SEMALAM BERMALAM DI BAWAH LANGIT KAMPUNG BUMBAKON-OSKOP

 

                                  Kaki ini terasa amat lelah saat saya melintasi lereng demi lereng ,

Jika alas kaki ( sepatu boots dan sandal swallow) ini bisa bicara entahlah ia akan berbicara apa.

 

                                 foto: lagi foto bareng di kampung bumbakon

Saya menghabiskan waktu 24 jam plus ini saat akhir pekan lalu menuju ke Distrik Oksop, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua , atau lebih tepatnya menuju ke kampung Bumbakon . Sebuah kampung yang berada di tengah-tengah hutan dimana untuk menuju ke sana ditempuh dengan kendaraan dan berjalan kaki menembus hutan. Kendaraan-kendaraan besar kecil hanya mampu melintasi jalanan lebar yang baru dibuka sampai mata jalan. Perjalanan melintasi hutan ini saya lalui bersama guru-guru muda dari Indonesia Mengajar (IM), Rizal, Iqbal, Hanni, dan Sherly, perjalanan menjemput tujuan, melihat Bumbakon  lebih  dekat.

Rute awal perjalanan ini dimulai dari kota Oksibil sekitar jam 07.15 WIT dengan kendaraan mobil strada yang memiliki double gardan. Sekitar satu setengah jam perjalanan usai melintasi perkampungan dan hutan yang terus menanjak kami tiba di mata jalan menuju ke kampung Bumbakon . Sekitar jam 09.30 WIT kami bersiap memulai lebih separuh perjalanan ini dengan berjalan kaki menerobos alas rimba yang telah bertuan ini.  

“ Di sana nanti sudah stand by  teman-teman guru yang mengajar di Distrik Oksop” ujar Rizal, pak guru yang saat mengajar di SD Parim.   Kunjungan mereka adalah wujud  solidaritas dan kekerabatan mereka dan membuat saya tertarik ikut serta dalam perjalanan ini.

foto: batas antara kendaraan dan dilanjutkan
dengan jalan kaki 


Selama perjalanan ini kami banyak memulai cerita tentang kondisi masing-masing. Kami memiliki cerita yang hampir sama karena saya pun bertugas sebagai guru. Perbedaan diantara saya dan mereka hanya pada status dan lamanya mengabdi di kebupaten yang selalu tertutup kabut ini. Rizal dan ketujuh teman lainnya adalah guru 

relawan dari Yayasan Indonesia Mengajar yang ditempatkan di kabupaten ini selama satu tahun. Sedangkan saya, butuh sepuluh tahun pengabdian untuk bisa pindah ke luar kabupaten, itu pun dengan izin resmi. Selama perjalanan darat yang ditempuh selama tiga jam ini membuat kami banyak ber ha ha ha dan hi hi hi dengan pengalaman masing-masing.

“ Paling rumit juga pas menjelaskan tentang rantai makanan, tumbuhan di makan babi, babi dimakan manusia, dan terus manusia juga dimakan lagi oleh suanggi (setan)” cerita mereka saat mengingat salah satu pelajaran sambil diselingi tawa kami saat membelah hutan.

Dari banyaknya cerita itu kami sepakat bahwa mereka adalah anak-anak Papua  yang baik dan bisa diarahkan walau pun tidak semuanya.  

 ***

Perjalanan melintasi hutan dengan menggunakan sepatu boots terasa ringan juga selain karena saling berbagi cerita namun juga kondisi cuaca yang lebih stabil. Jika hujan sudah turun biasanya jalanan akan sedikit sulit dilalui karena harus melewati jalanan yang dipenuhi dengan pohon-pohon yang menjadi jembatan darurat. Bahkan untuk beberapa kali kami sangat tertaih tatih saat berjalan meniti sebuah pohon yang besar. Jika salah langkah, siap-siap kaki akan masuk ke dalam sebuah bagian kayu yang lapuk.

foto: istirahat bareng ditengah hutan oskop
Walau seperti itu, perjalanan ini kami lalui dengan aman tanpa rasa khawatir saat berada di alas rimba, hutan Papua  ini. Beberapa kali kami bertemu masyarakat asli Papua  mereka bertutur ramah kepada kami. “yepmum, teleb, dan selamat siang” bahasa pembuka keramahan di sini. Memposisikan diri dalam percakapan sebagai seorang guru menjadi tanda keramahan yang masih mereka hormati di sini.

