Catatan Pendakian Gunung Merapi : Jalan Lusuh Menuju Marapi




Perjalanan yang tak selalu senang, perjalanan yang tak selalu cerah, inilah perjalanan yang terkadang menyesakan dada
Wajah kota Padang beberapa hari ini selalu bermuram durja. Lipatan tebal awan hitam tak hentinya berada di atas dimana aku berdiri. Gumpalan ini seharusnya telah menjadi pertanda bahwa suasana hari akan turun hujan. Sungguh menyenangkan jika mengingat kebiasaan lumrah di kala hujan maupun mendung adalah berdiam diri di rumah dan menikmati hangatnya gumpalan kain tebal dan seruput minuman hangat. Namun itu doloe.
Kali ini usai melaksanakan latihan kepemimpinan dasar yang diadakan PPG UNP rekan ekonomi dan menyertakan aku bersegera dengan  tekad bulat menembus hujan dan melakukan pendakian ke gunung Marapi-Padang Panjang. Euphoria dan hawa gunung terlalu memikat teman-teman dari ekonomi ini untuk mengijakan kaki di sana. Beranggotakan delapan orang saja yakni aku, David, Willy, Yendra, Dila, Desi, Adel, dan Rina, kami memulai perjalanan di bawah langit mendung dan hujan.
Tiga buah tenda isi tiga, sebuah kompor gas, dua buah gas, lima matras, tiga sleping bag, dan peralatan nesting masuk ke masing-masing carel ukuran sedang. Perlengkapan yang sewajarnya menurutku walau akhirnya aku sadar dengan banyaknya kekurangannya nanti.
Tower Koto Baru 19.30 WIB..
Aku berdiam diri di bangunan mushalla yang dibangun dekat pintu masuk pendakian sembari menunggu waktu salat isya masuk. Perjalanan melelahkan dari kota Padang berhasil kami tembus hingga menjelang Magrib. Usai membayar registrasi masuk dan parkir sebesar 100 ribu, harga yang pantas setelah kami tawar, kami mulai bersiap. Perlengkapan pendakian di cek ulang berikut dengan mantel hujan praktis (plastic) di siapkan.
Hujan masih mengguyur sekitar Padang Panjang pada umumnya. Cuaca yang kurang bersahabat untuk melakukan perjalanan membuat kami masih betah mendiami pondokan darurat milik penduduk. Sembari memesan kopi dan teh kami menikmati apa itu kedinginan dan hujan. Kapankah hujan ini akan reda?ujarku dalam hati.
Hujan tidak hanya turun hari ini begitu kata orang asing di sebelahku. Kami yang sama memilih tempat berteduh maota lamak (bercerita enak) tentang pendakian Marapi. Menurutnya hujan sudah turun selama beberapa hari ini. Memang sudah musimnya bahwa para pendaki yang melakukan pendakian akan dihadang dengan guyuran hujan yang seolah tak pernah henti. Ia menyarankan kami untuk pintar memilih lokasi nge-camp­ karena di cadas sering terjadi badai disertai hujan.
“Dan kalo ada anak yang baru mendaki, ingat selama jalan mendaki biasakan menghirup nafas dari hidung dan dikeluarkan lewat mulut” ujar sosok asing yang menurutku telah berumur 40 tahunan. Sosok peduli kalau di alam memang hal wajar. Bahkan selama perjalanan rasa sungkan begitu saja hilang untuk saling bagi-membagi perbekalan ala kadarnya. Solidaritas yang terasa instan menurutku namun begitulah solidaritas ini tak tertandingi rasaku.     
Tidak terasa hampir sejam kami berdiam diri menunggu hujan ini berhenti mengguyur hutan pegunungan. Pertanda bakal cerah kini tinggal pertanda. Ketika curah hujan mulai mengendur kami mulai bersiap menembus hujan dan menuju cadas Marapi. Aneka mantel plastic warna-wari menjadi teman perjalanan kami. Sebuah topi dan lampu senter menjadi penerang dan penghangat perjalanan yang lembab.   
Hutan belantara
Pendakian setapak ini tidak sampai menuju ke cadas sebagaimana misi bersama. Kami akhirnya merebahkan diri di tengah hutan belantara, sekitar jalan masuk lubang mancik (lubang tikus). Tidak butuh waktu lama setelah melihat kelelahan para anggota pendakian disertai guyuran hujan membuat kami pun mengalah dan menginap di hutan belantara ini. Pilihan berhenti adalah hal wajar, memilih Nge-camp atau akan ada yang cedera akibat cuaca dan suasana malam hari yang dingin. Pilihan yang harus dipilih mengingat posisi saat ini dengan cadas tak begitu jauh lagi.
Walau track marapi adalah jalanan yang ramah bagi pendaki pemula namun di kala hujan track ini akan menjadi lembab, becek, serta terjal. Jalanan tanah menjadi lunak untuk di pijak. Maka selain memakai senter sebagian lain juga memilih menggunakan tongkat kayu untuk memapah perjalanan menuju titik bersama. Kesulitan ini bahkan harus dilalui dengan jalanan malam yang gelap gulita dan minim penerangan. Langkah kaki yang semangat mendaki lambat laun mulai tergerus lelah dan melambat. Rasa lelah mulai menyerang para pendaki malam itu.  

