EIDELWEIS PAPUA



“Bunga terbaik yang saya temukan di dataran tinggi ini, di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua bernama Bunga Eidelweis”
Awalnya sih  memang masih diragukan apakah tumbuhan yang saya temukan adalah Eidelweis. Namun setelah melakukan konfirmasi dengan beberapa sumber, akhirnya saya bisa memastikan bahwa flora ini adalah Bunga Eidelweis khas Papua. Flora yang mempunyai nama keren bunga keabadian ini mungkin salah satu tumbuhan yang langkah di sini. Dan, saya menemukannya tumbuh di suatu tempat yang jarang tersentuh manusia.
Sebenarnya, untuk menemukan Eidelweis di sini bukan perkara yang mudah. Sepanjang kota Oksibil yang masih dataran tinggi dan merupakan ibu kota kabupaten Pegunungan Bintang ini ternyata bukan habitat utama pertumbuhan Eidelweis. Letaknya yang berada di ketinggian tidak menjadi jaminan untuk menemukan setangkai kehidupan dari Eidelweis

EIDELWEIS TANPA BUNGA

.
Eidelweis merupakan tanaman khas yang tumbuh di pegunungan dengan tingkat kelembapan dan udara berkategori dingin estrem (dingin sekali). Setiap pegunungan yang dibuka untuk pendaki (hiking) pasti mengetahui hal ini ketika jejak kaki mereka sampai di puncak. Tanaman langkah yang menjadi ikon puncak gunung juga merupakan tanaman terlarang untuk diambil secara sembarangan, namun entahlah jika di Papua ini.   
Kali pertama saya menemukan bunga ini saat saya menjalankan rutinitas mencari sinyal di puncak Kosikin (lihat cerita saya di judul bagai ninja hatori aku mencari sinyal). Petualangan mencari sinyal lantas membawa saya tersentak saat melihat sebuah tumbuhan setinggi 40 cm dan memiliki daun lembut yang berwarna putih. Sepanjang perjalanan Okbape dan Kosikin mungkin ini adalah pertama kalinya saya menemukan tumbuhan ini, Eidelweis.
Saat menemukan pertama kali, saya masih meragukan bahwa tumbuhan ini adalah Eidelweis. Saya melewatkan tumbuhan ini setelah mengambil beberapa foto. Namun saat kembali menemukan tumbuhan lain yang serupa dan berbunga barulah saya melihat bahwa tumbuhan ini memiliki kesamaan dari bentuk bunganya seperti bunga Eidelweis. Seperti aturan pegunungan yang melarang memetik tangkai maupun bunga tersebut, akhirnya saya memilih untuk mengambil keseluruhan tanaman ini, mencabutnya hingga ke akarnya. Kelembapan dan kedinginan udara di kampung Imbot, Distrik Okbape saya rasa bisa memindahkan dan menumbuhkan tanaman ini di sana. Pemindahan tanaman ini dilakukan sembari saya melihat lebih detail tanaman  lebih jauh.
BUNGA EIDELWEIS
Eidelweis Papua secara detail tidak memiliki perbedaan yang mencolok dibanding dengan Eidelweis di beberapa pulau lain (Sumatera dan Jawa). Perbedaan Eidelweis  papua ini terlihat dari  daun serta tangkainya. Jika tangkai dan bunga Eidelweis di pulau luar papua bisa bercabang serta lebih hijau, berbeda sekali dengan bentuk tangkai Eidelweis papua yang menumbuhkan bunga ini hanya dengan satu batang tanpa tangkai bercabang. Dedaunan yang cenderung berwarna putih pekat  sebenarnya bukan warna daun melainkan semacam bulu-bulu halus rapat yang menutupi daun Eidelweis sendiri yang berwarna hijau. Maka saat jari menyentuh daun Eidelweis Papua ini kita akan merasakan lembut dan ketebalan bulu putih yang menutupi daunnya Eidelweis berwarna hijau.
Dalam hal proses tumbuhnya, Eidelweis  Papua berbeda dengan puncak lain dimana terdapat keseragaman Eidelweis yang tumbuh di sekitarnya. Sedangkan di puncak Kosikin,  saya hanya bisa menjumpai tiga batang tanaman ini di sekitar area puncak yang biasa tertutupi oleh kabut jika lewat dari jam 12.00 WITA . Padahal saya sangat berharap untuk menemukan lebih banyak lagi tanaman sejenis yang tumbuh kembang secara bersamaan. Sebagai tanaman khas pegunungan tidak lah berlebihan bahwa tanaman Eidelweis Papua termasuk flora yang tergolong langkah di Kabupaten Pegunungan Bintang. Dan saat tulisan ini ditulis Eidelweis yang saya cabut masih tumbuh di plant bag hitam berukuran sedang di depan rumah, Kampung Imbot. Entah berapa lama lagi saya akan menjumpainya berbunga saya akan menunggunya.
Flora dan fauna yang terdapat di papua merupakan bagian terbaik yang ada di Indonesia. Saya berharap tulisan tentang flora maupun fauna nantinya akan ada kembali.