 

***


Bumbakon ,

Ibarat puncak, Bumbakon  mungkin sebuah puncak dari perjalanan yang melewati alas rimba dan lereng-lereng perbukitan yang seolah tidak berujung. Ketika mendapati perkampungan yang berada di sela-sela perbukitan saya merasa nyaman, “sampai juga”. Kampung Bumbakon  yang termasuk ke dalam Distrik Oksop ini tidak hanya berdiri tanpa perkampungan lain. Setidaknya ada tiga perkampungan lain yang mengapitnya, mulai dari perkampungan Denong, Bumbakon  atas, hingga perkampungan perbatasan Oktumin. Selebihnya semua perbukitan yang berlipat-lipat seolah tak ada ujungnya.

foto: aku di sekitar SD inpres Bumbakon

foto: lagi bermain sambil belajar 


Kami sampai di Bumbakon  sekitar jam 12.30 WIT. Menjelang sampai di sekolah Bumbakon  terlihat siswa-siswa berbaris sejajar sambil menyanyikan lagu selamat datang kepada kami. Rupanya mereka yang bernyanyi tersebut adalah siswa dari dua sekolah yang berbeda kampung yakni siswa-siswa dari SD Inpres  Mimin dan SD Inpres  Bumbakon , keren. Ibu guru Sani, Wulan, dan Fitri yang merupakan guru dari dua SD tersebut mempersiapkan memang akhir pekan di sekolah dengan menyambut kami dan nanti akan dilanjutkan dengan Kegiatan Bermain dan Belajar (KBB) ala guru-guru muda ini.

“Bapak guru asal dari Sumatera kalian pernah dengar tidak?” tanyaku kepada mereka saat memperkenalkan diri. Saat saya bertanya tentang pulau suara sumbang diantara mereka membuat saya terkesan akan kepolosannya. Suara sumbang ini juga tidak terputus saat rekan-rekan lainnya mengenalkan tempat asal. Ingatan pelajaran di ruang-ruang kelas membuat mereka berbicara sumbang dan riuh bertautan, tahu, dengar, tidak tahu dan jawaban lainnya. Namun bagiku perkenalan ini adalah momen yang harus diingat bahwa mereka menerima kami dengan baik. Bahkan saat memasuki barisan yang sejajar mereka memberikan sebiji buah markisa kepada masing-masing kami.

***

Sebuah rumah papan dengan catnya yang agak memudar menjadi persinggahan semalam saya dan enam rekan lainnya. rumah yang berada sekitar 50 meter dari sekolah ini adalah rumah milik kepala sekolah SD Inpres  Bumbakon . Sesaat setelah saya meletakan tas ransel coltrack berkenalan dengan mereka lebih baik. Di rumah yang terdiri dari dua kamar ini dihuni oleh satu guru dari Indonesia mengajar, Sani Nurhikmah namanya. Ia adalah guru ketiga dalam tiga tahun ini yang mengabdi menjadi relawan di sekolah pedalaman ini. Ibu guru yang berasal dari jawa barat ini adalah lentera ilmu bagi saat kelas-kelas kosong yang terabaikan.

“Di sini saya biasa mengajar kelas secara rangkap” begitu katanya.

 Tidak hanya Sani, mereka yang mengajar di Distrik Oksop lainnya ada ibu guru wulan dan fitri. Keduanya mengajar di SD Inpres  mimin, sebuah SD yang berada dua jam dari kampung Bumbakon .

“Kalo di sana salamnya di mulai dengan teleb pak guru, kalo di sini yepmum” ujar salah satu dari mereka saat membedakan antara perbedaan lokasi tugas mengajarnya.     

foto : bersama anak-anak oksop

  

 Sebagai orang yang pertama datang ke Oksop saya hanya bisa mengangguk, dan mengatakan hmmmm gitu karena memang banyak hal baru yang didapat. Namun saat saya kembali bercerita tentang bape sebagai tugas saya sendiri maka bergantian mereka akan hmmmm gitu. Saling balas ungkapan ini adalah wujud penasaran yang terobati dengan membandingkan antara persamaan dan perbedaan lokasi tugas sebagai seorang guru. Keseruan kami yang saling bercerita banyak dihabiskan dalam ruang hangat bernama dapur. Di sini, bagi masyarakat maupun ibu  guru Sani menjadikan dapur adalah tempat yang pas saling bercerita tentang kondisi kita secara kekinian. Makan, minum, dan bercengkerama hari itu tidak jauh dari perapian yang membakar kayu belah yang setengah kering. Begitu juga kami yang tiap sebentar selalu ber ha ha ha dan hi hi hi berbarengan dengan setiap cerita.

