Catatan Perjalanan : Wae Rebo, kampung alam yang diselimuti awan

“what do you think about Wae Rebo?”
“Very nice, I like it”
 Percakapan itu merupakan bagian dari percakapan ala kadarnya penulis kepada Quentin dan Remi, dua turis asing asal negara Perancis yang berkunjung ke Kampung adat Wae Rebo Sabtu, (28/7). Tidak hanya dua turis asing ini namun juga banyak wisatawan dalam negeri yang menyempatkan diri untuk melihat secara langsung perkampungan yang terletak di atas pegunungan yang tinggi ini. Sama halnya dengan Quentin dan Remi, penulis pun yang melakukan perjalanan panjang demi melihat lekukan-lekukan rumah adat yang menjulang tinggi ke atas. Selain itu, nilai lebih dari kampung adat Wae Rebo adalah kemampuannya dalam menjaga eksistensi dirinya untuk bertahan hingga detik saat ini. Wajar kiranya Wae Rebo menjadi menu wajib yang harus dikunjungi oleh wisatawan ketika menginjakkan kakinya di pulau Flores ini.
Jam tangan penulis menunjukan waktu 09.30 WITA, ketika aku berada di kampung adat itu. Perjalanan selama 3 jam terbayar ketika mata ini memandang deretan jerami yang menjulang tinggi. Perjalanan ini bukan hanya perjalanan yang dilewati dengan menit atau jam melainkan waktu yang cukup panjang. Perjalanan yang penulis lakukan bersama rekan SM-3T Intari Nur Faisah merupakan perjalanan lintas kabupaten, yakni Kabupaten Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai Timur, hingga ujung barat Flores Manggarai Barat. Perjalanan yang menggunakan kendaraan bermotor ini memberikan efek touring yang panjang. Pencapaian menuju ke Wae Rebo adalah sebuah angan yang dipupuk hingga titik ini. Wae Rebo yang didaualat sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO tahun 2012 tentu menjadi sebuah ikon yang menarik hati bagi banyak kalangan,khususnya wisatawan asing. Blasius pemilik penginapan yang juga putra asli dari kampung Wae Reb yang menetap di desa Denge mengatakan hal serupa bahwa Wae Rebo menjadi sebuah magnet bagi banyak wisatawan. “Setidaknya setiap hari memang ada saja wisatawan domestik maupun luar negeri yang sengaja datang ke Wae Rebo “ ujar bapak yang memiliki empat orang anak ini.
Maka ketika bicara tentang Wae Rebo mindset yang muncul dari Wae Rebo adalah sebuah kampung dan pegunungan. Kampung ini berdiri secara terpisah dari pemukiman penduduk biasanya yakni di Denge maupun di kampung Longos (titik terdekat perkampungan pada umunya). Secara administrasi Wae Rebo adalah bagian dari Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai Barat. Kehidupan yang terjalin di kampung Wae Rebo tidak ubahnya seperti aktivitas masyarakat pada umumnya. Masyarakat hidup sebagai petani, kopi, jeruk, sayuran, dan aktivitas lain guna menyambung hidup. Namun hal yang menarik dari Wae Rebo menurut penulis adalah cara bertahan masyarakat untuk tetap hidup diketinggian 1100 Mdpl atau sekitar 9 km dari perkampungan di Denge. Wajar kiranya Wae Rebo yang bertahan mampu menjadi magnet bagi wisatawan untuk melihat bagaimana penduduk Wae Rebo tersebut bertahan.
Penulis adalah salah satu mata manusia yang ingin melihat langsung penduduk Wae Rebo dan perkampungan tersebut tetap hidup. Perjalanan yang dimulai dari lokasi penempatan SM-3T yakni Kecamatan Maurole menjadi titik pertama perjalanan panjang ini dimulai. Memang untuk mencapai kampung Wae Rebo ini pengunjung bisa melakukannya dengan kendaraan bermotor maupun mobil. Tentu saja hal ini memiliki perbedaan yang sangat kontras dilihat dari sisi kenyamanan maupun efektifitas waktu yang dimiliki. Penulis yang melakukan perjalanan bersama Intari membutuhkan waktu dua hari untuk mencapai Wae Rebo. Rute tersebut meliputi Kecamatan Maurole-Detusoko-Kota Ende-Nangapenda-jalan lintas Nagakeo-Boawae-Ngada-jalan lintas Ruteng-Borong-Ruteng-jalan lintas Labuhan Bajo-Kecamatan Satarmese Barat-Kampung Dintor-dan berakhir di kampung Denge. ****
“Tung..tung” suara bunyi lonceng aku pukul dengan agak keras. Getaran suara yang berasal dari bambu ini adalah sebuah keharusan yang harus dilakukan oleh setiap pengunjung sebelum menjejakan kaki ke Wae Rebo. Tanda berupa lonceng inilah yang akan menjadi sebuah tanda akan adanya persiapan yang dilakukan oleh masyarakat Wae Rebo yang biasa bertugas menyambut tamu yang datang ke kampungnya tersebut. Selain itu, setiap pengnjung yang telah memasuki kampung Wae Rebo harus mematuhi segala aturan yang masih dijaga di kampung tersebut. Salah satu yang harus dilakukan adalah menjaga etika selama di kampung tersebut. “Nanti sebelum melakukan upacara adat, jangan foto-foto dulu kalo gak mau kameranya rusak” tutur Agus Kuncoro, sesama penikmat kampung Wae Rebo yang saat ini sedang melakukan syuting jejak petualangan Trans TV. Sikap saling mengingatkan Agus ini juga merupakan bagian dari saling menyambung lidah dari masyarakat Wae Rebo yang terkadang kesulitan dalam berkomunikasi bahasa indonesia secara komunikatif. Penulis yang mengiyakan mencoba memahami hal tersebut sebagai bagian dari kearifan lokal yang harus dihormati tanpa harus dianggap sebagai ancaman. ***
