cerita perjalanan jogja : Aku dan Mitos Masjid Agung Mataram



Masjid adalah rumah Tuhan yang suci.
Manusia adalah hamba, yang senantiasa meminta
Dan selalu mensucikan tempat-NYA

Terkadang aku berfikir bahwa wisata Jogja adalah sebuah mitos. Mitos yang yang berbeda dengan arti mitos tradisional pada umumnya. Wisata Jogja yang kaya dengan keindahan dan cerita popular dan menjadi buah bibir hingga ke belahan dunia. Cerita keindahan itulah yang meragukan dan menjadi sebuah mitos. Keindahan tanah Jogja sebagai surga wisata Indonesia perlu dicari kebenarannya dengan mata kepala sendiri.. Ketenaran pantai, gunung, pasar dan bangunan menjadi keistimewaan yang kian membuat Jogja menjadi istimewa dan katanya juga berhati nyaman. Salah satu keindahan dan kemegahan yang kian tenar itu adalah Masjid Agung Mataram yang terletak di Kota Gede, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. 
 
Masjid tua yang telah berdiri ratusan tahun lamanya merupakan warisan cagar budaya yang sampai saat ini masih berfungsi sebagai tempat ibadah bagi kaum muslim (Islam). Masjid yang terletak di selatan pasar Kota Gede atau lebih tepatnya di Jalan Watu Gilang, Kelurahan Jagalan, Kecamatan Banguntapan, Bantul-Yogyakarta merupakan masjid kuno kebanggaan bagi masyarakat Kota Gede. Kekunoan Masjid Agung Mataram ini tidak hanya sebagai pusat pengajaran Islam di bumi mataram, namun juga sebagai simbol dari wujud toleransi antara keraton muslim dengan masyarakat yang masih menganut kepercayaan lama (Hindu-Budha). 
 
Keramaian masjid ini selalu terlihat hidup karena oleh jamaah yang hendak beribadah ataupun wisatawan yang ingin melihat dengan langsung tapak tilas dari sejarah keberadaan masjid dan komplek yang ada di sekitar Kota Gede. Seperti yang penulis lakukan kala menyambangi masjid tua di hari libur (19/2) terlihat banyaknya deretan parkir terpisah mobil dan motor halaman parkir masjid. Walau masjid ini adalah ikon wisata Kota Gede namun pengunjung yang datang hanya dikenai tarif parkir tanpa tariff masuk.
***
Sebuah pohon beringin tua, deretan rumah klasik, dan sebuah gapura besar menjadi pemandangan pertama sebelum memasuki halaman utama masjid agung. Usai menitipkan motor penulis bersama kekasih hati berjalan lurus menuju ke arah gapura masjid yang berarsitektur khas paduraksa. Sebuah arsitektur yang mencirikan kebudayaan seni bangunan ala Hindu-Budha yang katanya sebagai wujud bukti toleransi antar agama tersebut, menajubkan.
Dalam dua sumber yang berbeda penulis menemukan bahwa masjid tua ini dibangun pada masa Panembahan Senopati pada tahun 1511 sedangkan dalam sumber lain menuturkan bahwa masjid ini dibangun oleh Sultan Abdullah Muhammaad Maulanana Mataram atau dikenal dengan nama tenar Sultan Agung di bangun pada tahun 1640. Namun kedua sumber ini tetap memiliki kesamaan yakni. Pertama, pembangunan masjid pada awalnya dibangun dalam bentuk sederhana yakni dalam bentuk langgar. Pembangunan masjid yang terlihat saat ini merupakan pembangunan kedua yang dilakukan oleh Kasunan Surakarta atau Pakubuwono X. kedua, proses pembangunan masjid dilakukan secara gotong royong antara keratin Mataram Islam bersama masyarakat yang tidak hanya beragama Islam namun juga masih menganut kepercayaan Hindu-Budha. 
 
Aku berdiri lurus menghadap-NYA. Di bangunan suci yang besar aku menunaikan kewajibanku mengahadap Tuhan sang pencipta. Ada kedamaian dalam sanubari namun semoga ini bukan hanya dari latar aku berdiri namun semoga karena hati yang senantiasa ingin bersujud di rumah-MU yang suci.
Seusai menunaikan salat zuhur penulis mengamati sembari mendokumentasikan beberapa sudut masjid yang menarik. Ruangan bagian dalam masjid yang luas menawarkan rasa kesejukan bagi jamaah yang hendak beribadah. Di bagian dalam masjid terdapat benda klasik yang berfungsi sebagai mimbar khatib yang terukir indah. Bagian dalam atap terdiri dari kayu-kayu yang di desain lurus memanjang, dan sebuah bingkai yang membingkai batu bata sebagai pondasi awal masjid. Lain halnya pada sisi luar, masjid yang bisa menampung ratusan orang ini memiliki keindahan yang membuat Masjid Agung Mataram ini terlihat megah. Masjid yang berbentuk limas ini memiliki atap puncak yang tidak bulat seperti bentuk masjid lainnya, melainkan berbentuk atap tiga tumpang. Sedangkan sudut menarik lainnya terdapat pada halaman masjid dimana banyak ditemukan berbagai peninggalan seperti sebuah menara jam kuno peninggalan Sultan Pakubuwono X, sebuah beduk yang merupakan hadiah dari Nyai Pingitan serta papan keterangan yang menjelaskan tentang Masjid Agung serta bangunan berbentuk kurungan.