Tulisan di bawah rumah sederhana Kalibagor 5 Desember 2018
    

Cerita Papua III: Bagai Ninja Hatori Aku Mencari Sinyal


Mendaki gunung
Lewati lembah
Sungai mengalir indah ke samudera, bersama teman bertualang
Lirik lagu dalam  film ninja hatori
Lirik ini tentu terdengar tidak asing di telinga para generasi 90-an atau 2000 an awal.  Penggalan  dalam lirik ceria ini mengingatkan kembali tentang kisah anak-anak di Hari Minggu saat menonton film animasi produk negeri matahari terbit berjudul Ninja Hatori. Sampai sekarang saya masih menyukai lirik ini, walau tidak lagi disertai dengan menonton kembali filmnya. Lirik ini kerap saya nyanyikan saat saya harus dengan benar-benar menjalani moment seperti yang tertulis di lagu tersebut. Senandung itu kerap  saya  nyanyikan di sini, di Papua.
perjalanan menuju lokasi sinyal (f/prie)


 Papua itu masih identik dengan  pedalaman, ini adalah fakta yang sampai saat ini belum terbantahkan. Kendaraan seperti mobil dan motor adalah alternatif terbatas jika hendak berkunjung di pedalaman ini. Sedangkan moda utama transportasi yang biasa dan terbiasa dilakukan di sini adalah pesawat capung atau jalan kaki. Isu Pembangunan dengan jargon pemerataan adalah bumbu lama yang sering digaungkan. Namun membelah hutan di Papua bukan perkara mudah. Membangun Papua itu mungkin namun itu lama.
Selain cerita jalan-jalan papua pedalaman yang masih hutan, semak belukar, dan bebatuan tebing, cerita tentang ketiadaan sinyal sebagai arus informasi juga masih menjadi bagian dari bab daerah tertinggal. Seolah berada di dunia lain, saya di papua masih hidup dengan surat sebagai penitip pesan.  Di sini handphone dan sinyal sudah dikenal, keduanya dianggap sebagai barang mahal dan sangat susah untuk didapatkan. sehingga untuk mendapatkan salah satunya saya pun diajarkan bagaimana menemukannya.
Saya tinggal kampung imbot, distrik okbape, pegunungan bintang.  Di sini masyarakat telah lama terbiasa dengan ketiadaan sinyal, listrik, hingga infrastruktur jalan yang minim. Berprofesi sebagai guru yang mengajar di pedalaman ini saya diminta untuk terbiasa. Namun ada saaatnya pada suatu waktu saya beranikan diri keluar untuk mencari sesuatu yang sangat rindukan, sinyal. 
 “ Ini tidak tipu pak guru, kalau mau jalan pak guru jalan sekitar tiga jam”  kata kepala kampung suatu ketika menjawab pertanyaanku, dimana mencari sinyal.
“Naik ojek tapi bisa toh...” jawabku membalas
“Bisa tapi, ongkos lagi 100 ribu sekali pergi” jawabnya lagi mentutup percakapan saat itu.   
  “ Puncak Kosikin saya akan ke sana” ujarku dalam hati.
***
Sampai akhir tahun 2017 saya sudah menempuh perjalanan menuju ke Puncak Kosikin sabanyak empat kali. Perjalanan dengan berjalan kaki kerap kami lakukan disamping naik ojek. Jika berkendara dengan ojek membutuhkan waktu sekitar 30-40 menit saja. Sedangkan jika ditempuh dengan berjalan kaki membutuhkan waktu yang lebih panjang sekitar 3-4 jam perjalanan. Jika kalian aku, kalian akan memilih yang mana.
ilustrasi peta menuju puncak kosikin (f/prie)

Ada banyak sebab kenapa aku memilih berjalan kaki menuju ke Puncak Kosikin guna mencari sinyal. Pertama, melatih lebih kuat kaki untuk berjalan. Kedua, biar lebih hemat ^_^. Seringkali ketika aku memulai perjalanan menuju ke Puncak Kosikin dibarengi oleh beberapa siswa. Entah sengaja  atau memang mereka penyuka petualangan, maka jadilah kami memulai perjalanan Puncak Kosikin ramai-ramai.
Adapun track perjalanan menuju Puncak Kosikin , kerap aku membayangkan seperti naik gunung. Jalanan yang datar, naik, turun, dan melewati beberapa anak sungai yang tidak begitu dalam. Walau seperti itu setiap perjalanan  kami harus membawa bekal. Dinginya Puncak Kosikin serta tidak ada sumber makanan membuat kita harus membawa bekal, walaupun itu hanya sekedar roti.
Perjalanan naik-turun ini sebenarnya bukan perjalanan yang dibilang gampang. Tanjakan batu yang melelahkan seringkali membuat nafasku ngos-ngosan. Jika sudah begini kami melepas lelah dengan meminum air yang ada di sepanjang perjalanan. Adapun perjalananku ini dimulai biasanya sejak jam 7 pagi. Dengan estimasi waktu sekitar 3-4 jam biasanya sampai di Puncak Kosikin sekitar pukul 10.30-11.00 WITA. Satu hal yang harus dipegang jika hendak mencari sinyal yakni jangan sampai di atas jam 12.30 WITA. Cuaca Puncak Kosikin  mulai mendung dan tertutup kabut mulai jam 12.30 hingga sore hari. Jika tetap nekad begini biasanya rasa dingin akan membuat kita menggigil. 
***
puncak yang seperti lembah (f/prie) 
Puncak Kosikin, entah bagaimana nama itu tersemat  di tempat ini. Posisi bukit yang berada di puncak  merupakan  pintu angin yang dijadikan pedoman oleh pilot penerbangan jika ingin melakukan pendaratan di Bandara Oksibil, Pegunungan Bintang. Sebagai puncak tertinggi sebelum memasuki Pegunungan Mandala, Puncak Kosikin merupakan jalur lintas kabupaten yang nantinya akan menghubungkan antara Pegunungan Bintang dan Kabupaten Yahokimo (Tapi entah kapan).