Untuk kali pertama penulis menjejakan kaki di kampung adat yang menjadi warisan dunia ini. Setelah membunyikan bel berupa ketukan berulang dari sebuah bambu langkah selanjutnya penulis bersama wisatawan yang baru tiba harus mengikuti upacara sederhana dari rumah adat utama atau yang disebut wealue. Upacara sederhana ini dipimpin oleh pimpinan adat yang megucapkan beberapa kalimat dalam bahasa Manggarai yang asing terdengar. Konon bahasa yang diucapkan sebagai bagian dari budaya ini mengatakan bahwa si ketua adat memohon kepada leluhur untuk memberikan izin kepada penulis bersama pengunjung lainnya selama berada di Wae Rebo . Usai membayar biaya masuk berupaa biaya upacara sederhana 20.000 per kelompok dan 100.000 rupiah per orang maka dimulailah proses menikmati kampung adat Wae Rebo. Kampung ini penuh dengan gumpalan awan putih yang berada di sekitar perkampungan. Atap rumah adat yang menjulang tinggi terlihat kokoh berdiri menahan beban yang ada dalam rumah tersebut. Rumah yang dibangun dengan kesederhanaan ini setidaknya menjadi bagian dari budaya yang tidak bisa dihilangkan hingga saat ini.
Suasana perkampungan Wae Rebo yang cukup ramai karena musim libur sekolah. Oleha karena itu, anak-anak mereka yang telah libur kembali ke Wae Rebo untuk sekedar membantu orang tua mereka atau untuk berlibur di Wae Rebo. Selaian itu tebaran kopi terlihat berjajar di depan halaman rumah yang sederhana itu. Kopi adalah maskot dari Wae Rebo, dimana rasa kopi dari kampung ini memiliki rassa yang kha bagi penikmat kopi. Maka biasanya pengunjung yang hendak pulang kembali ke asalnya mereka akan membeli kopi maupun kain asli Wae Rebo yang dijual dengan harga yang bervariasi. Jika kopi dijual dengan harga sekitar 35.000 rupiah hingga-50.000 rupiah per bungkunya. Edangkan kain mencapai harga ratusan ribu rupiah. Penulis akhirnya menjatuhkan pilihan kepada kopi saja untuk dibeli dan segera dinikmati sesampainya di rumah. ***
Waktu memang berjalan cepat ketika kita merasakan nyaman, begitu halnya ketika undangan makan siang dari ketua adat kepada penulis dan pengnjung lainnya. jika jam tangan tadi menunjukan waktu 09.30 WITA kini jam tangan ku menunjukan waktu 12.00 Wita. Usai makan bersama dengan makanan berupa nasi yang ditambah sayur dan ambal cabe yang teramat pedas maka kini saatnya penulis bersiap untuk beranjak pulang. Sebuah pilihan memang bagi pengunjung yang hendak memilih menginap atau tidak selama di Wae Rebo. Namun karena penulis memiliki jadwal lain yang harus dilakukan maka perjalanan di Wae Rebo cukup eharian aja tanpa inap semalam. Bagi pengunjung yang hendak inap semalam di Wae Rebo akan dikenakan biaya inap ekitar 250.000 per orang. Berpamitan kepada ketua adat seraya mengucapkan terimah kasih untuk suguhan tersebut. Penulis kembali menikmati sejenak aroma Wae Rebo yang dilihat dengan mata telanjang tanpa bidikan kamera. Senyum keramahan penduduk, udara yang dingin, rumah-rumah yang dibangun kokoh, serta aturan yang dibuat menjadi bagian dari khas Wae Rebo yang memang harus diletarikan hingga saat ini. Jejak kaki ku dengan Intari kini kemabli berada di ata kampung Wae Rebo. Walaupun jam tangan menunjukan waktu siang namun cuaca kampung Wae Rebo masih dingin, bahkan tertutup oleh kabut yang berjalan menutupinya sejenak dan perlahan.
                                              ***
“ Syukurlah jika sudah sampai, dan terima kasih ya untuk kedatangannya ke Wae Rebo” sebuah pean pendek ku baca pelan. Rupanya pesan yang baru terkirim langsung dibalas oleh bapa Blasius. Dalam komunikasi tulisan ini, orang asli Wae Rebo ini juga menawarkan penginapan di Denge bagi pengunjung yang kemalaman atau datang di sore hari dengan tarif inap 175.000 per orang. Biaya ini termasuk makan dan minum selama di rumahnya yang ia sulap menjadi home stay yang nyaman bagi pengunjung yang datang berkunjung ke Wae Rebo. Keramahan ini juga penulis dapatkan dikediaman Ibu Veronika, warga kampung Denge yang menawarkan pelepas dahaga berupa kelapa muda. Kebaikan ini merupakan kenyamanan yang dirasakan penulis dan berkesan selama perjalanan menuju Wae Rebo. “Padahal kita tadinya ingin tanya arah jalan doank, namun malah dapat minum serta ngobrol yang menyenangkan” tutur Intari setelah berpamitan dari kediaman ibu etus atau ibu veronika ini.