Keindahan, kemegahan, serta kesejukan dari Masjid Agung Mataram Kota Gede ini rasanya bisa menjadi refrensi bagi pembaca yang hendak berwisata sekaligus menyegarkan hati dan pikiran. Keberadaan Masjid Agung yang terbangun dalam bentuk kompleks menutup kebisingan dari jalanan menjauh dari keramaian kendaraan maupun teriakan yang berasal dari keriuhan pasar. Selain itu masjid ini dibangun dengan tembok besar setinggi 2,5 meter sehingga tertutup dari pandangan luar. Singkatnya, berwisata di Masjid Kota Gede merupakan perjalanan untuk merefleksikan kemegahan Kerajaan Mataram yang masih hingga saat ini.
Keberadaan tembok besar yang menutupi masjid ini dan hanya memiliki tiga pintu masuk gapura utama memiliki beberapa bangunan lain yang menarik. Bangunan-bangunan tersebut antara lain bangunan sendang seliran yang berfungsi sebagai pemandian. Pemandian ini terpisah antara pemandian perempuan dan laki-laki. Pengunjung yang datang biasanya memamfaatkan pemandian ini dengan cara membasuh kepala maupun mandi. Ada berkah dibalik itu katanya.

Selanjutnya di sisi lain terdapat beberapa pendopo yang saling berhadapan, pendopo yang dihuni abdi dalam kerajaan bertugas menjaga keasrian sekitar kompleks. Pengunjung yang datang ke sini diminta menuliskan identitas dan infak untuk menikmati keindahan pendopo dan keramahan dari abdi dalam tersebut. Terakhir di dalam kompleks ini terdapat pemakaman khusus keluarga kerajaan yang terdiri para pendiri KerajaanMataram antara lain Panembahan Senopati, Hadiwijaya, Sultan Hamengkubuwono II, serta keluarga beberapa bangsawan Mataram lainnya. Berbeda dengan kompleks lain, bagi pengunjung yang hendak memasuki pemakaman guna berziara harus mengikuti berbagai syarat seperti tidak memfoto, menggunakan pakaian yang ditentukan.
***

Semoga ada waktu untuk aku kembali
Waktu yang terasa sebentar, kunjungan dua jam ku di kompleks Masjid AgungMataram dan sekitarnya harus berakhir. Persinggahanku di Masjid Agung berhasil membenarkan sebuah mitos dari masjid ini. Keindahan serta kemegahannya bukan sekedar kekaguman semu belaka. Tulisan dan dokumentasi foto ini adalah bingkai kecil yang bisa penulis abadikan dan tuliskan. Nilai keindahan dan kemegahan selebihnya banyak di rasakan dalam hati yang merasa kenyamanan kala berada di sini. Jadi, bagi yang berkeinginan merasakan wisata dengan nuansa spiritual Masjid AgungMataram bisa menjadi refrensi bagi pengunjung yang singgah di Jogja. Namun jika masih menikmati keindahan ini dalam barisan aksara dengan rasa penasaran berarti anda juga merasakan hawa mitos seperti saya sebelumnya.









Catatan perjalanan : Tempat Pengasinganku adalah Rumahku

( Catatan perjalanan : Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende-NTT )

Perjuangan seperti apa yang bisa dilakukan
Dalam keadaan terkucil seperti ini.
Sulit rasanya menemukan lawan bicara di sini (Ende)
Dialog Baim Wong kala memerankan tokoh Soekarno dalam film Ketika Bung di Ende