Rasa lelah memaksa kami akhirnya untuk  mendirikan tenda setelah melewati separuh malam atau sekitar 6,5 jam perjalanan. Tenda yang serasa kembar ini berdiri tegak berbaris ditanah landai yang agak becek. Semua beraktivitas untuk memenuhi kebutuhan dini hari yang dingin itu. Memasak air, mendirikan tenda, membuat tali jemuran darurat, hingga menyalakan api unggun di sela-sela akar pohon. Lipatan-lipatan baju basah segera diganti untuk mewati dini hari yang lebih hangat.
Percakapan-percakapan santai menyelingi malam itu yang sepi. Sambil menikmati makanan ringan dan minuman hangat aku merasakan hawa kekeluargaan antar sesama pendaki yang kini terasing ditengah hutan. Rintikan hujan menjadi pelengkap malam keakraban kami yang didera kelelahan. Sebagian memilih menghangat diri di tenda dan tiba-tiba telah tertidur tanpa ucapan selamat malam. Akh mereka lelah 
Aku memasuki tenda yang kini hanya menyisakan aku yang masih tersadar. Sembari menunggu subuh aku memilih mendengarkan alunan khas milik frau di tenda sempitku. Dipenghujung dini hari aku mendengarkan lirikan frau tentang sepasang kekasih yang bercinta di luar angkasa. Lirik yang kadang memiliki gaya bahasa yang sulit diterka.
Dan subuhpun datang, aku salat dan setelah itu lekas bergegas menjumpai alam mimpi yang kini terasa berat.
***
Berat mataku untuk terjaga pagi ini. Apalagi matahari pagi masih tak terlihat walau sudah menunjukan waktu 09.00 WIB. Gumpalan kabut putih menyerang jalanan pagi ditengah hutan belantara marapi. Mereka telah bersiap untuk bergegas menuju cadas dan puncak, meninggalkan tenda dan aku untuk berjaga di sini.
“Hati-hati ya…jalan didepan agak susah tracknya jadi saling bantu saja” ujarku kepada mereka.
Berat hati untuk tidak menyamai langkah dan mencapai puncak marapi. Sebenarnya mereka memintaku untuk ikut, namun aku yang baru terjaga masih merasa sangat ngantuk untuk melakukan pendakian ini. Selain itu agaknya aku harus mengamankan beberapa perlengkapan nge camp yang agak berserakan di sekitar tenda.   
“Aku menyusul jika aku ingin”  ujarku
Cadas Marapi 11.00 WIB

Berlama-lama di tenda memang bukan hobiku rupanya. Usai membereskan beberapa perlengkapan sekitar tenda yang berserakan aku pun bersiap melewati lubang mancik dan menuju cadas, dan menjumpai taman eideiweis yang terletak dipunggung Marapi, taman yang aku rindukan.
Pendakian setapakku kini hanya seorang diri, hanya ada beberapa barisan pendaki lain yang telah mendahuluiku di depan. Sembari merasakan hangatnya cahaya matahari yang tertutup kabut aku terus mengayunkan kaki menuju ke cadas. Track lubang mancik yang dikenal terjal kini semakin sulit  untuk dilalui akibat tanah jalan yang becak dan lunak. Track ini semakin sulit tentunya jika ingin turun nantinya. Entah berapa kali aku menjumpai pendaki yang kesulitan untuk melewati track ini jika menurun.   
Cadas…
Setelah melewati jalan sempit dan becek akhirnya kaki ini untuk ketiga kalinya memijak bumi cadas marapi. Rasa puas ketika aku bisa menggapai cadas tinggi  gunung marapi. Gunung yang menurutku membuatku merasakan cinta.