Bicara kondisi, Puncak Kosikin berada di titik terdingin menurutku. Titik sinyal terakhir sebelum menembus distrik pedalaman ini bukan tempat yang ramah jika pergi dengan tanpa bekal. Namun di sini ada keindahan alam tersendiri yang membuatku terpesona. 

Cerita Papua: Tempat ngumpetku asyik, Kampung Imbot

Papua dikenal dengan misteri pedalamannya
Dan, Kampung Imbot adalah bagian dari papua itu.

“ Di sini terkadang kita bisa melihat gumpalan putih di atas sana loh” tunjuk Dona, guru Indonesia Cerdas (IC) yang berasal dari Kupang, NTT sambil mengarahkan jarinya ke atas puncak Pegunungan Mandala setinggi 4760 Mdpl.

kampung imbot,papua (f/prie)
Udara pagi itu di kampung ini masih terasa dingin menurutku. Kampung Imbot yang berada tepat dibawah kaki Gunung Mandala ini tidak henti-hentinya meniupkan hawa dingin yang membuat gigiku kadang bergetar. Walau cahaya fajar pagi telah menyingsing sejam yang lalu dari pukul 05.15 namun aku masih belum menemukan hawa hangat dari sang mentari pagi. Sebaliknya, gumpalan-gumpalan awan yang menyelimut terlihat perlahan mulai menutup kembali dinding biru pegunungan Mandala yang tadinya cerah. Mungkin mentari pagi ini malu untuk bersinar akibat banyaknya gumpalan awan yang berkumpul menutup sinarnya. Menikmati matahari di Kampung Imbot kita harus terbiasa melihatnya sekitar 3-4 jam saja. Selebihnya hanya kabut, gerimis, dan hujan.

Di sebuah bangku kayu tak bercat aku meneguk secangkir kopi pagi sembari memberi salam kepada masyarakat Kampung Imbot yang mulai beraktivitas. Dengan perlengkapan tanpa alas kaki, pakaian yang lusuh, noken, dan parang mereka menerjang dinginnya pagi memulai beraktivitas untuk berkebun. Masyarakat Kampung Imbot adalah petani sayur. Di lereng dan lahan sepetak tanah subur Papua mereka tanami dengan sayuran penyambung hidup.

“Yepum” salam dua arah yang saling bertautan antara aku dan mereka ketika memulai percakapan.
Ungkapan Yepum dalam bahasa asli papua adalah terimakasih. Namun dalam keseharian Yepmum bisa menjadi kata “salam” selain ucapan selamat siang atau selamat pagi.   
***

Jika kelak kalian singgah di kampung ini kau tidak akan menemukan kemacetan seperti kota besar karena sebagian aktivitas mereka dijalani dengan berjalan kaki. Kampung Imbot yang berada dibawah administratif Distrik Okbape merupakan pedalaman yang jauh di pusat kabupaten. Pembangunan apa pun masih terlihat manual di sini. Sehingga wajar dalam keseharian masyarakat terbiasa untuk berjalan kaki hingga 5-6 jam. Listrik, sinyal, hingga barang murah adalah hal yang belum menyentuh pedalaman Kampung Imbot atau Distrik Okbape.
imbot (f/prie)


Walau seperti itu, Distrik Okbape yang terdiri dari enam kampung yakni Kampung  Imbot,  Kampung Bape, Kampung Bapenka, Kampung Kasawi, Kampung Akmer, dan Kampung Bongpom adalah kampung yang mampu mempresentasikan diri sebagai kampung yang memiliki keasrian lingkungan. Keindahan  Pegunungan Mandala yang membentang hingga udara perkampungan yang sejuk membuat kampung ini cocok untuk dijadikan tempat ngumpet dari namanya kejenuhan. Ngumpet dalam bahasaku adalah menghabiskan  waktu tanpa teknologi dan beban. Namun entahlah  Potensi wisata alam dan kampungnya yang bisa untuk ngumpet apakah kelak akan terealisasikan oleh pemerintah setempat.

Waktu mulai beranjak siang, kopi yang aku teguk perlahan sudah mulai habis. Masyarakat kampung masih terlihat hilir mudik menunaikan aktivitas sabtunya . Bagi mereka hari sabtu adalah hari terakhir dalam satu minggu untuk beraktivitas., sedangkan hari minggu adalah hari non aktivitas (hari ibadah gereja).  Seharian bekerja di kebun, pada sore hari mereka membawa hasil kebun berupa boneng (ubi), sayur warakum, buah topinong, daun ubi, pisang. Khusus untuk boneng makanan tersebut adalah pengganti beras yang cukup mengenyangkan tak kala lapar.
Namun terkadang aktivitas mereka di hari Sabtu terkadang tidak hanya untuk berkebun namun juga ada yang pergi ke kota Kabupaten Pegunungan Bintang bernama Oksibil untuk berbelanja. Oksibil sebagai ibu kota kabupaten memang menjadi magnet bagi masyarakat di sini untuk menunaikan hajat mereka. Namun keinginan untuk singgah atau sekedar pesiar ke kota memang bukan perkara mudah. Akses jalan yang susah mengakibatkan harga tranportasi untuk ke Oksibil sangat mahal. Daya jual dan daya beli masyarakat masih dalam masa pertumbuhan sehingga ongkos dan berbelanja masih terasa mahal menurutku..
Jika ingin berpergian ke kota kabupaten yang hanya berjakar 35-40 km ini, Masyarakat bisa memilih  untuk mengunjungi oksibil dengan jasa ojek 300 ribu, mobil 200 ribu, atau dengan berjalan kaki sekitar 9 jam perjalanan. Penulis pernah melakukan semua pilihan tersebut. Dan Pilihan-pilihan ini adalah hal lumrah jika kau berada di sini. 