 

***

Menyusuri jalanan setapak yang tidak berujung,

Jam demi jam mengangkat langkah kaki ini sebelum gelap datang tak undang.

 

foto: santai setelah berjam-jam jalan kaki 

Pagi ini, udara di kampung Bumbakon  teramat dingin. Kepungan perbukitan hijau dengan sedikit perumahan non polusi membuat badan masih terasa dingin walau sinar matahari menampakan cahayanya menerobos papan papan dapur yang tua. Usai salat subuh berjamaah ruang dapur adalah titik pertemuan untuk menghangatkan badan. Dengan langkah yang pelan kami memilih posisi untuk duduk dipinggiran dan membiarkan cahaya api ditengah tengah menghangatkan badan. Setiap gerakan  pelan yang mencari posisi duduk pasti akan menimbulkan getaran penanda kayu penyangga yang juga ikut menua sama seperti rumah ini.

Beberapa kali saya memilih keluar paksa dari area dapur. Asap dari pembakaran kayu yang belum kering membuat napas saya sesak. Gumpalan-gumpalan asap yang menebal membuat mata juga perih. Dapur yang dibuat dalam bentuk petak per segi ini menempatkan pembakaran pas ditengah-tengah. Batang-batang kayu yang tersusun persegi membatasi antara nyala api dengan tempat duduk. Kayu-kayu yang telah dibelah di susun rapi di atas pembakaran yang disanggah dengan empat batang kayu ini. Dapur seperti ini sudah menjadi ciri khas bagi masyarakat pegunungan bintang. Bagi kebanyakan masyarakat telah menganggap bahwa dapur adalah bagian dari tempat hangat guna mencairkan suasana, terutama malam dan pagi hari. Namun saya rupanya tidak sepenuhnya menikmati hangatnya dapur di pagi hari karena menyerah pada gumpalan asap.

Akibat menyerah pada asap saya memilih berkeliling rumah dan memperhatikan setiap lekukan dan sudut dari Bumbakon  ini. Mulai dari bangunan gereja yang terdengar suara dentuman panggilan ibadah sebanyak tiga kali hingga memperhatikan lebih erat kepungan perbukitan yang menempatkan Bumbakon  di dasar cekungan. Namun sayang di sini sangat terkendala dengan air. Sumber mata air hanya ada dua pertama dari air hujan yang terkumpul dengan menggunakan bak maupun drum dan sumber air sungai yang harus di dapat dengan menuruni sungai sekitar satu jam.

Namun yang menarik dari perkampungan ini adalah tatanan keramahan dan aturan yang terlihat. Binatang peliharaan tidak sembarangan dibiarkan masuk di sini, khususnya lingkungan gereja katolik. Pagar-pagar kayu dipasang sekeliling gereja bahkan sekolah untuk membatasi wilayah. Ada perbedaan tata letak untuk membedakan antara perumahan guru, masyarakat, dan gereja. Walau begitu di sini masyarakat tidak hidup dengan sinyal dan arus listrik yang memadai. Sumber penerangan mereka selain dari api pembakaran juga didapat dari lampu neon putih yang diberikan oleh pemerintah pusat dengan nama nawacita. Panel solar cell yang berukuran 40 x 25 cm ini adalah tenaga listrik yang didapat dari cahaya matahari.    

“bapak guru mari kita sarapan sebentar lagi kita akan mulai jalan” ajak hani kepadaku.

Aku mengangguk dan kembali memasuki perapian dapur yang dipenuhi manusia-manusia. Dengan pelan saya melangkah menuju bagian sisi dapur yang kosong untuk duduk. Sambil berjalan ini saya merasakan goyangan dapur yang disanggah kayu balok yang mulai menua. Makan bersama dengan sayur dan mie ini terlihat istimewah karena ini adalah asupan energi yang akan dihabiskan selama perjalanan pulang melewati jalur Bumbakon .