Catatan Perjalanan: KAMPUNG ADAT TUJUH MOSALAKI

“Setidaknya butuh waktu 60 menit untuk tiba di kampung adat Nggela” ujar Ari, Guru Muda SM-3T penempatan Kecamatan Wolowaru, Minggu (15/6). Petikan percakapan ini adalah bagian dari perjalanan lanjutan yang penulis lakukan di tanah Flores ini. Kampung adat Nggela merupakan salah satu pilihan wisata yang bisa ditemukan di Kabupaten Ende atau lebih tepatnya sekitar 105 KM dari Kota Ende. Kampung adat ini berada di Kecamatan Wolojita, sebuah kecamatan yang berdampingan dengan Kecamatan Wolowaru. Untuk mencapai lokasi ini memang penulis tidak menemukan kendaraan khusus yang mengantarkan pelancong atau wisatawan ke lokasi ini. Walaupun terdapat beberapa angkutan umum yang melintas namun agaknya rute perjalanan memiliki skala waktu yang tidak sering. Oleh karena itu, bagi pelancong yang hendak menikmati suasana kampung adat Nggela sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi atau sewa khusus.
Perjalanan wisata Flores ini penulis lakukan bersama teman-teman Guru Muda SM-3T yakni penulis, Dila Monisa asal Padang, Dian dan Dies yang merupakan Guru Muda SM-3T asal Semarang. Dengan menggunakan kendaraan roda dua perjalanan ini dimulai dari batas Kecamatan Wolowaru, dimana jarak tempuh dari kecamatan tersebut ke Kampung adat Nggela sekitar 15 KM. penasaran, ingin tahu, serta keinginan berwisata membuat penulis bersama tiga perempuan tangguh ini berangkat ke Kampung adat Nggela, sebuah kampung yang hanya penulis dengar dari cerita-cerita. Dengan jarak tempuh 15 km dari Kecamatan Wolowaru menuju ke Kampung adat Nggela memang tidak terlalu jauh. Namun perjalanan ini toh terasa agak panjang dan sedikit melelahkan ketika melihat kondisi jalanan yang agak rusak. Beberapa kali penulis mencoba mengendalikan motor dengan waspada ketika menemukan berbagai lubang-lubang besar yang terdapat di tengah jalan. Selain itu, kondisi jalan yang miring serta penurunan tajam menjadi tantangan tersendiri. Maka kehati-hatian menjadi alamat wajib yang harus diperhatikan selama melakukan perjalanan menuju ke Kampung adat Nggela ini. Perjalanan yang dimulai sekitar jam 12.30 WITA ini berakhir sekitar jam 13.30 WITA.
*** “Kampung ini terdapat tujuh mosalaki dan rumah-rumah ini menjadi tanda hidupnya Mosalaki tersebut” bapa tua. Tidak banyak keterangan yang bisa di dapatkan dalam percakapan singkat antara kami, Guru Muda SM-3T dengan para orang-orang tua yang berada di lokasi tersebut. Sembari meminta izin untuk singgah dan mengambil dokumentasi dari Kampung adat Nggela, mereka sedikit menjelaskan perihal Kampung adat Nggela ini. Sebuah rumah adat yang masih eksis di Kabupaten Ende, NTT. Rumah adat ini menjadi sebuah lambang hidupnya dari adat yang masih dipegang oleh masyarakat setempat. Walaupun mayoritas masyarakat adalah masyarakat yang menganut agama katholik namun kelestarian adat masih tetap dipegang oleh masyarakat tersebut.
Perjalanan Kampung adat Nggela masih berlanjut, usai bercakap dengan para orang-orang tua, penulis dijanu dengan keramahan di sebuah rumah milik seorang warga. Sikap ramah tamah ditunjukan oleh si pemilik rumah membuat penulis terkesan. Banyak keterangan yang diperoleh dalam percakapan-percakapan ini. Salah satunya kerajinan warga di Kampung adat Nggela yang membuat kain sarung atau kain kecil yang dibuat dengan tangan sendiri. untuk menjual kepada wisatawan mereka menjual kisaran harga 300 ribu hingga 3 juta rupiah tergantung dengan motif serta bahan yang digunakan. Tentu saja pilihan ini disesuaikan dengan kondisi keuangan. Jika di cermati, promosi penjulan kain ini sangat menarik karena warga di Kampung adat Nggela mampu memamfaatkan kondisi iklim wisata ini sebagai salah satu alternatif mata pencarian warga. ***
Kampung adat Nggela ini memiliki struktur yang khas sebagai sebuah rumah adat. Atapnya yang menjulang tinggi menunjukan khasnya dari Kampung adat Nggela ala Flores. Poin ini bisa dilihat dan dipahami bahwa Kampung adat Nggela berusaha bertahan hidup dari sisi modernisasi yang maju saat sekarang ini. Selain itu, keberadaan upacara adat berupa tinju adat serta upacara seperti laka pare menjadi bagian dari kearifan lokal yang menarik banyak wisatawan. Penulis bersama Guru Muda SM-3T mengabadikan moment ini dalam bingkai foto. Namun pengabadian ini dilakukan tanpa adanya upacara adat karena telah berlalu momentnya. Rumah-rumah adat yang berjumlah sekitar belasan ini berdiri secara simetris dalam dua baris. Adapun lapangan tengah yang menjadi pembatas antara baris pertama dan kedua rumah adat ini adalah makam-makam orang yang telah mninggal maupun batu-batu yang merupakan bebatuan dari zaman megalitikum. Penulis melihat bebatuan ini dengan bentuk yang berbagai jenis. Nilai adat yang masih bertahan tentunya di kampung adat ini.