Kutipan dialog di atas aku temukan ketika menonton ulang film Ketika Bung di Ende 2013. Baim Wong yang berperan sebagai Soekarno, seorang orator ulung, singa podium yang harus merasakan kepahitan hidup ketika diasingkan di Ende, Nusa Tenggara Timur. Menjalani hukuman di pengasingan selama empat tahun yakni sejak tanggal 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938 membuat seorang Soekarno tidak berdaya. Namun di ujung ketidakberdayaannyalah Soekarno menemukan sebuah gagasan dalam memandang Indonesia lebih luas. Semua itu tidak terlepas dari rumahnya yang sederhana sebagai tempat ia menjalani hidup, kebiasaannya merenung di bawah pohon sukun, hingga dialog antar etnis dan agama selama pengasingan. Ia melahirkan Gagasan berupa filosofi dasar dari Negara Indonesia bernama pancasila (lima dasar).
Akhir Desember 2013 menjelang pergantian tahun aku bersama rekan-rekan guru SM-3T (Sarjana Mendidik Terluar, Teringgal dan Terdepan) menyambangi situs rumah pengasingan Bung Karno di Kota Ende. Lokasi ini tidak terlalu jauh dari pusat kota, situs ini tepatnya berada di jalan perwira, Kelurahan Kota Raja, Kecamatan Ende Utara. Dari pusat kota Ende menuju ke Rumah Bung Karno dapat ditempuh dengan berjalan kaki atau menggunakan jasa antar ojek maupun angkutan umum.
Sebenarnya keinginanku menyambangi rumah pengasingan ini didorong oleh rasa ingin tahu bagaimana kehidupan Soekarno yang diasingkan di tempat terasing. Di rumah yang sebenarnya dimiliki oleh Haji Abdullah Abuwaru disewa oleh Soekarno yang membutuhkan tempat tinggal selama pengasingan bersama Inggit (istri), Ratna Juami (anak angkat), dan Amsih (Mertua Soekarno). Sampai saat ini rumah ini masih berdiri kokoh dengan khas arsitekturnya yang tidak mengubah bentuk aslinya.
Kami mengijakan kaki di depan pagar seusai turun dari angkutan kota dari pasar ende. Tampak dari luar, rumah ini tidak terlalu besar untuk dikatakan sebagai sebagai sebuah istana yang bertingkat, kesederhanaan rumah dengan cat putih di dinging dan halamannya yang hijau menampakan keasrian di sekitarnya. Mantap dengan keindahan rumah di luar pagar kami hendak memasuki rumah tersebut. Namun muncul guratan kekecewaan ketika mendapati pintu pagar rumah Bung Karno yang terkunci. Kami tidak menemukan penjaga khusus layaknya museum.
Seolah tidak ingin putus asa kami pun menanyakan perihal rumah Bung Karno ke sebuah toko yang berada di samping situs rumah Bung Karno.
oh…sebentar e petugasnya segera datang…” ujar seorang ibu paruh baya yang biasa di panggil mama’e berteriak lantang memanggil seseorang.
kunci…kunci ada orang mau masuk…” teriaknya
Tampak seorang lelaki dengan langkah setengah berlari mendekati kami. Ia tersenyum ramah sembari menyilahkan kami untuk masuk ke Rumah Bung Karno, tentunya dengan pintu pagar yang telah ia buka.

Usai melakukan registrasi seadanya, salah satunya menulis buku tamu di pintu masuk kami dipersilahkan masuk dan berkeliling melihat isi dari bekas rumah di Bung Karno ini. Ruangan yang besar ini tampak rapi dengan segala benda yang mengingatkan tentang masa-masa saat Soekarno berada di Ende. Dan kami memiliki banyak waktu berkeliling memuaskan dahaga rasa penasaran terhadap apa yang di dalam rumah Bung Karno.
***
Jika Soekarno hidup kembali, apakah ia akan mengira bahwa ende tetap sebuah negeri yang kecil, sebagaimana ia pertama kali datang ke Ende di tahun 1934 silam?.

Seperti pada awal tulisan, aku menyambangi situs rumah Bung Karno untuk melihat titik awal dimana ia menemukan gagasan tentang Indonesia yang luas. Sebuah rumah yang sederhana untuk orang besar seperti Soekarno. Rumah seluas 742,6 m2 yang memiliki dua bangunan utama dengan ukuran yang berbeda yakni 11 x 9 m2 dan 12 x 3 m2 dan beberapa ruangan. Ketika memasuki bangunan rumah yang telah dipugar ulang tahun 2009 ini kami menikmati berbagai dokumentasi baik berupa foto, tulisan bahkan benda tertata baik tersedia untuk dinikmati oleh pencinta nostalgia.
Pandanganku tiba-tiba tertarik untuk memandang sebuah foto yang dibingkai cukup besar yang tergantung di dinding. Lelaki dewasa yang mengenakan sebuah peci berwarna hitam, memakai jas putih dengan ditambah dasi berwarna hitam, ia tampak gagah. Tidak jauh dari bingkai foto ini aku melihat sebuah kotak kaca yang berbentuk persegi yang berisi sebuah benda panjang yang melengkung. Sebuah tongkat yang dulunya menemani Soekarno guna berjalan-jalan menyapa orang, mengumpulkan massa, dan menyerukan kemerdekaan.
Merdeka bung” ujarku dalam hati.
Sembari melihat foto-foto dokumentasi tentang kehidupan Founding Father selama di Ende aku mencoba untuk menyelami sebuah jiwa zaman (zeitgeist) dari kepahitan Soekarno. Merasakan kesepian ketika berada di tanah Flores. Suasana sangat berbeda antara Jawa dan Flores pada masa awal pergerakan nasional, awal abad 20. Di Jawa Soekarno berperan sebagai pemimpin dan singa podium, ia terbiasa berhadapan dan berinteraksi dengan banyak orang. Berbeda besar dengan Ende, statusnya sebagai tahanan politik semakin menjauhkannya dari massa. Perbedaan itu juga terlihat dari segi jumlah penduduk tahun 1934 dimana Ende saat itu berjumlah penduduk 5000 jiwa, jauh berbeda dengan penduduk Batavia di tahun yang sama telah mencapai lebih dari 30.000 jiwa. Kesulitan ini semakin besar ketika ia dikucilkan dari masyarakat sekitar hanya karena dianggap sebagai orang yang berbahaya (interniran).
Namun Soekarno tetaplah seorang Soekarno, empat tahun selama di Ende telah membentuk sang singa podium yang tak ingin kehilangan podiumnya. Jika memang tidak harus dia berada di garis terdepan sebagai orator maka ia pun siap memerankan diri sebagai otak dari sebuah perubahan itu. Massa tidak akan datang kepadanya, namun ia yang memperkenalkan dirinya. Ia abai dengan statusnya sebagai tahanan politik. Bersama rakyat jelata yang terdiri dari pedagang, petani, nelayan ia berhasil memperkenalkan makna kemerdekaan dalam bentuk kebebasan. Soekarno memperkenalkan sebuah grup drama. Grup drama yang diberi nama kalimutu ini setidaknya mementaskan naskah karya tangan dingin Soekarno. Adapun naskah tersebut antara lain yakni Rahasia Kelimutu 2, Rendo Rate Rua, Nggera Ende, Amuk, Dokter Syaitan, Kut-Kutbi, Aero Dinamit, Djula Gubi, Maha Iblis, Anak Haram Jadah, Sang Hai Roemba, dan 1945. Beberapa naskah tersebut masih terpajang di etalase lemari rumah pengasingan Bung Karno.
***
Ende tetap sebuah negeri yang kecil, namun tetap ada kebanggaan dari negeri yang berjuluk sunda kecil, pulau Flores, Timur Indonesia. Walau hanya empat tahun Soekarno hidup di daratan Flores, Ia masih mengingatnya bahkan sempat berkunjung ke Ende di tahun 1950, ia tetap menyatakan bangganya menjadi bagian Flores. Kebanggaan Soekarno seolah itu yang kami rasakan ketika singgah di cagar budaya rumah pengasingan Bung Karno ini. Rumah yang sederhana memang awalnya merasa kesepian, namun ia sadar tempat pengasingannya adalah rumahnya.
Kebanggaan Soekarno ini juga menjadi kebanggaan orang Ende, bahkan Flores. Bapak bangsa yang sadar Indonesia ini kaya dengan keanekaragaman kala dirinya terbiasa merenung duduk di bawah pohon sukun, pohon yang tidak jauh dari rumahnya. Pancasila adalah pemersatu dari perbedaan itu. Mengijakan kaki di rumah ini membawa semangat nasionalisme bagiku dan bagi mereka yang cinta Indonesia.