Cerita perjalanan dari tanah Jogja: Sekeping keindahan dari Pantai Gunung Kidul



Bicara Yogyakarta identik dengan keramaian yang ada di sekitar Malioboro, kemegahan istana keraton yang menawan, maupun berbagai kuliner murah meriah di salah satu provinsi di Indonesia ini. Padahal, masih banyak rupanya keindahan dari Yogyakarta, khususnya dari sisi alam. Tulisan ini secara singkat mengupas keindahan pantai Yogyakarta yang penulis kunjungi beberapa saat yang lalu.
Seminggu setelah menginjakan kaki di bumi Yogyakarta ini penulis melakukan perjalanan alam, menengok sejenak indahnya pantai yang ada di kabupaten Gunung Kidul. Perjalanan mengunjungi pantai Gunung Kidul Ini dimulai dari titik pusat kota Yogyakarta. Bersama rekan backpaker ngapak bernama Imam, kami memulai perjalanan di tengah hari selepas zuhur pada hari Minggu (20/3).  Melewati jalan ring road utara kemudian melewati jembatan layang membuat perjalanan ini seolah bagiku lebih panjang dari yang aku perkirakan. 

Berbicara tentang pantai Gunung Kidul terdapat beberapa pantai yang menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan. Keragaman antar pantai satu dengan lainnya akan menambah rasa puas dengan jalan-jalan wisata di sepanjang pantai yang berada di wilayah kabupaten Gunung Kidul ini. Adapun pantai-pantai yang terdapat di sepanjang Gunung Kidul ini meliputi Pantai Baron, Kukup, Sepanjang, Drini, Sundak, dan pantai lainnya yang menarik. Oleh karena itu, bagi pembaca yang akan menghabiskan waktu yang lama ketika berada di provinsi istimewah ini tidak ada salahnya untuk singgah di pantai-pantai di Gunung Kidul ini.
***
Denyit motor vixion kami terhenti di pos gerbang pintu masuk wisata pantai Kidul. Usai membayar harga tiket senilai dua puluh ribu kami memasuki jalanan Baron. Nama Baron merupakan nama wilayah dengan destinasi wisatanya yakni pantai. Imam menuturkan bahwa retribusi masuk itu tidak hanya berlaku untuk satu pantai saja, melainkan beberapa pantai sepanjang pantai baron. Dimana jarak antar pantai ini tidak kurang dari 1 KM.
“Dengan tiket tadi bisa kita memasuki pantai sekitar 4 tempat bro” ujarnya sembari memelankan laju motor karena jalanan pantai yang ramai.


Jam tangan ruggerku menunjukan waktu 14.35 wib ketika aku menginjakan kaki ke pantai Kukup, pantai pertama yang kami kunjungi pada sore minggu yang terasa panas. Adapun lokasi pantai Kukup ini berada di desa Kemadang, kecamatan Tanjung Sari, kabupaten Gunung Kidul. Usai menjejerkan motor di tempat parkir dan membayar jasa parkir tiga ribu rupiah kami mulai berjalan mendekati bibir pantai yang saat itu ramai pengunjung.
Sembari berjalan menuju ke lokasi pantai pasir putih Imam masih menjelaskan bahwa wisata pantai Kukup tidak hanya menawarkan keindahan dari pasir pantainya yang berwarna putih. Namun juga dengan pernak-pernik yang dijual bebas di wisata tersebut. Pedagang kuliner yang menjajakan barang dagangannya bisa jadi penarik minat wisatawan di kawasan selatan Daerah Istimewa Yogyakarta ini. Mulai dari udang goreng, aneka makanan  rumput laut, ikan laut, bahkan juga menjual aneka ikan hias. Selain kuliner, jasa foto juga banyak sekali ditemui di lokasi ini. Dengan bermodalkan kamera DSLR para jasa pencari foto ini menawarkan jasa fotonya kepada para pengunjung. Adapun kisaran harga kuliner dan foto ini sekitar 10.000-30.000 rupiah.
***
Pantai Kukup masih terasa  menyengat padahal hari telah beranjak sore. Sesampai kami berada di tepian pantai kami terus berjalan dan memilih berteduh di pinggiran pantai yang berlubang. Sore yang menurutku tidak enak jika menikmati suasana angin pantai di bawah guyuran panas matahari. Bongkahan tanah menjadi pelindung yang gratis buat kami daripada menyewa jasa tikar dan payung. Harga yang terlalu mahal untuk kocek kami berdua yang biasa pas-pas an.  