“Da hati-hati e bapa” begitu teriakku kepada tetangga rumah yang hari sabtu ini berangkat ke kota dengan menggunakan jasa ojek.

‘Selamat ke kota, menunaikan hajatmu” ujarku dalam hati.

sore hari di kampung imbot (f/prie)
Imbot memang pedalaman yang masih perawan. Walau seperti itu arus informasi, pengetahuan, hingga perubahan terjadi perlahan di sini. Perubahan yang terasa lambat, perlahan akan menemukan ritme kemodernisasian kelak. Namun kadang kondisi yang serba ketiadaan ada kedamaian yang mereka pegang sebagai bentuk kearifan lokalnya. Perkampungan yang mayoritas beragama kristen protestan adalah penganut agama yang baik. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat tidak terbiasa dengan merokok, minuman keras, hingga memakan sirih pinang. Keren kan.


prie dn 
 Di pedalaman ini sembari menikmati masa ngumpet dengan suasana tanpa internet, listrik (PLN), maupun suasana mall kota besar aku masih bisa menemukan informasi melalui siaran radio. Frekuensi dari tanah merah atau dikenal bouven digul memberikan informasi seputar indonesia dan papua. Sedangkan  jika ingin berkirim kabar aku menulis sepucuk surat atau menjelajah mencari sinyal (di cerita papua selanjutnya baca).

Jika sudah begini, aku jadi teringat Hatta dan Pramodeya yang dipaksa ngumpet. Namun keduanya adalah tokoh yang  gemar menulis dan membaca kemudian menghasilkan hasil pemikirannya. Hasil ngumpet mereka yang bermamfaat.    
    



       

cerita perjalanan jogja : Aku dan Mitos Masjid Agung Mataram



Masjid adalah rumah Tuhan yang suci.
Manusia adalah hamba, yang senantiasa meminta
Dan selalu mensucikan tempat-NYA

Terkadang aku berfikir bahwa wisata Jogja adalah sebuah mitos. Mitos yang yang berbeda dengan arti mitos tradisional pada umumnya. Wisata Jogja yang kaya dengan keindahan dan cerita popular dan menjadi buah bibir hingga ke belahan dunia. Cerita keindahan itulah yang meragukan dan menjadi sebuah mitos. Keindahan tanah Jogja sebagai surga wisata Indonesia perlu dicari kebenarannya dengan mata kepala sendiri.. Ketenaran pantai, gunung, pasar dan bangunan menjadi keistimewaan yang kian membuat Jogja menjadi istimewa dan katanya juga berhati nyaman. Salah satu keindahan dan kemegahan yang kian tenar itu adalah Masjid Agung Mataram yang terletak di Kota Gede, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. 
 
Masjid tua yang telah berdiri ratusan tahun lamanya merupakan warisan cagar budaya yang sampai saat ini masih berfungsi sebagai tempat ibadah bagi kaum muslim (Islam). Masjid yang terletak di selatan pasar Kota Gede atau lebih tepatnya di Jalan Watu Gilang, Kelurahan Jagalan, Kecamatan Banguntapan, Bantul-Yogyakarta merupakan masjid kuno kebanggaan bagi masyarakat Kota Gede. Kekunoan Masjid Agung Mataram ini tidak hanya sebagai pusat pengajaran Islam di bumi mataram, namun juga sebagai simbol dari wujud toleransi antara keraton muslim dengan masyarakat yang masih menganut kepercayaan lama (Hindu-Budha). 
 
Keramaian masjid ini selalu terlihat hidup karena oleh jamaah yang hendak beribadah ataupun wisatawan yang ingin melihat dengan langsung tapak tilas dari sejarah keberadaan masjid dan komplek yang ada di sekitar Kota Gede. Seperti yang penulis lakukan kala menyambangi masjid tua di hari libur (19/2) terlihat banyaknya deretan parkir terpisah mobil dan motor halaman parkir masjid. Walau masjid ini adalah ikon wisata Kota Gede namun pengunjung yang datang hanya dikenai tarif parkir tanpa tariff masuk.
***
Sebuah pohon beringin tua, deretan rumah klasik, dan sebuah gapura besar menjadi pemandangan pertama sebelum memasuki halaman utama masjid agung. Usai menitipkan motor penulis bersama kekasih hati berjalan lurus menuju ke arah gapura masjid yang berarsitektur khas paduraksa. Sebuah arsitektur yang mencirikan kebudayaan seni bangunan ala Hindu-Budha yang katanya sebagai wujud bukti toleransi antar agama tersebut, menajubkan.
Dalam dua sumber yang berbeda penulis menemukan bahwa masjid tua ini dibangun pada masa Panembahan Senopati pada tahun 1511 sedangkan dalam sumber lain menuturkan bahwa masjid ini dibangun oleh Sultan Abdullah Muhammaad Maulanana Mataram atau dikenal dengan nama tenar Sultan Agung di bangun pada tahun 1640. Namun kedua sumber ini tetap memiliki kesamaan yakni. Pertama, pembangunan masjid pada awalnya dibangun dalam bentuk sederhana yakni dalam bentuk langgar. Pembangunan masjid yang terlihat saat ini merupakan pembangunan kedua yang dilakukan oleh Kasunan Surakarta atau Pakubuwono X. kedua, proses pembangunan masjid dilakukan secara gotong royong antara keratin Mataram Islam bersama masyarakat yang tidak hanya beragama Islam namun juga masih menganut kepercayaan Hindu-Budha. 
 