“ Kemarin saya melewati jalur Yumakot, Lima Rum dan Bulangkop mulai dari jam 10 pagi sampai sekitar jam lima sore “

Perjalanan jauh rupanya jika melewati jalur memutar. Sebelumnya memang mereka yang dari  Oksop pernah melakukan perjalanan darat dari kampung mimin singgah Bumbakon . Perjalanan memutar ini menurut mereka lebih nyaman karena perjalanan tidak melulu mendaki melainkan menuruni lereng lereng perbukitan. Sedangkan  pendakian mereka mengatakan ya ada sih tapi tidak terlalu.

“ha ha benarkah tidak terlalu” ujarku membalas dalam hati.

Sarapan pagi dengan cepat saya lahap. Menu yang disuguhkan memang penuh dengan kabohidrat mulai dari mie yang direbus, bakwan, dan sayuran daun labu siam. Usai menunaikan sarapan pagi kami mulai segera bergegas. Perlengkapan dan bekal selama perjalanan dipersiapkan dengan baik oleh mereka anak muda. Tas caril berbagai ukuran terlihat tangguh untuk mereka jinjing di pundaknya. Sedangkan saya hanya membawa tas body pack  35 liter saja.

foto: ibu guru sani bersama anak-anaknya

“Ibu guru Sani terima kasih ya untuk sungguhan dan sambutan di kampung Bumbakon  ini” ujarku kepada Sani sebelum memulai perjalanan. Selain pamit kepada ibu guru, kami juga berpamitan dan bersalaman ala Papua  kepada masyarakat sekitar yang menerima kami dengan senyuman.

“ok da.....” ujar kami sembari melambaikan tangan.

 

Hari yang sempurna sekaligus hari yang melelahkan

 

PG Kalibagor, Permata Kusam yang Terabaikan



Dia telah tua
Permata yang dulu dibanggakan sekarang menyisakan warna kusam yang getir..

Bangunan tua itu masih berdiri kokoh ditengah ramainya kendaraan yang melintas di jalan lintas utama Purwokerto-Yogyakarta. Warna dinding yang sempat kusam kini terlihat segar akibat pengecatan ulang berwarna putih. Menara cerobong yang dahulu sempat dirobohkan kini juga mulai dibangun kembali. Menara tersebut harus tetap ada sebagai bukti sisa-sisa kejayaan yang menjadi bagian utama dari bangunan tua itu. Bangunan tinggi menjulang tersebut harus dipertahankan sebagai bentuk eksistensi sejarah emas pabrik gula di masa lalu.
pabrik gula yang terlihat usang,  f/pri/2015