nang kene bae yak....” ujar Imam mengajakku duduk dengan logat ngapaknya yang kental.
Sambil menikmati keseruan duduk di bawah lekukan tanah yang keras, Imam kembali bercerita tentang keindahan alam yang ada di Gunung Kidul ini. Kali ini ia menuturkan bahwa ada beberapa kawasan pantai yang indah dan bisa untuk nge-camp (kemping). Wah menurutku keren, karena selama ini menurut anggapanku bahwa ngecamp hanya ada di gunung namun  ada juga di pantai.
“ok lha Mam, next time yo mangkat negcamp nang pantai”
“sipp” ujar imam sembari mengacungkan jempolnya ke arahku.
***
Setengah jam aku menghabiskan snack sembari menikmati keindahan pantai Kukup ini. Perhatian pemerintah DIY terjadap wisata alam di sepanjang Gunung Kidul berhasil agaknya menambah keindahan dari pantai ini. Keberadaan tangga penghubung antara satu tebing rendah ke bongkahan batu karang membuat pengunjung bebas menikmati desiran angin dan hentakan ombak. Selain itu keberadaan pedagang serta tempat sampah menambah nilai jual bahwa kawasan pantai ini tertata dengan baik dan tertib.
Masih berada di bawah lekukan tanah yang keras aku memperhatikan garis pantai yang panjang. Walau hentakan ombak besar berkali-kali menerjang namun pinggiran pantai tetap kering. Karang-karang yang terletak di pinggiran berhasil menahan laju ombak yang keras. Maka tidak jarang banyak penunjung bermain-main di sekitar pantai dan menangkap ikan-ikan kecil dengan jaring kecil yang dijual bebas dan murah sepertinya.
Pantai Kukup menjadi pilihan wisata keluarga pada saat penulis datang. Pinggiran pantai yang berlatar karang terlihat bening. Ikan-ikan kecil dengan warna-warna yang tidak senada terlihat di sisi karang yang dangkal. Maka tidak jarang sebuah jaring kecil laku di jual bebas di sini. Mereka menggunakan jaring tersebut untuk menangkap hewan laut yang terlihat apik di sekitar mereka. Penulis sendiri yang mencoba berjalan di sisi pantai yang dangkal dengan mudah menemui ikan-ikan tersebut sembari mencari bintang laut, namun sayang bintang laut tidak mudah ditemui di pantai ini.
Selain menikmati pinggiran pantai sembari bermain menangkap ikan, selfi atau berfoto di tengah pantai juga jadi pilihan banyak pengunjung di sini. Tips bagi pengunjung yang hendak menikmati alam pantai ini bisa membawa topi untuk menahan panas pantai yang menyengat.
***
Ada pulau dengan jembatannya


Matahari semakin menunjukan warna senjanya. Sebelum aku meninggalkan pantai ini , terlebih dahulu aku ingin menyebrang ke sebuah pulau kecil yang tak jauh dengan pantai Kukup. Melalui jembatan penyebrangan aku sampai di sebuah pulau kecil yang tertulis nama Pulau Jumino. Pulau ini oleh pemerintah setempat diperbaiki hingga sepadan. Keberadaan Pulau Jumino ini sangat strategis sehingga bisa melihat sesuatu dengan lebih puas, pemandangan pantai lepas, matahari tenggelam, maupun desiran ombak.
Menyebrang menuju ke pulau ini tidak terlalu jauh. Menapaki jembatan sepanjang delapan puluh meter pengunjung telah tiba di pulau tersebut. Sembari menikmati hembusan angin dari arah pantai dan gemuruh ombaknya biasanya pengunjung menikmati berbagai jajanan kuliner yang dibeli sebelumnya. Sangat pas kiranya jika pantai ini dijadikan tempat refreshing untuk melepas penat setelah beraktivitas.
Di pulau ini para pengunjung dapat menikmati fasilitas yang disediakan pemerintah berupa bangunan untuk sekedar berteduh dari cuaca hujan maupun panas dan deretan bangku seadanya. Walau seperti itu, bagi yang berada di pulau ini hendaknya waspada jika ingin berada di sisi tepi (luar bangunan) walau sisi ini terlihat indah namun hendaknya tetap hati-hati jika terjatuh dan terseret oleh ombak pantai Kukup yang keras.