Maka bagi yang hendak singgah ke kampung ini tentu tidak akan menyesal, khususnya bagi para pelancong yang menyukai dengan wisata sosial. Oleh karena itu bagi yang hendak pesiar ke Kampung adat Nggela ini baiknya pada saat adanya acara adat yang tentu akan merasakan suasana humanis dalam perkampungan ini. Kampung adat Nggela yang berada di Kecamatan Wolojita setidaknya menjadi pilihan wisata lanjutan yang telah berkunjung ke Danau Kelimutu. Lokasi yang tidak terlalu jauh menjadi rekomendai penulis bagi pelancong untuk singgah dan merasakan asmofer di Kampung adat Nggela ini. Tidak ada pungutan atau biaya tiket bagi pengunjung yang singgah ke kampung ini, kecuali bagi yang ingin membeli kain adat dari kampung ini yang khas dari Kecamatan Wolojita.
*** Tidak terasa waktu telah beranjak sore, usai menikmati perkampungan adat ini, perlahan penulis berserta teman-teman meninggalkan kampung ini. Sembari mengambil beberapa gambar dari sudut rumah adat ini, penulis melambaikan tangan kepada beberapa bocah yang terdengar menyorak ke arah kami. Teriakan selamat siang hingga good morning menjadi nyanyian yang agak lucu terdengar. Mungkin hal ini memang anak-anak tersebut terbiasa dengan kedatangan turi asing maupun domestik yang berkunjung Kampung adat Nggela ini.
Kampung adat Nggela yang berada di sudut terakhir jalan ini bersebelahan dengan pasar. Keramaian yang biasa dilakukan pada hari-hari tertentu.Perjalanan menujuh ke Kecamatan Wolowaru kami lanjutkan kembali ke Kecamatan Maurole. Perjalanan yang singkat di Kampung adat Nggela ini mengesankan penulis bahwa kampung tersebut layak diletarikan sebagai bentuk kebhinekaan Indonesia yang memiliki ragam bahasa, suku, dan budaya yang berbeda. Namun perbedaan yang terdapat dalam corak warna Indonesia bukan menjadi perpecahan namun menjadi perpaduan yang harus dibanggakan. Adanya dukungan infratruktur oleh pemerintah, serta corak budaya oleh masyarakat setempat tentu akan menjadi warna tersendiri bagi para pengunjung.

Catatan perjalanan : Kampung Aewora, Anahbara,dan Tanjung

Jika pada tulisan sebelumnya penulis banyak menuliskan berupa wisata alam flores yang wah maka kali ini penulis ingin menuliskan tempat yang berbeda. Sebuah tempat yang tidak dikenal sebagai tempat wisata yang sering dikunjungi namun kampung ini merupakan kampung yang menarik ketika penulis tinggal lebih dari 300 hari di Kampung Aewora ini. Tulisan ini hanya menjelaskan sedikit dari kenyamanan dari Kampung Aewora ini. Harapan semoga tulisan ini menjadi salah satu refrensi terhadap salah satu daerah di wilayah flores ini, sebagai bagian dari bagian Indonesia timur.
Kampung Aewora sebuah kampung tua yang terletak di wilayah pesisir utara flores. Jalan yang menghubungkan antara kota ende dan kota maumere ini menjadi akses utama untuk jalan trans utara. Walau seperti itu, secara administrasi Kampung Aewora terletaka sekitar 92 km dari kota ende, sebagai kota kabupaten yang menjadi induk dari desa aewora, kecamatan maurole. Sedangkan dari maumere ke Kampung Aewora sekitar 75 km. perbedaan jarak inilah lantas kebanyakan masyarakat Kampung Aewora melakukan tranksasksi perdagangan maupun pendidikan ke kota maumere, walaupun sebagian lain masih tetap ke kota ende. Untuk mencapai Kampung Aewora bisa dilakukan dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan bermotor (angkutan). Tentu saja, perbedaan angkutan untuk datang ke Kampung Aewora membutuhkan waktu yang relatif berbeda.
Masyarakat Kampung Aewora yang berdekatan dengan gunung rokatenda yang meletus tahun 2012 lalu masih harus hidup tanpa sinyal komunikasi akibat letusan hingga saat ini. Walau seperti itu, beberapa lokasi-lokasi tertentu masih dapat dijadikan sebagai akses untuk mendapatkan sinyal atau yang dikenal jaringan guna berkomunikasi. Antara lain pohon jambu mente, perumahan tertentu, dan daerah tanjung yang berjarak 3 km dari Kampung Aewora ini. Kesulitan komunikasi ini penulis sangat berharap segera diatasi oleh pihak pemerintah. Sebab kebutuhan jaringan komunikasi sangat penting untuk wilayah pesisir. Hal ini ditambah dengan adanya sarana pendidikan yakni TK, SDK, hingga SMP yang membutuhkan jaringan baik untuk komunikasi maupun proses pembelajaran yang inovatif dan kreatif.