Miris, mungkin begitu pandangan umum yang menyayangkan keberadaan pabrik gula kalibagor yang saat ini tidak terurus. Padahal secara status, keberadaan pabrik gula ini telah dianggap sebagai cagar budaya pemerintah daerah Banyumas. Bahkan secara perencanaan ekonomi sempat diisukan bahwa pabrik gula akan kembali di jalankan sebagaimana fungsinya. Namun semua status dan perencanaan hambar bagai debu-debu pabrik usang yang terbang akibat digilas oleh laju kendaraan yang melintas.
Pabrik gula Kalibagor yang terletak di bagian Sokaraja Kidul, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas ini merupakan pabrik terbesar di era pemerintahan kolonial Hindia Belanda hingga menjelang pergantian abad ke 21. Pabrik yang dikenal dengan nama  asing Suikerfabriek Kalibagor merupakan hasil dari gebrakan sejarah yang dipopulerkan oleh Jenderal Hindia Belanda Jenderal Johanes Van De Bosh bernama politik Culturstelstel. Pabrik gula yang dibangun pada tahun 1839 oleh Sir Edward Cooker Jr pada awalnya didirikan untuk memperbaiki ekonomi negeri Belanda yang hancur oleh perang dalam dan luar negeri. Pengoperasian pabrik ini pun masih berlanjut setelah kemerdekaan Indonesia, dimana pabrik ini dinasionalisasikan sebagai Perusahaan Tambang Perkebunan Negara IX atau PTPN.  
Pabrik yang berdiri seluas 11 hektar ini tidak hanya berdiri bangunan bekas pabrik saja namun juga bangunan lain seperti perumahan dinas para pegawai belanda dan pribumi. Selain bangunan, sisa sisa kejayaan pabrik juga ditemukan melalui banyaknya bekas bekas jalan lori yang dipergunakan sebagai pengangkut tebu. Sebagai bahan baku utama, tebu-tebu yang digiling oleh pabrik berasal dari wilayah perkebunan rakyat sekitar Kalibagor, Banyumas bahkan kabupaten tetangga. Dalam pengoperasiannya pabrik ini mampu menyerap tenaga kerja hingga mencapai seribu karyawan. Namun akibat goncangan ekonomi di tahun 1997 pabrik ini bangkrut. Memang pada awalnya pabrik ini sempat akan dilakukan Diamalgasi yaitu penggabungan dengan pabrik lain namun kondisi saat itu eror sehingga nasib pabrik dan karyawan pabrik ini terbengkalai.
***
jalan penghubung antara purwokerto-jogja, f/pri/2015
“Ganu ya pabrik kie apik banget” dalam bahasa Indonesia artinya dahulu pabrik ini bagus sekali. Ungkapan ini saya dapatkan kala sempat bertanya kepada orang tua yang telah tinggal lama di sekitar kalibagor. Ia tidak mengingat seberapa banyak pabrik ini memberikan mamfaat bagi masyarakat maupun negara. Namun ia hanya bisa mengingat bahwa pabrik ini adalah bangunan luas yang selalu ramai. Orang tuanya bahkan kakek buyutnya pernah menjadi bagian dari pabrik gula. Pabrik yang mengolah gula rakyat ini telah menggerakan perekonomian masyarakat saat itu.
Dalam berbagai sumber, saya menemukan bahwa pabrik gula ini bisa mencapai produksi gula hingga 100 ton per hari. Sebuah jumlah yang besar jika bisa dibayangkan oleh pemerintah saat ini. Namun di sisi lain, ketimpangan sangat nyata antara jumlah kebutuhan masyarakat dengan kebutuhan gula membuat pemerintah tega mencukupinya dengan melakukan impor. Bahkan setiap musim giling tebu di kota Purwokerto maupun sekitar pabrik akan ada berbagai keramaian aktivitas hiburan baik itu wayang orang, wayang kulit, dan hiburan lain yang sulit terlupakan oleh generasi tua sekarang ini yang pernah menjalaninya.
Bangunan tua ini tidak hanya menyisakan replika kegagahan menara namun juga tulisan besar “ Pabrik Gula Kalibagor 1839” mengisyaratkan bahwa pabrik ini adalah simbol dari kemakmuran rakyat. Namun simbol kejayaan ekonomi itu terabaikan oleh halaman luas yang kini dipenuhi rumput liar atau bangunan tua yang hanya bisa disinggahi oleh truk besar setiap harinya.
***
“ Jarenne siki ya angker “ dalam bahasa Indonesia katanya sekarang angker. Kutipan ini terngiang saat saya menanyakan bangunan tua ini kepadanya. Bangunan tua yang tidak dihuni hanya menyisakan bangkai-bangkai besar yang tidak terurus. Sesekali memang ada manusia yang berdiri di sekitar pabrik ini, biasanya mereka hanya ngarit, ambil rumput untuk makan ternak.
Mungkin ya begitu kodratnya, saat bangunan lagi tidak terisi sudah jamak muncul di masyarakat bahwa bangunan itu akan menjadi angker atau seram. Hal ini ditambah lagi dengan adanya beberapa makam orang belanda yang dikuburkan di belakang area pabrik. Salah satunya makam pendiri pabrik gula Sir Edward Cooke.
prie dn

Pabrik ini telah menjadi sejarah kejayaan ekonomi dan sebenarnya juga solusi memperbaiki ekonomi rakyat Indonesia yang rendah. Namun hingga detik ini pabrik dahulu sempat menjadi permata telah kusam. Bangunan demi bangunan semakin tidak terurus. Kekokohannya agaknya akan segera rapuh dan hilang. Sejarah barupa bangunan akan hilang dan menyisakan fosil-fosil yang tidak bisa dibagikan kepada generasi mendatang. Jika sudah begini saya sepakat jika sementara baik juga isu angker disematkan untuk pabrik yang berumur hampir 2 abad ini. Setan sendiri mungkin enggan membiarkan bangunan ini koyak tanpa di mamfaatkan. Padahal mungkin dalam sejarah pembangunan dan kejayaannya ada darah rakyat Indonesia yang mati menjadi tumbal akibat keganasan politik kolonial belanda.   