Catatan Perjalanan Koe : Setapak, Menembus Kabut Kelam Menuju Puncak Kerinci



Bukan gunung yang kita taklukkan, tetapi diri sendiri- Edmund Hillary 

Pagi hari suasana kampungku, Kayu Aro masihlah sangat  dingin udaranya, namun aku tak bisa bertahan lama didekapan selimut hangat ini. Perjalanan besar dan panjang menanti di depan mata. Beberapa anak muda yang terpanggil untuk menaklukan puncak Kerinci mulai terjaga dari lelap malam yang melelahkan. Mereka mulai melakukan persiapan ulang sebelum pendakian ini dimulai. Para pemuda yang datang dari nusantara ini mendadak mengubah rumahku menjadi ramai dengan kesibukan mereka. Pendakian menuju Gunung Kerinci ini membawa tujuh pendaki yakni Duni dan Iko dari Palembang, Rahmat dan Khadijah dari Pariaman, Afni dari Aceh, Devi dari Bandung, dan aku sebagai tuan rumah. Bagi mereka ini adalah perjalanan pertama namun bagiku ini adalah pendakian kali kedua. Euphoria pendakian membawa rasa seolah aku bisa merasakan puncak Kerinci yang seolah memanggil.
***
ngaret juga ne bro….” ujarku kepada Duni yang mengangguk pelan sembari sibuk memeriksa kembali perlengkapannya sesaaat setelah tiba di pos lapor R10, Senin (28/12).
Pendakian ini sesuai dengan breafing harusnya jalan jam 08.00 namun akibat kekurangan sana sini pendakian ini dimulai sekitar jam 10. Adapun perjalanan ini dimulai dari kediamanku desa Sako Dua menuju R10 yang berjarak sekitar 10 Km jararknya. Usai membayar retribusi per malam sebesar 7500 per orang dan biaya parkir 7500 per malam kami memulai perjalanan.
“Semangat teman-teman” sorak Duni usai ritual berdoa yang aku pimpin selesai.
Sepanjang awal perjalanan semua terasa hening. Kami melaju dengan langkah yang pelan dan  beban bawaan yang telah diatur bersama. Keheningan ini pecah dengan sesekali terdengar percakapan, Cakap untuk menguatkan suasana hari itu yang agak kelam dan tanpa sinar matahari yang masih terlihat malu-malu menampakan wujudnya. Perjalanan hari ini harus akan beakhir di cadas, apa pun dan bagaimana pun kecuali ada yang cidera, begitu tekad kami.
***
Pendakian tujuh orang ini bukan pendakian yang sepi rupanya. Barisan pendaki-pendaki lainnya juga terlihat melintas tak jauh di hadapan kami. Bahkan beberapa pendaki asal tanah jawa sempat berkenalan dengan kami. Seolah teman lama percakapan singkat hari itu membuat ada rasa keakraban dan senasib. Puncak kerinci akan menjadi tujuan bersama bagi 1300 pendaki hari itu. Puncak aku merasa seolah telah dekat saja.
Bagi banyak orang saat itu pendakian kerinci di akhir tahun adalah impian dan moment. Banyak wajah pendaki usang dengan segudang pengalaman sengaja datang dari jauh untuk melihat “ada apa di puncak kerinci itu?” Atau sengaja datang menziarahi makam rekan perjuangan mereka yang hanya memiliki nafas sampai mendaki saja. Tapi ya seperti itu, pendakian tetaplah sebuah bongkahan misteri yang berselimut kabut tebal. Tak tahu apakah perjalanan panjang ini akan membawa mereka menuju puncak, atau hanya akan singgah saja di cadas. Semua kembali kepada pilihan dan kondisi. 