Secara sosial masyarakat Kampung Aewora hidup secara berdampingan antar umat beragama. Dimana Kampung Aewora masyarakatnya menganut agama katholik secara mayoritas. Dan agama muslim sebagai penganut yang minoritas. Sikap hidup yang toleransi masih hidup dan bertahan hingga saat ini. Keberadaan masjid dan gereja yang berada di satu Kampung Aewora menjadi pemersatu masyarakat. Selain itu, mayoritas masyarakat Kampung Aewora merupakan petani dan nelayan, hanya sedikit yang berprofesi sebagai wiraswasta maupun tenaga pemerintah, seperti guru, pegawai, dll. Penulis yang menjadi bagian dari masyarakat Kampung Aewora dalam rangkah pengabdian Guru Muda SM-3T merasakan kenyamanan di kampung ini. Sebagai daerah lintas transportasi maupun pribadi kerap menemui orang-orang baru yang singgah di desa ini. Disamping itu, penulis juga mulai belajar menggunakan bahasa lio sebagai bahasa utama yang digunakan di kabupaten ende dalam percakapan harian. Bahasa lio tersebut seperti, laka emba, daemba, ngeraemba, wolaemba, dan emba, (dimana, kemana, bagaimana,darimana, dan mana). Sulit dan ribet untuk lidah Sumatera seperti penulis yang mempelajarinya namun bahasa ini setidaknnya menjadi pengalaman serta ilmu baru bagi penulis.
Usai menuliskan sekilas Kampung Aewora penulis hendak menuliskan mutiara yang hidup dan bersinar dari Aewora ini. Setidaknya ada beberapa hal yang menarik dari Kampung Aewora ini yang patut dirasakan maupun dicoba oleh pembaca yang ingin merasakan destinasi dari Kampung Aewora sebagai kampung kecil yang menarik. Pertama, pantai putih atau pasir putih enahbara. Pantai ini merupakan pantai yang menjadi daya tarik bagi semua orang yang pernah mendengar nama enahbara atau anabara. Pantai yang cantik, desiran ombak yang pelan namun halus terasa bagai sebuah pulau kecil yang terpisah dari hiruk pikuk dunia. Warna laut yang memiliki 3 warna ini menjadi daya tarik bagi mata yang memandang.
Jika biasanya pantai identik dengan pasir maka lain halnya dengan anahbara ini. Dimana putihnya tepian anahbara bukan karena pasir namun karena kondisi kerang atau bebatuan yang terpecah-pecah. Oleh karena itu ketika berada di pantai anahbara ini seolah berada di pulau yang terpisah dari flores ini. Pemandangan yang berlatar gunung rokatenda terlihat indah dan menawan. Penulis merekomendasikan bagi yang hendak melihat keindahan pantai ini pada saat matahari terbit, matahari tenggelam, maupun kala siang. Tiga waktu ini pengunjung akan merasakan suasana laut yang berbeda.
“Apa yang bisa dilakukan di Pantai Anahbara ini?” maka jawabannya cukup banyak. Pantai yang berada di jarak 6 km dari Kampung Aewora ini atau 10 menit dengan berkendaraan dari Kampung Aewora memiliki banyak pilihan untuk pengunjung. Bagi yang menyukai kegiatan menyelam atau snorkling, Pantai Anahbara bisa menjadi pilihan yang dirasa tepat. Laut yang maish perawan serta pemandangan dalam laut yang bersih menjadi daya tarik bagi penikmat olaraga air ini. Selain itu, menikmati sejenak alam di Pantai Anahbara dengan jepretan foto maupun video tentu menjadi pilihan yang mengesankan ketika berada di Pantai Anahbara ini. Pilihan ini bisa bertambah tergantung dengan selera, bagi yang menyukai memancing ikan, lokasi ini menjadi pilihan yang pas untuk mereka yang menyukai aktivitas tangkap ikan. Dan pilihan lain yang menarik.
Dibalik keindahan alami dari Pantai Anahbara, sayangnya pantai ini masih belum dikelola dengan baik. Tidak adanya tarif masuk untuk pesiar ke Pantai Anahbara ini menjadikan pantai ini menjadi pantai yang kosong yang jauh dari perumahan warga. Oleh karena itu, bagi yang hendak singgah atau menikmati total Pantai Anahbara ini hendaknya membawa sendiri konsumsi maupun perlengkapan yang hendak digunakan selama menikmati Pantai Anahbara.
Mutiara menarik kedua dari Aewora ini adalah Tanjung, berjarak 3 km dari kampung Aewora yang menjadi batas akhir jaringan komunikasi. Penulis menganggap hal ini menarik karena lokasi ini menjadi lokasi tumpah ruah masyarakat yang ingin berkeluh kesah dengan keluarga,teman, sanak saudara, maupun urusan lain yang harus diselesaikan dengan handphone. Lokasi tanjung ini juga menjadi tempat relokasi penduduk pulau palu’e yang terkena bencana alam gunung rokatenda yang meletus tahun 2012. Oleh karena itu lokasi ini bukan sesunyi seperti di Pantai Anahbara. Penulis memberikan rekomendasi untuk singgah dan menikmati alam di tanjung ini yang sangat menarik hati.