Liburan nang Banyumas : Yuk ke Taman Hexagon


Jangan terpikirkan dengan nama Hexagon sebagai taman yang letaknya di luar negeri. Sebaliknya Taman Hexagon adalah karya lokal khas pedesaan. Taman buatan berada di Desa Petir, Kecamatan Kalibagor, Banyumas, Jawa Tengah tidak jauh dari Kota Purwokerto. Lokasi tempat yang berada di pinggiran pedesaan dengan memamfaatkan sepetak lahan pertanian. Peralihan fungsi dengan menyulap sepetak persawahan ini menjadi lokasi wisata yang murah meriah dan ramah keluarga. Saya menyempatkan datang berkunjung sebagai keluarga kecil ke tempat ini pada hari Minggu 8 Desember 2018 lalu.

Foto Istri tercinta dengan anak tersayang f\prion
Secara bahasa nama Hexagon dalam  yang berarti segienam ini memperlihatkan struktur bangunan yang ada di taman ini. Hexagon yang bisa diabadikan mulai dari bentuk suang/ pondok kecil yang berada di dalam taman hingga penataan bambu yang menjadi lantai dasar  bangunan. Saya rasa bagi yang ingin merasakan destinasi wisata berbeda saat berada di Banyumas, taman hexagon bisa dijadikan pilihan.  

                                                       ***


 Saat pertama kali datang dan menikmati suasana yang ada di sekitar taman hexagon saya menyetujui ungkapan bahwa sudah seharusnya sebuah desa di Indonesia  mampu menunjukan potensinya. Pembudidayaan sebuah desa tidak lagi terletak pada budidaya pertanian maupun perternakan namun juga membudayakan wisata di tempat sendiri. Wisata taman hexagon mungkin contoh yang pas bagi yang sudah pernah, akan, atau mau ke sini.

Pasar Kuna

Awalnya saya sempat mengira bahwa taman hexagon hanya taman tok. Namun ternyata taman hexagon terbentuk bersamaan dengan pasar kuna yang tepat berada di di sampingnya. Bagi yang ingin berkunjung tidak ada salahnya untuk mencoba memasuki dan menikmati sajian yang ada di pasar kuna ini.

“Mbak pinten dawet niki?’ tanya istriku dalam bahasa jawa krama halus
“Niki kale keping bu” jawab si penjual perempuan yang mengenakan batik merah.
Sempat agak kaget dengan istilah dua keping namun akhirnya kembali dijelaskan bahwa dalam pasar kuna ini tidak berlaku menggunakan uang kertas (rupiah) melainkan uang keping. Uang unik ini sebenarnya semacam koin berbentuk bulat namun 2 x lebih besar dari uang koin biasa. Bulatan yang bernama uang keping tersebut terbuat dari batok kelapa kemudian diukir dengan nama uang kuna. Untuk mendapatkan uang keping ini pengunjung dapat menukarkan dengan uang rupiah. Satu uang keping dihargai dengan nilai 2.000 rupiah.
Sajian di sepanjang pasar kuna ini juga tidak menjual makanan modern yang berbungkus plastik. Sebaliknya jajanan maupun makanan yang dijual merupakan makanan khas ngapak baik makanan maupun minuman. Tentu saja setiap sajian yang ada memiliki nilai jual yang berbeda-beda ada yang seharga 2K, 3K, bahkan 5k. Kenikmatan yang ada di pasar ini juga dengan adanya pagelaran seni tari dan musik jawa yang dimainkan oleh penari dan pemusik. Alunan khas ini seolah mengingatkan kita dengan era tempo doloe.
Namun sayang dalam penataan kebersihan dan tempat panggung hiburan agak kurang mengenakan mata. Memang pihak setempat telah menyediakan tempat sampah tapi jaraknya saling berjauhan dengan bangku dan meja pengunjung yang tengah menikmati makanan. Tidak jarang bungkus makanan terbuang dibawah meja. Butuh tenaga lebih memang dalam menjaga kebersihan dan merapian ditengah ramainya pengunjung yang datang, apa lagi dalam momen liburan.