Aku berdiri lurus menghadap-NYA. Di bangunan suci yang besar aku menunaikan kewajibanku mengahadap Tuhan sang pencipta. Ada kedamaian dalam sanubari namun semoga ini bukan hanya dari latar aku berdiri namun semoga karena hati yang senantiasa ingin bersujud di rumah-MU yang suci.
Seusai menunaikan salat zuhur penulis mengamati sembari mendokumentasikan beberapa sudut masjid yang menarik. Ruangan bagian dalam masjid yang luas menawarkan rasa kesejukan bagi jamaah yang hendak beribadah. Di bagian dalam masjid terdapat benda klasik yang berfungsi sebagai mimbar khatib yang terukir indah. Bagian dalam atap terdiri dari kayu-kayu yang di desain lurus memanjang, dan sebuah bingkai yang membingkai batu bata sebagai pondasi awal masjid. Lain halnya pada sisi luar, masjid yang bisa menampung ratusan orang ini memiliki keindahan yang membuat Masjid Agung Mataram ini terlihat megah. Masjid yang berbentuk limas ini memiliki atap puncak yang tidak bulat seperti bentuk masjid lainnya, melainkan berbentuk atap tiga tumpang. Sedangkan sudut menarik lainnya terdapat pada halaman masjid dimana banyak ditemukan berbagai peninggalan seperti sebuah menara jam kuno peninggalan Sultan Pakubuwono X, sebuah beduk yang merupakan hadiah dari Nyai Pingitan serta papan keterangan yang menjelaskan tentang Masjid Agung serta bangunan berbentuk kurungan.

Keindahan, kemegahan, serta kesejukan dari Masjid Agung Mataram Kota Gede ini rasanya bisa menjadi refrensi bagi pembaca yang hendak berwisata sekaligus menyegarkan hati dan pikiran. Keberadaan Masjid Agung yang terbangun dalam bentuk kompleks menutup kebisingan dari jalanan menjauh dari keramaian kendaraan maupun teriakan yang berasal dari keriuhan pasar. Selain itu masjid ini dibangun dengan tembok besar setinggi 2,5 meter sehingga tertutup dari pandangan luar. Singkatnya, berwisata di Masjid Kota Gede merupakan perjalanan untuk merefleksikan kemegahan Kerajaan Mataram yang masih hingga saat ini.
Keberadaan tembok besar yang menutupi masjid ini dan hanya memiliki tiga pintu masuk gapura utama memiliki beberapa bangunan lain yang menarik. Bangunan-bangunan tersebut antara lain bangunan sendang seliran yang berfungsi sebagai pemandian. Pemandian ini terpisah antara pemandian perempuan dan laki-laki. Pengunjung yang datang biasanya memamfaatkan pemandian ini dengan cara membasuh kepala maupun mandi. Ada berkah dibalik itu katanya.

Selanjutnya di sisi lain terdapat beberapa pendopo yang saling berhadapan, pendopo yang dihuni abdi dalam kerajaan bertugas menjaga keasrian sekitar kompleks. Pengunjung yang datang ke sini diminta menuliskan identitas dan infak untuk menikmati keindahan pendopo dan keramahan dari abdi dalam tersebut. Terakhir di dalam kompleks ini terdapat pemakaman khusus keluarga kerajaan yang terdiri para pendiri KerajaanMataram antara lain Panembahan Senopati, Hadiwijaya, Sultan Hamengkubuwono II, serta keluarga beberapa bangsawan Mataram lainnya. Berbeda dengan kompleks lain, bagi pengunjung yang hendak memasuki pemakaman guna berziara harus mengikuti berbagai syarat seperti tidak memfoto, menggunakan pakaian yang ditentukan.
***

Semoga ada waktu untuk aku kembali
Waktu yang terasa sebentar, kunjungan dua jam ku di kompleks Masjid AgungMataram dan sekitarnya harus berakhir. Persinggahanku di Masjid Agung berhasil membenarkan sebuah mitos dari masjid ini. Keindahan serta kemegahannya bukan sekedar kekaguman semu belaka. Tulisan dan dokumentasi foto ini adalah bingkai kecil yang bisa penulis abadikan dan tuliskan. Nilai keindahan dan kemegahan selebihnya banyak di rasakan dalam hati yang merasa kenyamanan kala berada di sini. Jadi, bagi yang berkeinginan merasakan wisata dengan nuansa spiritual Masjid AgungMataram bisa menjadi refrensi bagi pengunjung yang singgah di Jogja. Namun jika masih menikmati keindahan ini dalam barisan aksara dengan rasa penasaran berarti anda juga merasakan hawa mitos seperti saya sebelumnya.