Sama halnya dengan Pantai Anahbara, tanjung bisa juga menjadi tempat untuk memancing maupun menyelam. Namun hal lebih dari tanjung ini adalah mudahnya mata kita bertemu dengan binatang laut. Hal ini karena lokasi tanjung penuh dengan bebatuan dan karang yang tidak terlalu dalam. Sehingga dengan jarak 5 atau 8 meter biasanya kita sudah melihat binatang laut yang terdapat di sana. Salah satunya adalah Bintang Laut. Selain kondisi alam, penulis menyukai tanjung karena apa yang dihasilkan oleh tanjung tersebut. Pada musim-musim atau tanggal tertentu biasanya tanjung menjadi lokasi untuk melakukan Joa atau menombak ikan di malam hari dan Meti mencari kerang yang bertebaran ketika pantai surut. Aktivitas ini sangat menarik ketika penulis bersama keluarga angkat melakukan dua aktivitas ini dalam hari yang berbeda.
Kampung Aewora bisa menjadi tempat yang layak untuk dikunjungi. Bagi yang hendak belajar berenang di laut, Kampung Aewora bisa menjadi pilihan yang pas. Ombak yang tidak besar melainkan tenang serta tingkat kedalaman yang hanya 70 Cm hingga 70-100 meter menjadi pilihan yang tepat. Selain itu bagi yang menyukai selam laut agaknya Kampung Aewora menawarkan keindahan alam bawah laut yang menawan.

Catatan Perjalanan : BAJAWA DAN SEGALA KEINDAHANNYA

Judul ini mewakili dari perjalanan yang penulis lakukan di Bajawa bersama Intari akhir Mei 2014. Perjalanan yang melewati tiga kabupaten di Nusa Tenggara Timur ini merupakan perjalanan panjang dan menarik. Bajawa adalah negeri yang dingin ditengah kepungan pegunungan dan dua gunung yang berdiri simetris yakni Gunung Abolobo dan Gunung Inerie. Dua gunung aktif inilah yang turut dalam menyumbang rasa dingin ketika kaki berada di Kabupaten Ngada. Tulisan ini mengulang kembali keindahan alam yang terdapat di Ngada untuk kembali ditulis dalam catatan singkat ini. Bajawa memiliki memiliki banyak lokasi wisata yang menjadi pilihan bagi para pelancong. Keindahan rumah adat yang berada di Bena adalah salah satunya. Kampung adat Bena yang berada di kaki Gunung Inerie ini memang mengundang daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke lokasi ini. Keterbukaan dari masyarakat dalam bentuk keramahannnya membuat perjalanan menujuh ke Bena bagi yang belum pernah akan berkesan. Selain itu, untuk mencapai Bena para pelancong akan dimudahkan dengan papan penunjuk yang terdapat dalam setiap simpang. Keberadaan papan ini setidaknya menjadi wujud bahwa pemerintah daerah ngada menyiapkan diri kabupaten ini menjadi kaupaten yang menjadi lokasi wisata oleh banyak kalangan.
Kampung adat Bena berjarak sekitar 19 KM dari arah kota Bajawa. Pilihan untuk mencapai kampung adat ini bisa menggunakan kendaraan pribadi, ojek, atau penunjuk dari guide yang memang sengaja telah disiapkan. Perjalanan yang mulus dengan struktur jalan yang bersih dari jalanan berlubang atau polisi “bobo” setidaknya akan membuat pelancong terasa dimanjakan untuk perjalanan ini. Secara pribadi dalam proses perjalanan ini penulis menyempatkan untuk melakukan aksi foto-foto selama perjalanan. Kehidupan kampung Bena yang dingin dengan struktu rumah yang rapi dengan ditambah latar pemandangan alam yang indah membuat tangan ini banyak melakukan aksi jepret.
Dalam perjalanan yang dipandu oleh Iga dan Intan yang juga merupakan Guru Muda SM-3T asal Yogyakarta menjelaskan bahwa melalui jalan kampung Bena ini terdapat beberapa ikon wisata yang bisa dikunjugi. Dengan semangat yang cukup berapi-api sebagai guide, keduanya menjelaskan bahwa jalanan ini simetris untuk mengunjungi beberapa kampung adat yang ada di Bena , selain itu juga terdapat pemandangan lepas yang disebut dengan “manuk…” bahkan selain itu, bagi pencinta alam yang menyukai tantangan Gunung Inerie menjadi pilihan terbaik untuk gunung di Flores ini.
*** Kampung yang terletak diantara pohon dan gunung Batu dan kayu yang menyatu dalam tradisi Tiada keramahan kecuali senyuman Inilah kampung Bena yang menawan.. prie dn
Ungkapan inilah yang penulis rasakan ketika kaki ini menjejakan di kampung Bena . Udara sore yang dingin dengan rinai hujan yang tipis menambah indahnya kampung Bena sore itu. Gunung gagah Inerie yang tertutup kabut membuat sore ini agak sedikit mendung. Tidak terdapat pengunjung lain kecuali penulis dan ketiga Guru Muda SM-3T di lokasi Kampung tua Bena ini. Usai melapor diri dan menuliskan identitas di buku tamu maka penulis mulai memandang lebih dekat kampung tua ini. Kampung tua ini berdiri dengan gagahnya. Struktur kampung ini menurut penulis identik dengan kayu dan batu.
Struktur kampung yang berdiri dengan gaya memanjang membuat setiap pengunjung dapat melewati rumah per rumah. Dengan lambat penulis melangkah maju ke depan hingga ke bagian tanah yang lebih tinggi. Begitu melewati kampung tua ini banyak hal yang ingin penulis tahu dari kampung tua ini. Tidak cukup sekedar wisata dan melihat kondisi luarnya saja, namun juga dengan struktur kampung tersebut. Dimana simbol-simbol suku masing terdapat sebagai bentuk eksistensi suku- suku tersebut. Namun penulis hanya bisa berdialog dengan simbol dan bangunan tua yang ditafsirkan sebagai warisan budaya bangsa yang masih hidup hingga saat ini.