SELAMAT DATANG DI HEXAGON   

Setelah puas menikmati suasana pasar kuna saya dan keluarga kecil lainnya beranjak menuju ke taman hexagon. Usai membayar tiket masuk senilai 5.000 per orang kami mulai memasuki taman yang semua bahan dasar bangunan terbuat dari bambu. Memasuki lokasi wisata ini pun pengunjung bebas menggunakan fasilitas yang ada, salah satunya topi jerami khas pak tani. Topi jerami ini biasa ditawarkan oleh penjaga pintu masuk.


“Matunuwun nggeh mas” ujarku mengucapkan terima kasih usai menerima topi jerami.
Walau tidak terlalu luas, di dalam Taman Hexagon ini terdapat berbagai bangunan kekinian yang bisa dijadikan sebagai objek foto. Salah satunya miniatur menara eifel yang diberi nama menara efring. Miniatur ini memiliki tinggi sekitar 15 meter dan terbuat dari bahan bambu adalah monumen yang menarik pengunjung untuk melihat lebih dekat. Tidak ada pungutan atau retribusi tambahan bagi pengunjung yang hendak menaiki menara efring ini maupun sekedar selfi. Dari atas ketinggian menara efring ini pengunjung akan melihat keramaian sekitar Taman Hexagon baik sekitar taman itu sendiri maupun sekitar pasar kuna yang letaknya bersebelahan.
    Selain Efring, pengunjung bisa juga mengabadikan moment dalam foto maupun video dengan berbagai aksesoris buatan yang di tengah-tengah Taman Hexagon seperti tiruan bunga sakura dengan latar gunung fuji, papan nama dengan berbagai tulisan, atau narsis bersama sepeda ontel. Silakan pilih.   

Puas dengan Menara Efring dan lainnya saya menikmati siang yang panas dengan ngadem di pondok yang diberi nama saung. Pondok bambu dengan ciri bangunan berbentuk hexagon ini menjadi satu-satunya tempat nyantai yang aman dari sengatan matahari. Ngaso  di saung ini kita bisa menikmati angin sepoi dan pemandangan dengan latar Gunung Slamet. Walau tidak serame di pasar kuna yang penuh dengan kuliner tradisional di sini kita juga bisa memesan makanan yang ada cafe hexagon. Menu dengan harga jual yang pas  sehingga tidak harus merogoh kocek terlalu dalam. Aneka menu yang ada di sini diberi harga yang sepantasnya. Seperti memesan es teh dengan tempe mendoan diberi harga 8 ribu saja. Dan memesan di cafe ini tidak sama dengan pasar kuna yang kudu memakai uang kuna, cukup dengan lembaran uang rupiah saja.
Hal terakhir yang saya ingat dari taman ini adalah berbagai permainan tradisional disediakan di pondok tersendiri. Pengunjung bebas memainkan permainan tradisional itu, mulai dari ayunan, engklek, eggrang bahkan memainkan alat musik tradisional. Walau masih kurang lengkap dan banyak setidaknya Taman Hexagon memang dibuat dengan seapik mungkin sebagai taman yang tidak hanya menghadirkan satu macam isi, tapi berbagai isi. Jadi, kapan mau ke sini?



EIDELWEIS PAPUA



“Bunga terbaik yang saya temukan di dataran tinggi ini, di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua bernama Bunga Eidelweis”
Awalnya sih  memang masih diragukan apakah tumbuhan yang saya temukan adalah Eidelweis. Namun setelah melakukan konfirmasi dengan beberapa sumber, akhirnya saya bisa memastikan bahwa flora ini adalah Bunga Eidelweis khas Papua. Flora yang mempunyai nama keren bunga keabadian ini mungkin salah satu tumbuhan yang langkah di sini. Dan, saya menemukannya tumbuh di suatu tempat yang jarang tersentuh manusia.
Sebenarnya, untuk menemukan Eidelweis di sini bukan perkara yang mudah. Sepanjang kota Oksibil yang masih dataran tinggi dan merupakan ibu kota kabupaten Pegunungan Bintang ini ternyata bukan habitat utama pertumbuhan Eidelweis. Letaknya yang berada di ketinggian tidak menjadi jaminan untuk menemukan setangkai kehidupan dari Eidelweis

