjal namun langkah kaki tidak terbawa jatuh bahkan terpeleset. Maka penulis merekomendasikan bagi pengunjung yang hendak naik ke Kampung adat Wae Rebo hendaknya menggunakan sepatu atau sandal yang bisa nyaman untuk melakukan pendakian agar kaki tidak terasa pegal atau terpeleset. ***
Akhirnya perjalanan ini membawa kami ke Pocoroko. Tempat pemberhentian kedua, usai waelembu. Pada titik inilah biasanya masyarakat sekitar menggunkan jasa komunikasi dengan nyaman. Pada titik kampung Denge maupun Longos hingga Kampung adat Wae Rebo tidak terdapat jaringan untuk berkomunikasi. Jika masyarakat denge harus ke tepian pantai di perkampungan muslim dintor maka masyarakat Kampung adat Wae Rebo harus berjalan menujuh ke Pocoroko. Namun dalam perjalanan ini penulis dan intari tidak dapat menikmati romantisme sinyal tersebut, adanya akibat kabut tebal membuat jaringan ini agak terhambat. Melewati Pocoroko ini sebenarnya tidak terlalu jauh. Hanya sedikit pendakian dan penurunan menuju Kampung adat Wae Rebo. Selain itu, batas ukuran perjalanan juga sudah diukur dalam papan kecil yang sengaja ditulis dan ditanam di sekitar jalan setapak ini. Hal ini cukup membantu bagi pengunjung untuk segera sampai ke Kampung adat Wae Rebo. Penulis pun yang ikut terbantu setidaknya bisa mengatur ritme langkah untuk segera sampai di Kampung adat Wae Rebo tersebut. Dalam perjalanan ini penulis sesekali berhenti di papan penunjuk tersebut guna menuliskan kembali angkah yang telah hilang di papan. Tulisan yang ditulis rupanya terlepas dan hilang oleh karena itu berbekal spidol permanen tulisan itu kembali penulis ukir dalam tintah hitam. ***
Perjalanan yang membutuhkan waktu 4 jam ini kami lewati sekitar 3 jam perjalanan. Proses perjalanan yang terus jalan karena tidak inap di Kampung adat Wae Rebo membuat perjalanan ini harus dipercepat. Usai membunyikan tanda masuk pengunjung di sebuah rumah sebagai gerbang masuk penulis menuruni jalan menuju Kampung adat Wae Rebo. Perjalanan panjang ini akhirnya berakhir ketika mata ini memandang sendiri puncak-puncak Kampung adat Wae Rebo ini. Masyarakat yang tersenyum ramah menjadikan titik sambutan yang mereka lakukan kepada setiap pengunjung. Alam Kampung adat Wae Rebo memang indah, seperti dalam cerita maupun dalam tulisan orang-orang hebat yang pernah singgah di Kampung adat Wae Rebo ini. Waktu yang seolah tidak cukup dan terlalu cepat memaksa langkah kaki penulis untuk segera turun kembali denge. Perjalanan panjang terbayar usai langsung berinteraksi dengan masyarakat Kampung adat Wae Rebo dan utamanya alam Wae Rebo itu sendiri. jepretan kamera dalam bingkai gambar maupun video menjadi kenangan yang tidak terlupakan. * **
Untuk mencapai Kampung adat Wae Rebo memang sangat jauh. Penulis yang melakukan aksi Backpacker Sekalian dari Kecamatan Maurole (Ende) menuju ke Manggarai Barat memang membutuhkan waktu yang agak lama. Maka salah satu pilihan singgah dalam perjalanan ini dan memudahkan adalah penerimaan yang baik dari teman-teman Guru Muda SM-3T asal UNRI. Tema Backpacker Sekalian yang merupakan saling kunjung ini, juga sekalian untuk berwisata namun mana yang lebih dominan maka penulis ingin menyeimbangkannya. Kebaikan teman-teman Guru Muda SM-3T asal UNRI yang memberikan tempat untuk sekedar beristirahat setidaknya menjadi pengalaman bagi penulis yang melakukan perjalanan jauh ke Ruteng ini. Trims teman-teman sesama Guru Muda SM-3T…

Catatan perjalanan : Tempat Pengasinganku adalah Rumahku

( Catatan perjalanan : Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende-NTT ) Perjuangan seperti apa yang bisa dilakukan Dalam keadaan terkucil sep...