Secara umum perumahan di kampung ini telah terdapat arus listrik yang mengalir. Walaupun rumah tersebut dibuat dari bahan dasar kayu dan atap dari ijuk kelapa masyarakat tersebut mampu bertahan hingga saat ini. Bebatuan yang sengaja terletak di bagian tengah lapangan dan pinggiran rumah merupakan lambang sebuah kuburan maupun sebuah simbol adat. Maka saran penulis jika sempat melihat acara adat di kampung ini tentu akan merasakan suasana wisata yang fantastis disamping dengan perkampungan tua yang menawan ini.
Penulis melewati perumahan yang memanjang tersebut secara perlahan. Rumah yang memiliki bagian teras terlihat aktivitas kaum perempuan yang melakukan kegiatan sendiri. kebiasaan yang rasanya menjadi khas dari Bajawa ini. Perempuan tersebut sedang menenun kain-kain dari berbagai warna dan motif. Kain-kain inilah yang menjadi salahs atu daya jual masyarakat dengan hadirnya wisatawan-wisatawan. Kain yang dijual dengan harga minimal 50.000 rupiah hingga 500.000 ini memang menjadi salah satu penghasil bagi masyarakat setempat. Dan penulis pun membeli salah satu kain tersebut dengan harga 75.000 usai melakukan sedikit negosiasi dengan pembeli atau salah satu masyarakat tersebut. Di kampung adat ini tidak terdapat pertokoan atau café yang menjual makanan. Oelh karena itu, makanan dan mnuman hendaknya dibawa sendiri oleh setiap pengunjung. Selain itu mamfaatkan moment selama di Bena untuk berkunjung tidak hanya pada satu kampung adat namun juga ke beberapa kampung adat yang berdiri indah di sekitar kampung Bena ,Bajawa, ngada ini.
Dataran tinggi kampung adat Bena akhirnya penulis berdiri. Pemandangan alam yang indah terlihat alami dari puncak ini. Kampung adat yang berdiri memanjang tampak begitu indah dengan nuansa warna cokelat sebagai kampung yang memang telah berdiri sejak lama. Kemudian perbukitan yang mengelilinginya seolah sebagai penjaga udara untuk tetap menciptakan keasrian dari alam kampung Bena ini.
Dan ketika penulis berada di puncak ini laut ngada terlihat membiru di udara sore yang kian gelap. Usai foto-foto keberadaan penulis dan ketiga teman lainnya pun usai. Waktu yang beranjak sore mengirim sinyal untuk segera pulang dan beristirahat. “entah kapan aku kembali, Namun jika aku kembali,, Aku ingin keindaha yang lain dari mu, Bajawa”

CATATAN PERJALANAN : Bajawa, Negeri Flores Nan Dingin

Bajawa…
Bajawa itu dingin, sedingin Bukitingginya Sumatera Barat…
Sesejuknya Bandung Jawa Barat…
Mengesankan layaknya Kerinci Jambi…
 Dan seindah Flores yang telah memilikinya…
“Hingga kemarin (21/5) aku mengatakan bahwa Flores adalah negeri yang sangat panas” ungkapan ini patah ketika jejak kaki ini berada di Bajawa, sebuah negeri yang menjadi kota dari Kabupaten Ngada, Flores Barat. Bajawa tumbuh menjadi kota yang sangat dicari oleh banyak wisatawan. Potensi alam yang sangat menarik membuat BAJAWA menjadi salah satu kawasan Flores yang “wajib” di kunjungi oleh pelancong domestik atau turis asing yang telah berada di Flores . *** Untuk singgah ke Bajawa penulis melalui rute yang cukup panjang. Perjalanan dari Desa Aewora, Kec.Maurole yang merupakan asal penempatan penulis sebagai guru SM-3T membuat perjalanan ini menjadi perjalanan yang panjang. Cerita perjalanan menuju Bajawa ini adalah pilihan dalam perjalanan setahun di Flores . Seperti perjalanan yang pernah dilakukan sebelumnya, penulis melakukan persiapan awal dengan mencari informasi tentang Bajawa. Informasi berupa berita-berita Bajawa dalam tujuh hari terakhir. Info tersebut ini sangat penting dan mendukung guna melihat kondisi terkini tentang tempat tujuan. Setelah itu, persiapan yang wajib dilakukan adalah fokus tujuan tempat yang hendak dikunjungi. Bajawa memiliki ragam potensi wisata yang cukup banyak oleh karena itu, prioritas serta faktor waktu menjadi pertimbangan yang hendak dilakukan.
Senin, 19 Mei 2014, jam 06.30 WITA perjalanan ini dimulai. Kali ini penulis tidak membawa banyak anggota untuk berpergian sejauh 210 Km ini, berteman baik dengan Intari Nur Faisah yang juga Guru Muda SM-3T yang ditempatkan di satu jalur yang sama akhirnya perjalanan ini dilakukan bersama. Rute perjalanan yang dilewati sebagai berikut, desa Aewora-Maurole-Detusoko-Ende-Nangapanda-Nagakeo-Boawae-Matolopo-Bena-Bajawa (lintas 3 kabupaten). Rute ini sebenarnya masih ada alternatif yakni melalui Aewora-Maurole-Sokoria-Maukaro-Mbay-Bajawa. Namun rute ini tidak menjadi pilihan karena pertimbangan jalan yang rusak berat serta keinginan pribadi untuk melewati lokasi lain yang belum pernah dilewati.