cerita Koe dari Jogja : Cerita tentang Malioboro






Di antara kereta yang beranjak ke timur
Serta jerit peluit yang masih tersisa di telinga
Udara seperti bergetar meski hujan telah lama reda
Kita berjalan keluar meninggalkan deretan bangku itu
Dan segera nampak aspal yang mengkilat dan trotoar yang bersih..
Acep zam zam noor


Aku mengawali tulisan tentang malioboroku dari sebuah karya puisi milik sastrawan Indonesia kelahiran tasikmalaya, Acep Zam Zam. Dengan bahasa puisinya yang halus ia menceritakan sepetak tentang Malioboro, tutur tulisan membuatku terbius untuk menelusuri kawasan ramai Malioboro di suatu petang awal Maret lalu tahun 2016. Perjalanan panjang dari kota bengkoang, Padang Sumatera Barat membawa jejak kakiku di kota istimewah Yogyakarta ini. Sebuah ransel merah besar dan pakaian lusuh menjadi saksi bagaimana aku menelusuri jalanan ramai yang kaya dengan sejarah.

***
Udara sore kota Yogyakarta menamparku pelan, membangunkan dan mengingatkan  aku bahwa telah berada central java. Seusai menitipkan karelku di sebuah penginapan murah aku mulai berjalan di sekitar kawasan Malioboro. Rasa tak sabar untuk menyambangi jalan Malioboro terbayar sudah ketika aku memulainya dengan menaiki becak dengan harga murah.
“Sepuluh ribu aja mas...” ujar tukang becak berwajah cokelat. 


Sembari menikmati kayuhan becak yang berjalan pelan dan lambat aku mengulang ingatanku tentang Malioboro. Sejarah mencatat keramaian Malioboro tidak hanya berlangsung hari ini atau kemarin namun keramaian tersebut telah lama hidup bahkan sejak Indonesia belum berdaulat. Malioboro pada masa kolonialisme dan imperialisme  di Indonesia berada di bawah kedaulatan kesultanan mataram (Yogyakarta). Nama Malioboro yang berarti karangan bunga juga diidentikan dengan nama pejabat kolonial Inggris bernama Marlborough. Konsep kota Yogyakarta sedemikian berhasil mampu menjadi tata kota yang megah dan menawan. Perpaduan antar bangunan-bangunan ini bahkan tercampur dengan gaya bangunan khas eropa, jawa, dan cina. Sampai sekarang perpaduan bangunan tersebut masih berdiri kokoh di sekitar kawasan Malioboro. 

  Namun selain kekokohan dan perpaduan bangunan, sisi lain dari Malioboro ini adalah ruang berupa jalan yang tersusun berdasarkan sumbu imaginer yang diyakini sebagai sumbu atau poros yang saling berhubungan. Malioboro yang berada di tengah terhubung lurus antara arah selatan dan utara. Arah Selatan yang terhubung dengan keraton kesultanan Yogyakarata membawa garis tersebut jauh hingga ke pantai selatan. Sedangkan arah utara kawasan ini simetris dengan titik tugu Yogyakarta kemudian sejajar dengan garis Gunung Merapi. Jadi tidak heran jika kawasan Malioboro kerap menjadi tempat meting point bagi para traveller maupun backpaker yang hendak berwisata di sekitar Jogja. Selain itu, kawasan ini berdekatan dengan tempat wisata lainnya seperti tugu, keraton, taman pintar, alun-alun yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki maupun dengan menggunakan jasa becak, tentunya setelah ditawar.