Catatan perjalanan : Tempat Pengasinganku adalah Rumahku

( Catatan perjalanan : Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende-NTT )

Perjuangan seperti apa yang bisa dilakukan
Dalam keadaan terkucil seperti ini.
Sulit rasanya menemukan lawan bicara di sini (Ende)
Dialog Baim Wong kala memerankan tokoh Soekarno dalam film Ketika Bung di Ende

Kutipan dialog di atas aku temukan ketika menonton ulang film Ketika Bung di Ende 2013. Baim Wong yang berperan sebagai Soekarno, seorang orator ulung, singa podium yang harus merasakan kepahitan hidup ketika diasingkan di Ende, Nusa Tenggara Timur. Menjalani hukuman di pengasingan selama empat tahun yakni sejak tanggal 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938 membuat seorang Soekarno tidak berdaya. Namun di ujung ketidakberdayaannyalah Soekarno menemukan sebuah gagasan dalam memandang Indonesia lebih luas. Semua itu tidak terlepas dari rumahnya yang sederhana sebagai tempat ia menjalani hidup, kebiasaannya merenung di bawah pohon sukun, hingga dialog antar etnis dan agama selama pengasingan. Ia melahirkan Gagasan berupa filosofi dasar dari Negara Indonesia bernama pancasila (lima dasar).
Akhir Desember 2013 menjelang pergantian tahun aku bersama rekan-rekan guru SM-3T (Sarjana Mendidik Terluar, Teringgal dan Terdepan) menyambangi situs rumah pengasingan Bung Karno di Kota Ende. Lokasi ini tidak terlalu jauh dari pusat kota, situs ini tepatnya berada di jalan perwira, Kelurahan Kota Raja, Kecamatan Ende Utara. Dari pusat kota Ende menuju ke Rumah Bung Karno dapat ditempuh dengan berjalan kaki atau menggunakan jasa antar ojek maupun angkutan umum.
Sebenarnya keinginanku menyambangi rumah pengasingan ini didorong oleh rasa ingin tahu bagaimana kehidupan Soekarno yang diasingkan di tempat terasing. Di rumah yang sebenarnya dimiliki oleh Haji Abdullah Abuwaru disewa oleh Soekarno yang membutuhkan tempat tinggal selama pengasingan bersama Inggit (istri), Ratna Juami (anak angkat), dan Amsih (Mertua Soekarno). Sampai saat ini rumah ini masih berdiri kokoh dengan khas arsitekturnya yang tidak mengubah bentuk aslinya.
Kami mengijakan kaki di depan pagar seusai turun dari angkutan kota dari pasar ende. Tampak dari luar, rumah ini tidak terlalu besar untuk dikatakan sebagai sebagai sebuah istana yang bertingkat, kesederhanaan rumah dengan cat putih di dinging dan halamannya yang hijau menampakan keasrian di sekitarnya. Mantap dengan keindahan rumah di luar pagar kami hendak memasuki rumah tersebut. Namun muncul guratan kekecewaan ketika mendapati pintu pagar rumah Bung Karno yang terkunci. Kami tidak menemukan penjaga khusus layaknya museum.
Seolah tidak ingin putus asa kami pun menanyakan perihal rumah Bung Karno ke sebuah toko yang berada di samping situs rumah Bung Karno.
oh…sebentar e petugasnya segera datang…” ujar seorang ibu paruh baya yang biasa di panggil mama’e berteriak lantang memanggil seseorang.
kunci…kunci ada orang mau masuk…” teriaknya
Tampak seorang lelaki dengan langkah setengah berlari mendekati kami. Ia tersenyum ramah sembari menyilahkan kami untuk masuk ke Rumah Bung Karno, tentunya dengan pintu pagar yang telah ia buka.

Usai melakukan registrasi seadanya, salah satunya menulis buku tamu di pintu masuk kami dipersilahkan masuk dan berkeliling melihat isi dari bekas rumah di Bung Karno ini. Ruangan yang besar ini tampak rapi dengan segala benda yang mengingatkan tentang masa-masa saat Soekarno berada di Ende. Dan kami memiliki banyak waktu berkeliling memuaskan dahaga rasa penasaran terhadap apa yang di dalam rumah Bung Karno.
***
Jika Soekarno hidup kembali, apakah ia akan mengira bahwa ende tetap sebuah negeri yang kecil, sebagaimana ia pertama kali datang ke Ende di tahun 1934 silam?.