Sepanjang perjalanan di Flores penulis melewati dua view yang dominan yakni pegunungan dengan minim perumahan serta lautan. Keindahan alam Flores yang alami tentu menjadi pilihan bagi banyak orang untuk bisa singgah dan menikmati perjalanan alam Flores ini.
Perjalanan yang penulis melewati ini adalah lintas tiga kabupaten yakni Kabupaten Ende dengan melintasi kota ende, kemudian Kabupaten Nagakeo dengan lintasan jalannya yang sedang di perbaiki, kemudian Kabupaten Ngada. Perjalanan dengan menggunakan motor matic sewaan ini tidak menemui kendala selama perjalanan menujuh Bajawa. Kondisi jalanan yang jika dipersentasikan dalam kondisi yang baik kecuali di lintasan Kecamatan Wewaria dan memasuki sepanjang 15 KM Kabupaten Nagekeo yang agak berlubang serta dalam perbaikan. Maka perjalanan panjang membutuhkan waktu yang sekitar 6 jam perjalanan. Namun alokasi waktu ini sebenarnya realatif. Hal ini karena perkiraan waktu dengan kendaraan yang digunakan. ***
“Indah……….” Begitu kata yang muncul ketika sebuah gunung yang membiru setinggi 2000 Mdpl Ketika hendak memasuki Kabupetan Ngada, mata ini memandang ke arah sisi kiri jalan. Gunung Abolobo yang berdiri gagah memberikan rasa dingin. Seolah memberikan kesan selamat datang. Perjalanan ini masih meneruskan hingga menujuh ke titik dimana aku ingin berada. Udara sore itu tidak cukup panas bahkan terkesan dingin dan mendung. Alam yang memikat menurutku. Jam menunjukan waktu 14.45 WITA ketika motor matic ini berhenti sejenak di Matolopo. Dan kali ini aku merasakan dinginya udara Ngada tersebut. Sembari menunggu seorang teman aku dan Inta menikmati udara ini dalam jepretan kamera. Aku memandang Anak-anak kecil yang berlarian di sekeliling lapangan kantor camat. Mereka bermain mobil-mobilan yang secara “pintar” terbuat dari bambu dan kayu yang dipotong bulat dan tiang peyangga. Mereka kelihatan bergembira dengan mainan sederhana tersebut. ***
“Salam untuk Iga dan Intan” melalui tulisan ini penulis memberikan salam untuk keduanya. Selain berbaik hati menawarkan tempat untuk menginap di ngedubusa, kompleks sd sekolahnya. Kedua Guru Muda SM-3T Asal Yogyakarta ini juga menjadi Guide selama perjalanan di Ngada ini. Pilihan wisata yang diberikan menjadi alternatif dalam perjalanan panjang yang penulis lakukan. Usai sampai di Ngada keduanya menjadi guide yang baru penulis kenal untuk pertama kalinya. Maka perjalanan ini dilanjutkan pertama ke kampung adat Bena. Sebuah kampung adat yang memiliki latar Gunung Inerie yang menjulang tinggi dengan gagahnya sebagai gunung tertinggi di Flores ini.
Perjalanan ini berlanjut kemudian dengan berkunjung ke lokasi ke penempatan Mbak Iga yang memang jauh dari kota Bajawa. Perjalanan malam yang kami lakukan menujuh ke Ngedusuba memberikan kesan yang cukup ekstreem. Perjalanan panjang ditambah ke lokasi penempatan kedua guide kami memang memberikan kesan tersendiri, dan tentunya dalam tulisan tersendiri nantinya
                                       . ***
Ada dua hal yang menurut berkesan dalam perjalanan ke Bajawa ini.pertama tidak cukup sekali rasanya jika hanya sekali menujuh ke Bajawa, semabri berharap bahwa akan ada perjalana lain untuk menujuh ke Bajawa. Kedua, Bajawa adalah kota yang indah dengan strukturnya yang bagus serta baik. Dalam perjalnan singkat ini penulis melihat kota Bajawa sebagai kota yang memang terbuka dengan pelancong yang datang dari arah dan asal yang berbeda. Dibanding maumere dan ende sebagai kota kabupaten, Bajawa terkesan terlihat sebagai kota yang melebar tanpa memanjang. Lokasi pertokoan dan perkantoran berdiri secara terpisah namun tidak sulit untuk dijangkau jika hanya dengan jalan kaki. Penulis juga menemukan berbagai Wisatawan asing yang berada di lokasi ini. Tersedianya kafe-kafe membuat kota dingin ini memang memberikan nuansa yang ramah. Oleh karena itu jika ada pelancong yang hendak mengunjungi Bajawa maka pilihan itu adalah pilihan yang penulis rasa tepat, dan tentu saja kesan yang akan didapatkan tentu akan berbeda. “Bajawa, Kota yang berada di Negeri Flores Nan Dingin”

Catatan perjalanan : Tempat Pengasinganku adalah Rumahku

( Catatan perjalanan : Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende-NTT ) Perjuangan seperti apa yang bisa dilakukan Dalam keadaan terkucil sep...