***

Aku meninggalkan lamunan sejarahku tentang Malioboro masa silam. Usai membayar becak dengan harga pas aku pun mulai menelusuri jalanan Malioboro yang kian ramai. Bersama seseorang traveller asal Banyumas Intari kami berdua menikmati indahnya Malioboro di kala malam hari.
“ wow lampu jalannya keren ya...” ujarku.
Lampu jalan yang menyala dengan warna putih menjadi terlihat mewah dengan pembungkus lampu yang berwarna hijau dibalut desain lampu klasik. Desain klasik ini seolah mengisyaratkan bahwa Malioboro bagian dari sejarah panjang sumbu imaginer. Selain model lampu jalan klasik,berbagai hiasan di sepanjang trotoar pejalan kaki terlihat unik mulai dari berbagai hasil karya berupa patung hingga slogan-slogan ramah tamah ala kota pelajar ini.
Jogja berdiri dan eskis dengan sedemikian menarik setidaknya begitulah simpulanku ketika aku menelusuri jalanan ramai Malioboro hingga ke titik nol kilometer. Mindset Jogja sebagai kota ramah dan murah menjadi magnet bagi pengunjung domestik yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, bahkan bagi wisatawan asing luar negeri. Malioboro yang dibangun sebagai menjadi kawasan ekonomi perdagangan dan laju mobilitas kehidupan kota hingga saat ini mampu bertahan.
Aku memilih duduk bersama Intari sembari beristirahat sejenak di sebuah bangku taman yang terbuat dari kayu. Kami menikmati suasana ramai pejalan kaki sebelum kembali melanjutkan jalan kaki kami sendiri menuju ke titik nol Malioboro. Bangku taman yang berada di setiap trotoar ini memang memanjakan pengunjung untuk bisa beristirahat jika lelah berjalan-jalan. Selain bangku hiburan berupa suara radio Malioboro pun terdegar nyaring tak jauh dari aku duduk.
“Selamat datang di kawasan belanja Malioboro. Selamat menikmati wisata yang ada di Malioboro dan tetap waspada dengan barang bawaan anda semua ya...” tutur penyiar radio yang berbicara secara lugas dan friendly tersebut.
Denyut nadi Malioboro menjadi kebutuhan bagi siapa pun. Pedagang, pengunjung, bahkan bagi kota jogja sendiri sebagai citra populer sebagai kota yang istimewah bagi siapa pun yang menyambanginya.  Bahkan denyut nadi Malioboro juga menjadi nafkah bagi tukang becak hingga guide. Walau seperti itu bagi yang datang dan menikmati surga belanja murah di Malioboro boleh menawar dari setiap jasa maupun barang yang diperjual-belikan. 

***

Benteng Vredeburg

Setelah berlelah-lelah berjalan menelusuri pusat kawasan belanja kota Yogyakarta aku terhenti di sebuah pintu gerbang. Barisan motor parkir, taman, monumen, dan sebuah gerbang besar yang berdiri kokoh. Aku mengejanya pelan dan nama ejaan tersebut membawaku kembali pada ingatan historis.
“benteng vredeburg” begitu tulisannya
Sebuah benteng yang berdiri di sekitar titik nol Malioboro ini merupakan bukti tua dan nyata tentang keberadaan bangsa asing yang masuk dan berkuasa di Indonesia khususnya tanah jawa. Benteng yang dibangun pada tahun 1765 ini merupakan benteng tua dari bangunan peninggalan kolonial belanda. Pendirian benteng kokoh ini pada awalnya bertujuan untuk memperkuat hegemoni bangsa belanda di tanah jawa dan untuk mengatur sistem pemerintahan secara politik dan ekonomi.
Namun setelah Indonesia menjadi negara yang berdaulat peninggalan belanda ini berubah fungsi menjadi salah satu bangunan cagar budaya yang dilindungi. Perubahan fungsi ini juga menjadikan benteng ini sebagai museum yang saat ini diperuntukan secara umum bagi pengunjung. Dengan membayar beberapa ribu rupiah pengunjung dipersilahkan untuk menikmati kekokohan benteng vredeburg dari dekat dan menelusuri di setiap ruangan.  

Cerita Koe dari Jogja : Pustaka empat menara



Langkah kakiku melangkah ke depan secara prlahan sembari membetulkan kembali posisi tas ranselku yang agak miring. Perjalanan hampir satu jam dengan bus trans jogja membuatku  merasa bosan. Namun toh kebosananku sirna juga karena akhir perjalananku menemui ujungnya, tujuanku sendiri yakni menyambangi pustaka megah Grahatama, Yogyakarta terbayarkan. Pustaka anyar yang berada di jalan Banguntapan, Janti ini merupakan pustaka yang resmi dibuka pada awal tahun 2016. Ketertarikanku sendiri menyambangi pustaka Grahatama karena pembangunan gedung tersebut, dimana Grahatama yang diresmikan langsung oleh Sultan Hamengkubuwono XI ini  dikatakan sebagai gedung pustaka termegah di asia tenggara. Ribuan buku dengan berbagai judul dan fasilitas publik diharapkan memang menjadi gedung ilmu pengetahuan, sebagaimana peran kota Yogyakarta sendiri sebagai kota pelajar.