Seperti pada awal tulisan, aku menyambangi situs rumah Bung Karno untuk melihat titik awal dimana ia menemukan gagasan tentang Indonesia yang luas. Sebuah rumah yang sederhana untuk orang besar seperti Soekarno. Rumah seluas 742,6 m2 yang memiliki dua bangunan utama dengan ukuran yang berbeda yakni 11 x 9 m2 dan 12 x 3 m2 dan beberapa ruangan. Ketika memasuki bangunan rumah yang telah dipugar ulang tahun 2009 ini kami menikmati berbagai dokumentasi baik berupa foto, tulisan bahkan benda tertata baik tersedia untuk dinikmati oleh pencinta nostalgia.
Pandanganku tiba-tiba tertarik untuk memandang sebuah foto yang dibingkai cukup besar yang tergantung di dinding. Lelaki dewasa yang mengenakan sebuah peci berwarna hitam, memakai jas putih dengan ditambah dasi berwarna hitam, ia tampak gagah. Tidak jauh dari bingkai foto ini aku melihat sebuah kotak kaca yang berbentuk persegi yang berisi sebuah benda panjang yang melengkung. Sebuah tongkat yang dulunya menemani Soekarno guna berjalan-jalan menyapa orang, mengumpulkan massa, dan menyerukan kemerdekaan.
Merdeka bung” ujarku dalam hati.
Sembari melihat foto-foto dokumentasi tentang kehidupan Founding Father selama di Ende aku mencoba untuk menyelami sebuah jiwa zaman (zeitgeist) dari kepahitan Soekarno. Merasakan kesepian ketika berada di tanah Flores. Suasana sangat berbeda antara Jawa dan Flores pada masa awal pergerakan nasional, awal abad 20. Di Jawa Soekarno berperan sebagai pemimpin dan singa podium, ia terbiasa berhadapan dan berinteraksi dengan banyak orang. Berbeda besar dengan Ende, statusnya sebagai tahanan politik semakin menjauhkannya dari massa. Perbedaan itu juga terlihat dari segi jumlah penduduk tahun 1934 dimana Ende saat itu berjumlah penduduk 5000 jiwa, jauh berbeda dengan penduduk Batavia di tahun yang sama telah mencapai lebih dari 30.000 jiwa. Kesulitan ini semakin besar ketika ia dikucilkan dari masyarakat sekitar hanya karena dianggap sebagai orang yang berbahaya (interniran).
Namun Soekarno tetaplah seorang Soekarno, empat tahun selama di Ende telah membentuk sang singa podium yang tak ingin kehilangan podiumnya. Jika memang tidak harus dia berada di garis terdepan sebagai orator maka ia pun siap memerankan diri sebagai otak dari sebuah perubahan itu. Massa tidak akan datang kepadanya, namun ia yang memperkenalkan dirinya. Ia abai dengan statusnya sebagai tahanan politik. Bersama rakyat jelata yang terdiri dari pedagang, petani, nelayan ia berhasil memperkenalkan makna kemerdekaan dalam bentuk kebebasan. Soekarno memperkenalkan sebuah grup drama. Grup drama yang diberi nama kalimutu ini setidaknya mementaskan naskah karya tangan dingin Soekarno. Adapun naskah tersebut antara lain yakni Rahasia Kelimutu 2, Rendo Rate Rua, Nggera Ende, Amuk, Dokter Syaitan, Kut-Kutbi, Aero Dinamit, Djula Gubi, Maha Iblis, Anak Haram Jadah, Sang Hai Roemba, dan 1945. Beberapa naskah tersebut masih terpajang di etalase lemari rumah pengasingan Bung Karno.
***
Ende tetap sebuah negeri yang kecil, namun tetap ada kebanggaan dari negeri yang berjuluk sunda kecil, pulau Flores, Timur Indonesia. Walau hanya empat tahun Soekarno hidup di daratan Flores, Ia masih mengingatnya bahkan sempat berkunjung ke Ende di tahun 1950, ia tetap menyatakan bangganya menjadi bagian Flores. Kebanggaan Soekarno seolah itu yang kami rasakan ketika singgah di cagar budaya rumah pengasingan Bung Karno ini. Rumah yang sederhana memang awalnya merasa kesepian, namun ia sadar tempat pengasingannya adalah rumahnya.
Kebanggaan Soekarno ini juga menjadi kebanggaan orang Ende, bahkan Flores. Bapak bangsa yang sadar Indonesia ini kaya dengan keanekaragaman kala dirinya terbiasa merenung duduk di bawah pohon sukun, pohon yang tidak jauh dari rumahnya. Pancasila adalah pemersatu dari perbedaan itu. Mengijakan kaki di rumah ini membawa semangat nasionalisme bagiku dan bagi mereka yang cinta Indonesia.

cerita Koe dari Jogja : Cerita tentang Malioboro






Di antara kereta yang beranjak ke timur
Serta jerit peluit yang masih tersisa di telinga
Udara seperti bergetar meski hujan telah lama reda
Kita berjalan keluar meninggalkan deretan bangku itu
Dan segera nampak aspal yang mengkilat dan trotoar yang bersih..
Acep zam zam noor


Aku mengawali tulisan tentang malioboroku dari sebuah karya puisi milik sastrawan Indonesia kelahiran tasikmalaya, Acep Zam Zam. Dengan bahasa puisinya yang halus ia menceritakan sepetak tentang Malioboro, tutur tulisan membuatku terbius untuk menelusuri kawasan ramai Malioboro di suatu petang awal Maret lalu tahun 2016. Perjalanan panjang dari kota bengkoang, Padang Sumatera Barat membawa jejak kakiku di kota istimewah Yogyakarta ini. Sebuah ransel merah besar dan pakaian lusuh menjadi saksi bagaimana aku menelusuri jalanan ramai yang kaya dengan sejarah.

***
Udara sore kota Yogyakarta menamparku pelan, membangunkan dan mengingatkan  aku bahwa telah berada central java. Seusai menitipkan karelku di sebuah penginapan murah aku mulai berjalan di sekitar kawasan Malioboro. Rasa tak sabar untuk menyambangi jalan Malioboro terbayar sudah ketika aku memulainya dengan menaiki becak dengan harga murah.
“Sepuluh ribu aja mas...” ujar tukang becak berwajah cokelat. 


Sembari menikmati kayuhan becak yang berjalan pelan dan lambat aku mengulang ingatanku tentang Malioboro. Sejarah mencatat keramaian Malioboro tidak hanya berlangsung hari ini atau kemarin namun keramaian tersebut telah lama hidup bahkan sejak Indonesia belum berdaulat. Malioboro pada masa kolonialisme dan imperialisme  di Indonesia berada di bawah kedaulatan kesultanan mataram (Yogyakarta). Nama Malioboro yang berarti karangan bunga juga diidentikan dengan nama pejabat kolonial Inggris bernama Marlborough. Konsep kota Yogyakarta sedemikian berhasil mampu menjadi tata kota yang megah dan menawan. Perpaduan antar bangunan-bangunan ini bahkan tercampur dengan gaya bangunan khas eropa, jawa, dan cina. Sampai sekarang perpaduan bangunan tersebut masih berdiri kokoh di sekitar kawasan Malioboro. 