Seperti kenalan baruku namanya Alex pendaki tulen asal Kerinci harus merelakan tiga kali pendakiannya sebelumnya yang tak pernah sampai ke puncak tertinggi. Tetangga tendaku di cadas ini tidak bisa mencapai puncak akibat kondisi alam yang labil. Pendakiannya hanya sampai di tugu yuda itu pun dengan kondisi cuaca yang sedikit lembab serta berkabut.
“Sayang sekali memang, namun inilah pendakian kita harus paham dengan batas resiko” ujarnya pelan
   Gunung Kerinci memang menjadi daya tarik dan pesona. Kegagahannya sebagai gunung besar memang membuat banyak orang takjub. Keindahan gunung ini bahkan bisa dinikmati dari sisi simetris puncak talang jika cuaca cerah. Namun sekali lagi gunung memang sebuah bongkahan misteri. Gunung tinggi ini terkenal dengan kontur kelembaban yang tinggi. Berbeda dengan gunung tinggi yang tersebar di pulau Jawa maupun tempat lain,  Gunung Kerinci menawarkan tingkat kesulitan yang berbeda-beda untuk menuju pos maupun pemberhentian.
Walau seperti itu, tantangan inilah yang membuat nilai tersendiri. Ada  rasa senasib yang akan membuat suara dan langkah sesama pendaki menjadi padu. Jalanan nan miring dan setapak ini memperkenalkan aku dengan pendaki nusatara. Ada yang berasal dari Jakarta, Bandung, Bekasi Surabaya, Medan, Padang, dan pendaki sekitar Kerinci. Rasa peduli dan saling bantu menjadi dentuman emosional sebagai manusia untuk saling memperhatikan. Membagi makanan dan minum selama perjalanan bersama orang asing bukan hal tabu, sebaliknya hal ini merekatkan jiwa sosial sesama manusia tanpa ada membedakan dasar apapun. Salam sesama pendaki.
***
Perjalanan ku yang sempat molor ini memang berakibat panjang. Pendakian yang semula berakhir di cadas kini harus rela dilakukan di shelter 2. Pertimbangan waktu yang kini sudah menunjukan pukul 19.00 WIB, hujan gerimis yang mulai turun, udara dingin yang tidak terobati, hingga kelelahan akut yang mendera sebagian besar anggota, khususnya aku dan Duni yang membawa sepasang carel berbeda ukuran.
“kita nge-camp di sini ya..” ujarku kepada rekan lain yang terlihat layu akibat dinginya udara shelter hingga kelelahan.
Jadi malam pertama pendakian kami lewati di area shelter dua sembari mengumpulkan tenaga untuk esok dan mencapai puncak. 
 Bagiku pendakian menuju ke puncak kerinci ini adalah pendakian terpanjang yang aku lalui selama ini. Perjalanan yang  melewati jalan setapak dengan pijakan lembab dan  terus menukik praktis membuat langkah kaki para pendaki terseok-seok. Beban bawaan menjadi kian berat ketika pendakian melewati rute perjalanan yang tidak sedap (terus naik dan licin). Bahkan rute perjalanan setelah melewati pos 3 menuju antar shelter tidak lagi terlihat ramah. Udara yang semakin dingin membuat semangat terkunci. Kerinci sepanjang 3085 telah menguji nyali kami dan memberikan pilihan kami ingin lanjut atau berhenti.
Setapak demi setapak langah kaki kami masih terus mengayuh hingga melewati pepohonan hutan yang tak bertuan. Sesekali nafas-nafas kelelahan tak lagi bersuara elok kecuali lelah. Entah berapa kali carel 55 liter milikku terus menerus aku tarik talinya untuk memperingan. Beruntung persediaan logistik matang masih mencukupi perjalanan sehari ini. Sedangkan untuk keperluan air minum masih dapat dijumpai di setiap pos maupun shelternya.
“Tuhan berikan aku kekuatan untuk menyelesaikan pendakian ini bersama rekan-rekanku” ini adalah ucapann doa yang terus aku baitkan dalam perjalanan ini.
Baju pendek dengan lapisan manset telah basah dengan peluh keringat yang menggigil. Duni yang bersama denganku berjalan semakin pelan. Sesekali ia tak lagi mendengar gurauan ku, mungkin ia telah lelah menurutku. Suasana yang dingin menjadi semakin kelabu dengan langit mendung yang bertabrakan dengan kabut. Jarak antar pendaki semakin menjauh, seperti aku dan Duni yang tertinggal jauh dengan anggota lain.
Dari perjalanan lembab inilah aku belajar tentang “kekuatan dalam diri sendiri untuk percaya bahwa kita bisa”  begitu sugesti yang aku tuliskan dalam semangat perjalanan hari ini.
***