Jam tanganku  menunjukan pukul 10.00 wib. Sebelum memasuki gedung pustaka, terlebih dahulu aku berhenti di sebuah pondokan kecil yang berada tepat di depannya. Pondokan yang berukuran tiga kali tiga meter tersebut terdapat bongkahan batu besar hitam yang terukir berupa tulisan dan tanda tangan milik Sultan Hamengkubuwono X. Singkatnya,  kemegahan gedung  ini dibuktikan dengan bongkahan batu besar yang terukir dan menandai berdirinya gudang ilmu modern Yogyakarta. Bangunan  ini memiliki luas yakni 2,4 hektare dan dalam proses pembangunanya telah menghabiskan anggaran dana sampai 70 milyar. Dengan luas dan besaran dana untuk pembangunan ini, pustaka selain dimamfaatkan publik sebagai pusat ilmu, pustaka ini juga dilengkapi dengan fasilitas berupa taman bahkan ruang audivisual yang menayangkan film-film pendidikan.

Aku meneruskan niatku untuk memasuki ruang pustaka Grahatama. Seusai menuliskan identitas di pintu masuk dan meletakan tas di loker  yang disediakan aku berjalan menelusuri koridor pustaka. Berada di lantai dua aku bisa melihat langsung kemegahan menara Grahatama yang berjumlah empat buah. Menara yang menjadi ciri identitas pustaka ini memiliki makna. Sebagaimana nama Grahatama yang berarti tempat menyimpan swaka, empat menara tersebut dilambangkan dengan empat kesempurnaan orang jawa yakni prakoso, wuluh,wangi dan agung. Sambil duduk di taman aku juga memperhatikan kesantunan bahasa yang terukir di setiap tonggak besar yang menjadi pondasi Grahatama. Kalimat yang berupa kutipan ini  diukir dalam ukiran bahasa latin jawa.
Puas memandang sekeliling lantai dua aku beranjak dan menuju ke lantai tiga. Sebuah ruangan yang tidak terlalu luas namun tersekat dengan kaca-kaca yang tranparan. Berbeda dengan pustaka lainnya di sini alas kaki hendaknya dimasukan ke dalam kantong yang telah disediakan dan dibawa masuk. Walau sedikit ribet namun hal ini bertujuan untuk mengindari kehilangan alas kaki dan menjaga kebersihan pustaka tersebut.
***
Hal yang patut disayangkan ketika aku berkeliling pustaka ini adalah masih minimnya petunjuk atau denah ruang. Grahatama yang dibangun dengan tiga lantai ini memiliki ruang-ruang yang berbeda. Oleh karena itu jangan segan untuk bertanya kepada petugas pustaka untuk mencari ruangan yang ingin dilihat. Seperti yang aku lakukan untuk mencari ruang audiovisual. Ruangan yang menayangkan video pendek tiga dimensi ini dibuka secara umum dan gratis.
“ambil tiket dulu mas di depan setelah itu silakan turun ke lantai satu” jawab petugas pustaka
Walau video pendek ini gratis pengunjung tetap masuk melalui tiket yang disediakan di lobi pustaka. Selain untuk mencitakan budaya tertib hal ini juga membatasi penonton karena ruang audivisual yang terbatas, dimana ruangan ini hanya bisa menampung sekitar 15 penonton saja. Video yang ditayangkan dengan durasi sekitar 10-15 menit ini menayangkan film pendek berupa ruang angkasa, dinosurus, maupun film animasi yang masih bergenre pendidikan. Dengan efek enam dimensi aku bisa merasakan gejolak petualangan yang timbulkan oleh efek kacamata yang dipakai dan goyangan bangku tempat duduk yang bergerak otomatis.
Usai menonton film pendek bergaya enam dimensi aku masih memiliki kesempatan untuk menonton film pendidikan yang berada di ruang berbeda. Ruang tersebut bisa menampung penonton sampai 50 orang. Namun  sebelum menonton trelebih dahulu aku memasuki ruangan pustaka yang berisi buku bebas, biasanya novel. Rak-rak besar yang berisi buku telah dipenuhi pengunjung yang ingin merilekskan diri dengan membaca bacaan yang ringan.
Walau sedikit berantakan dengan banyaknya pengunjung yang membaca di sembarang rak akibat bangku tempat duduk yang penuh namun pustakan ini tetap sunyi dengan keheningan pembacanya. Aku lekas mengambil sebuah buku berjudul sang pemimpi karya andera hirata yang kutemukan di sudur rak. Sebuah bangku kosong terlihat baru ditingggalkan sendiri.
***
Pustaka dan buku
Grahatama adalah salah satu dari sekian banyak pustaka yang ada di Indonesia. Minimnya minat baca orang Indonesia membuat banyak perubahan dari wajah pustaka. Ketika menyambangi pustaka Grahatama saya mengingat kembali banyak pustaka yang pernah saya kunjungi, salah satunya pustaka pustaka bung hatta di bukit tinggi sumatera barat. Simpulannya saya melihat bahwa pustaka-pustaka ini memiliki daya tarik yang wah untuk mengajak masyarakat datang dan berkunjung ke pustaka.  \