  Namun selain kekokohan dan perpaduan bangunan, sisi lain dari Malioboro ini adalah ruang berupa jalan yang tersusun berdasarkan sumbu imaginer yang diyakini sebagai sumbu atau poros yang saling berhubungan. Malioboro yang berada di tengah terhubung lurus antara arah selatan dan utara. Arah Selatan yang terhubung dengan keraton kesultanan Yogyakarata membawa garis tersebut jauh hingga ke pantai selatan. Sedangkan arah utara kawasan ini simetris dengan titik tugu Yogyakarta kemudian sejajar dengan garis Gunung Merapi. Jadi tidak heran jika kawasan Malioboro kerap menjadi tempat meting point bagi para traveller maupun backpaker yang hendak berwisata di sekitar Jogja. Selain itu, kawasan ini berdekatan dengan tempat wisata lainnya seperti tugu, keraton, taman pintar, alun-alun yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki maupun dengan menggunakan jasa becak, tentunya setelah ditawar.

***

Aku meninggalkan lamunan sejarahku tentang Malioboro masa silam. Usai membayar becak dengan harga pas aku pun mulai menelusuri jalanan Malioboro yang kian ramai. Bersama seseorang traveller asal Banyumas Intari kami berdua menikmati indahnya Malioboro di kala malam hari.
“ wow lampu jalannya keren ya...” ujarku.
Lampu jalan yang menyala dengan warna putih menjadi terlihat mewah dengan pembungkus lampu yang berwarna hijau dibalut desain lampu klasik. Desain klasik ini seolah mengisyaratkan bahwa Malioboro bagian dari sejarah panjang sumbu imaginer. Selain model lampu jalan klasik,berbagai hiasan di sepanjang trotoar pejalan kaki terlihat unik mulai dari berbagai hasil karya berupa patung hingga slogan-slogan ramah tamah ala kota pelajar ini.
Jogja berdiri dan eskis dengan sedemikian menarik setidaknya begitulah simpulanku ketika aku menelusuri jalanan ramai Malioboro hingga ke titik nol kilometer. Mindset Jogja sebagai kota ramah dan murah menjadi magnet bagi pengunjung domestik yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, bahkan bagi wisatawan asing luar negeri. Malioboro yang dibangun sebagai menjadi kawasan ekonomi perdagangan dan laju mobilitas kehidupan kota hingga saat ini mampu bertahan.
Aku memilih duduk bersama Intari sembari beristirahat sejenak di sebuah bangku taman yang terbuat dari kayu. Kami menikmati suasana ramai pejalan kaki sebelum kembali melanjutkan jalan kaki kami sendiri menuju ke titik nol Malioboro. Bangku taman yang berada di setiap trotoar ini memang memanjakan pengunjung untuk bisa beristirahat jika lelah berjalan-jalan. Selain bangku hiburan berupa suara radio Malioboro pun terdegar nyaring tak jauh dari aku duduk.
“Selamat datang di kawasan belanja Malioboro. Selamat menikmati wisata yang ada di Malioboro dan tetap waspada dengan barang bawaan anda semua ya...” tutur penyiar radio yang berbicara secara lugas dan friendly tersebut.
Denyut nadi Malioboro menjadi kebutuhan bagi siapa pun. Pedagang, pengunjung, bahkan bagi kota jogja sendiri sebagai citra populer sebagai kota yang istimewah bagi siapa pun yang menyambanginya.  Bahkan denyut nadi Malioboro juga menjadi nafkah bagi tukang becak hingga guide. Walau seperti itu bagi yang datang dan menikmati surga belanja murah di Malioboro boleh menawar dari setiap jasa maupun barang yang diperjual-belikan. 

***

Benteng Vredeburg

Setelah berlelah-lelah berjalan menelusuri pusat kawasan belanja kota Yogyakarta aku terhenti di sebuah pintu gerbang. Barisan motor parkir, taman, monumen, dan sebuah gerbang besar yang berdiri kokoh. Aku mengejanya pelan dan nama ejaan tersebut membawaku kembali pada ingatan historis.
“benteng vredeburg” begitu tulisannya
Sebuah benteng yang berdiri di sekitar titik nol Malioboro ini merupakan bukti tua dan nyata tentang keberadaan bangsa asing yang masuk dan berkuasa di Indonesia khususnya tanah jawa. Benteng yang dibangun pada tahun 1765 ini merupakan benteng tua dari bangunan peninggalan kolonial belanda. Pendirian benteng kokoh ini pada awalnya bertujuan untuk memperkuat hegemoni bangsa belanda di tanah jawa dan untuk mengatur sistem pemerintahan secara politik dan ekonomi.
Namun setelah Indonesia menjadi negara yang berdaulat peninggalan belanda ini berubah fungsi menjadi salah satu bangunan cagar budaya yang dilindungi. Perubahan fungsi ini juga menjadikan benteng ini sebagai museum yang saat ini diperuntukan secara umum bagi pengunjung. Dengan membayar beberapa ribu rupiah pengunjung dipersilahkan untuk menikmati kekokohan benteng vredeburg dari dekat dan menelusuri di setiap ruangan.  

Catatan perjalanan : Tempat Pengasinganku adalah Rumahku

( Catatan perjalanan : Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende-NTT ) Perjuangan seperti apa yang bisa dilakukan Dalam keadaan terkucil sep...