Puncak akhirnya aku gapai. Pijakan kaki di gunung tertinggi Indonesia akhirnya mampu ditaklukan di hari ke empat. Bukan perjalanan mudah, bukan perjalanan piknik, dan bukan perjalanan diatas kertas untuk ke sana. Ada rasa haru rasanya ketika puncak itu kami taklukan. Bersama pendaki lainnya kami merasakan haru ketika pijakan kaki ini berada di puncak tertinggi kerinci. Bukan omong kosong bahwa ada rasa puas dan takjub dengan ciptaan Tuhan. Kali kedua aku berada di puncak tak henti-hentinya aku mengucapkan syukur.
Aku melangkah kan kaki di tepi kawah yang terhalang kabut. Lelah memandang ke bawah aku beranjak meninggalkan tepian itu, kaki ini berdiri menuju ke tepian jauh pijakan puncak yang hanya panjang 150 meter dan lebar sekitar 6-8 meter ini. Barisan hutan yang biru, perumahan penduduk, dan hamparan the hijau menjadi penawar lelah pendakian.
“Trims teman-teman akhirnya kita berada di puncak bersama”

Pendaki dan Mendaki
Ungkapan pendaki adalah ungkapan untuk menyebutkan seseorang yang melakukan aktivitas perjalanan menuju ke puncak gunung. Sedangkan mendaki adalah proses aktivitas yang dilakukan seseorang ketika ia hendak mencapai puncak. Dua ungkapan  memiliki tali hubungan yang erat dan tidak terpisahkan. Maka untuk menjadi pendaki dan mendaki membutuhkan persiapan matang.       
Mendaki gunung saat ini menjadi trend yang terkadang telah menjadi gaya hidup anak muda. Namun gaya hidup dengan berpetualang ke alam bebas terkadang tidak mengindahkan dengan prinsip-prinsip alam tersebut. Kerusakan masal akibat aksi vandalis serta sampah gunung telah menjadi bagian rusak dari gaya hidup berpetualang ini. Masa bodoh, ego, serta hanya menjadikan gaya-gaya an seolah menjadikan nama pendaki menjadi terlihat labil.
Tidak ada prinsip ketat bagaimana menjadi pendaki dan menjadi yang baik.  Namun kemauan menjaga alam serta diri sendiri adalah ukuran penting untuk terlihat baik sebagai pendaki. Entah apakah ungkapan ini akan diamini oleh pendaki senior yang telah diakui seperti Gie, Edmund Hillary, atau Norman Edwin. Indonesia yang berada di jalur khatulistiwa menjadi gudang berdirinya gunung-gunung sepanjang pulau-pulau di nusantara. Maka ada baiknya memahami kembali sikap baik menjadi pendaki maupun keinginan mendaki. 

Perjalanan selama empat hari di Kerinci memperlihatkan kepada penulis selain kerusakan alam akibat vandalis serta sampah, penulis menjumpai berbagai dampak akibat dari kesiapan kurang para pendaki menyebabkan cidera anggotanya. Tidak jarang beberapa diantara mereka harus ditandu menuju ke pos dasar yakni R10, tempat pelaporan pendaki untuk mendapat pertologan. Salut untuk kesigapan petugas sukarelawan yang siaga di setiap pos pendakian memudahkan pertolongan bagi pendaki yang cidera.
Oleh karena itu, guna menghindari hal diatas ada baiknya seorang pendaki sebelum mendaki melakukan persiapan yang cukup dan berulang guna menghindari dampak cidera maupun dampak negativ yang tidak diinginkan.
Priondono

Catatan perjalanan : Tempat Pengasinganku adalah Rumahku

( Catatan perjalanan : Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende-NTT ) Perjuangan seperti apa yang bisa dilakukan Dalam keadaan terkucil sep...