EIDELWEIS TANPA BUNGA

.
Eidelweis merupakan tanaman khas yang tumbuh di pegunungan dengan tingkat kelembapan dan udara berkategori dingin estrem (dingin sekali). Setiap pegunungan yang dibuka untuk pendaki (hiking) pasti mengetahui hal ini ketika jejak kaki mereka sampai di puncak. Tanaman langkah yang menjadi ikon puncak gunung juga merupakan tanaman terlarang untuk diambil secara sembarangan, namun entahlah jika di Papua ini.   
Kali pertama saya menemukan bunga ini saat saya menjalankan rutinitas mencari sinyal di puncak Kosikin (lihat cerita saya di judul bagai ninja hatori aku mencari sinyal). Petualangan mencari sinyal lantas membawa saya tersentak saat melihat sebuah tumbuhan setinggi 40 cm dan memiliki daun lembut yang berwarna putih. Sepanjang perjalanan Okbape dan Kosikin mungkin ini adalah pertama kalinya saya menemukan tumbuhan ini, Eidelweis.
Saat menemukan pertama kali, saya masih meragukan bahwa tumbuhan ini adalah Eidelweis. Saya melewatkan tumbuhan ini setelah mengambil beberapa foto. Namun saat kembali menemukan tumbuhan lain yang serupa dan berbunga barulah saya melihat bahwa tumbuhan ini memiliki kesamaan dari bentuk bunganya seperti bunga Eidelweis. Seperti aturan pegunungan yang melarang memetik tangkai maupun bunga tersebut, akhirnya saya memilih untuk mengambil keseluruhan tanaman ini, mencabutnya hingga ke akarnya. Kelembapan dan kedinginan udara di kampung Imbot, Distrik Okbape saya rasa bisa memindahkan dan menumbuhkan tanaman ini di sana. Pemindahan tanaman ini dilakukan sembari saya melihat lebih detail tanaman  lebih jauh.
BUNGA EIDELWEIS
Eidelweis Papua secara detail tidak memiliki perbedaan yang mencolok dibanding dengan Eidelweis di beberapa pulau lain (Sumatera dan Jawa). Perbedaan Eidelweis  papua ini terlihat dari  daun serta tangkainya. Jika tangkai dan bunga Eidelweis di pulau luar papua bisa bercabang serta lebih hijau, berbeda sekali dengan bentuk tangkai Eidelweis papua yang menumbuhkan bunga ini hanya dengan satu batang tanpa tangkai bercabang. Dedaunan yang cenderung berwarna putih pekat  sebenarnya bukan warna daun melainkan semacam bulu-bulu halus rapat yang menutupi daun Eidelweis sendiri yang berwarna hijau. Maka saat jari menyentuh daun Eidelweis Papua ini kita akan merasakan lembut dan ketebalan bulu putih yang menutupi daunnya Eidelweis berwarna hijau.
Dalam hal proses tumbuhnya, Eidelweis  Papua berbeda dengan puncak lain dimana terdapat keseragaman Eidelweis yang tumbuh di sekitarnya. Sedangkan di puncak Kosikin,  saya hanya bisa menjumpai tiga batang tanaman ini di sekitar area puncak yang biasa tertutupi oleh kabut jika lewat dari jam 12.00 WITA . Padahal saya sangat berharap untuk menemukan lebih banyak lagi tanaman sejenis yang tumbuh kembang secara bersamaan. Sebagai tanaman khas pegunungan tidak lah berlebihan bahwa tanaman Eidelweis Papua termasuk flora yang tergolong langkah di Kabupaten Pegunungan Bintang. Dan saat tulisan ini ditulis Eidelweis yang saya cabut masih tumbuh di plant bag hitam berukuran sedang di depan rumah, Kampung Imbot. Entah berapa lama lagi saya akan menjumpainya berbunga saya akan menunggunya.
Flora dan fauna yang terdapat di papua merupakan bagian terbaik yang ada di Indonesia. Saya berharap tulisan tentang flora maupun fauna nantinya akan ada kembali.

Tulisan di bawah rumah sederhana Kalibagor 5 Desember 2018
    

Catatan perjalanan : Tempat Pengasinganku adalah Rumahku

( Catatan perjalanan : Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende-NTT ) Perjuangan seperti apa yang bisa dilakukan Dalam keadaan terkucil sep...