Perpustakaan hanyalah salah satu tempat untuk mendapatlan ilmu. Oleh karena itu tidak ada salahnya memberikan waktu untuk berkunjung ke pustaka sebagai tempat yang membahas banyak ilmu. Tidak hanya ilmu eksak, sosial, namun juga bacaan lain yang akan memperkaya literature pengetahuan dan daya pikir pembaca.
Wajah pustaka seperti Grahatama seperti yang telah diuraikan di atas secara gamblang tidak hanya mempromosikan wajah pustaka sebagai gedung baru namun wajah lain pustaka dengan fasilitas yang dimilikinya. Adanya fasilitas berupa nonton bareng untuk film pendidikan maupun film bergaya enam dimensi menjadi promo menarik di samping buku-buku yang berjumlah ribuan yang patut menjadi refrensi bacaan.


Kesan saya ketika meninggalkan gedung ini adalah harapan. Bahwa semoga literatur yang menjadi koleksi pustaka megah ini mampu termamfaatkan sehingga menjadi kebaikan bagi masyarakat Indonesia. Menuju ke persaingan global membutuhkan persiapan yang matang, jadi mari belajar dan memamfaatkan pustaka sebagai sarana belajar.  

Catatan Pendakian Gunung Merapi : Jalan Lusuh Menuju Marapi




Perjalanan yang tak selalu senang, perjalanan yang tak selalu cerah, inilah perjalanan yang terkadang menyesakan dada
Wajah kota Padang beberapa hari ini selalu bermuram durja. Lipatan tebal awan hitam tak hentinya berada di atas dimana aku berdiri. Gumpalan ini seharusnya telah menjadi pertanda bahwa suasana hari akan turun hujan. Sungguh menyenangkan jika mengingat kebiasaan lumrah di kala hujan maupun mendung adalah berdiam diri di rumah dan menikmati hangatnya gumpalan kain tebal dan seruput minuman hangat. Namun itu doloe.
Kali ini usai melaksanakan latihan kepemimpinan dasar yang diadakan PPG UNP rekan ekonomi dan menyertakan aku bersegera dengan  tekad bulat menembus hujan dan melakukan pendakian ke gunung Marapi-Padang Panjang. Euphoria dan hawa gunung terlalu memikat teman-teman dari ekonomi ini untuk mengijakan kaki di sana. Beranggotakan delapan orang saja yakni aku, David, Willy, Yendra, Dila, Desi, Adel, dan Rina, kami memulai perjalanan di bawah langit mendung dan hujan.
Tiga buah tenda isi tiga, sebuah kompor gas, dua buah gas, lima matras, tiga sleping bag, dan peralatan nesting masuk ke masing-masing carel ukuran sedang. Perlengkapan yang sewajarnya menurutku walau akhirnya aku sadar dengan banyaknya kekurangannya nanti.
Tower Koto Baru 19.30 WIB..
Aku berdiam diri di bangunan mushalla yang dibangun dekat pintu masuk pendakian sembari menunggu waktu salat isya masuk. Perjalanan melelahkan dari kota Padang berhasil kami tembus hingga menjelang Magrib. Usai membayar registrasi masuk dan parkir sebesar 100 ribu, harga yang pantas setelah kami tawar, kami mulai bersiap. Perlengkapan pendakian di cek ulang berikut dengan mantel hujan praktis (plastic) di siapkan.
Hujan masih mengguyur sekitar Padang Panjang pada umumnya. Cuaca yang kurang bersahabat untuk melakukan perjalanan membuat kami masih betah mendiami pondokan darurat milik penduduk. Sembari memesan kopi dan teh kami menikmati apa itu kedinginan dan hujan. Kapankah hujan ini akan reda?ujarku dalam hati.
Hujan tidak hanya turun hari ini begitu kata orang asing di sebelahku. Kami yang sama memilih tempat berteduh maota lamak (bercerita enak) tentang pendakian Marapi. Menurutnya hujan sudah turun selama beberapa hari ini. Memang sudah musimnya bahwa para pendaki yang melakukan pendakian akan dihadang dengan guyuran hujan yang seolah tak pernah henti. Ia menyarankan kami untuk pintar memilih lokasi nge-camp­ karena di cadas sering terjadi badai disertai hujan.
“Dan kalo ada anak yang baru mendaki, ingat selama jalan mendaki biasakan menghirup nafas dari hidung dan dikeluarkan lewat mulut” ujar sosok asing yang menurutku telah berumur 40 tahunan. Sosok peduli kalau di alam memang hal wajar. Bahkan selama perjalanan rasa sungkan begitu saja hilang untuk saling bagi-membagi perbekalan ala kadarnya. Solidaritas yang terasa instan menurutku namun begitulah solidaritas ini tak tertandingi rasaku.     
Tidak terasa hampir sejam kami berdiam diri menunggu hujan ini berhenti mengguyur hutan pegunungan. Pertanda bakal cerah kini tinggal pertanda. Ketika curah hujan mulai mengendur kami mulai bersiap menembus hujan dan menuju cadas Marapi. Aneka mantel plastic warna-wari menjadi teman perjalanan kami. Sebuah topi dan lampu senter menjadi penerang dan penghangat perjalanan yang lembab.   
Hutan belantara
Pendakian setapak ini tidak sampai menuju ke cadas sebagaimana misi bersama. Kami akhirnya merebahkan diri di tengah hutan belantara, sekitar jalan masuk lubang mancik (lubang tikus). Tidak butuh waktu lama setelah melihat kelelahan para anggota pendakian disertai guyuran hujan membuat kami pun mengalah dan menginap di hutan belantara ini. Pilihan berhenti adalah hal wajar, memilih Nge-camp atau akan ada yang cedera akibat cuaca dan suasana malam hari yang dingin. Pilihan yang harus dipilih mengingat posisi saat ini dengan cadas tak begitu jauh lagi.
Walau track marapi adalah jalanan yang ramah bagi pendaki pemula namun di kala hujan track ini akan menjadi lembab, becek, serta terjal. Jalanan tanah menjadi lunak untuk di pijak. Maka selain memakai senter sebagian lain juga memilih menggunakan tongkat kayu untuk memapah perjalanan menuju titik bersama. Kesulitan ini bahkan harus dilalui dengan jalanan malam yang gelap gulita dan minim penerangan. Langkah kaki yang semangat mendaki lambat laun mulai tergerus lelah dan melambat. Rasa lelah mulai menyerang para pendaki malam itu.  

Rasa lelah memaksa kami akhirnya untuk  mendirikan tenda setelah melewati separuh malam atau sekitar 6,5 jam perjalanan. Tenda yang serasa kembar ini berdiri tegak berbaris ditanah landai yang agak becek. Semua beraktivitas untuk memenuhi kebutuhan dini hari yang dingin itu. Memasak air, mendirikan tenda, membuat tali jemuran darurat, hingga menyalakan api unggun di sela-sela akar pohon. Lipatan-lipatan baju basah segera diganti untuk mewati dini hari yang lebih hangat.
Percakapan-percakapan santai menyelingi malam itu yang sepi. Sambil menikmati makanan ringan dan minuman hangat aku merasakan hawa kekeluargaan antar sesama pendaki yang kini terasing ditengah hutan. Rintikan hujan menjadi pelengkap malam keakraban kami yang didera kelelahan. Sebagian memilih menghangat diri di tenda dan tiba-tiba telah tertidur tanpa ucapan selamat malam. Akh mereka lelah 
Aku memasuki tenda yang kini hanya menyisakan aku yang masih tersadar. Sembari menunggu subuh aku memilih mendengarkan alunan khas milik frau di tenda sempitku. Dipenghujung dini hari aku mendengarkan lirikan frau tentang sepasang kekasih yang bercinta di luar angkasa. Lirik yang kadang memiliki gaya bahasa yang sulit diterka.
Dan subuhpun datang, aku salat dan setelah itu lekas bergegas menjumpai alam mimpi yang kini terasa berat.
***
Berat mataku untuk terjaga pagi ini. Apalagi matahari pagi masih tak terlihat walau sudah menunjukan waktu 09.00 WIB. Gumpalan kabut putih menyerang jalanan pagi ditengah hutan belantara marapi. Mereka telah bersiap untuk bergegas menuju cadas dan puncak, meninggalkan tenda dan aku untuk berjaga di sini.
“Hati-hati ya…jalan didepan agak susah tracknya jadi saling bantu saja” ujarku kepada mereka.
Berat hati untuk tidak menyamai langkah dan mencapai puncak marapi. Sebenarnya mereka memintaku untuk ikut, namun aku yang baru terjaga masih merasa sangat ngantuk untuk melakukan pendakian ini. Selain itu agaknya aku harus mengamankan beberapa perlengkapan nge camp yang agak berserakan di sekitar tenda.   
“Aku menyusul jika aku ingin”  ujarku
Cadas Marapi 11.00 WIB

Berlama-lama di tenda memang bukan hobiku rupanya. Usai membereskan beberapa perlengkapan sekitar tenda yang berserakan aku pun bersiap melewati lubang mancik dan menuju cadas, dan menjumpai taman eideiweis yang terletak dipunggung Marapi, taman yang aku rindukan.
Pendakian setapakku kini hanya seorang diri, hanya ada beberapa barisan pendaki lain yang telah mendahuluiku di depan. Sembari merasakan hangatnya cahaya matahari yang tertutup kabut aku terus mengayunkan kaki menuju ke cadas. Track lubang mancik yang dikenal terjal kini semakin sulit  untuk dilalui akibat tanah jalan yang becak dan lunak. Track ini semakin sulit tentunya jika ingin turun nantinya. Entah berapa kali aku menjumpai pendaki yang kesulitan untuk melewati track ini jika menurun.   
Cadas…
Setelah melewati jalan sempit dan becek akhirnya kaki ini untuk ketiga kalinya memijak bumi cadas marapi. Rasa puas ketika aku bisa menggapai cadas tinggi  gunung marapi. Gunung yang menurutku membuatku merasakan cinta.

Catatan perjalanan : Tempat Pengasinganku adalah Rumahku

( Catatan perjalanan : Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende-NTT ) Perjuangan seperti apa yang bisa dilakukan Dalam keadaan terkucil sep...